
"Nayla kamu belum makan malam kan?" tanya Pak Dharma dalam perjalan menuju ke rumahnya.
"Belum pak" jawab Nayla singkat.
"Ibu saya mengajak kamu untuk makan malam bersama di rumah" jelas Pak Dharma.
"Terimakasih atas undangannya pak" jawab Nayla sambil tersenyum.
Ini pertama kalinya Nayla ke rumah Nenek Ratih. Sejak bertemu dengannya Nayla merasa seperti mempunyai nenek kembali walaupun Nayla sudah lupa rasanya punya nenek.
Mobil berhenti didepan rumah megah dan membuat Nayla sangat takjub. Rumah yang sungguh besar dengan halaman yang sangat luas.
"Jadi gini ya rumah orang terkaya di kota ini" gumam Nayla sambil berdiri mematung didepan pintu gerbang.
"Nayla ayo masuk kenapa kamu diam disana?" tanya Pak Dharma.
"Iya pak" Nayla langsung berjalan mengikuti Pak Dharma dan masuk kedalam rumah.
"Ibu ini Nayla sudah datang" kata Pak Dharma begitu memasuki rumahnya.
"Nayla akhirnya kamu datang juga sayang" kata Nenek Ratih sambil memeluk Nayla.
"Terimakasih sudah mengundang Nayla kesini nek" kata Nayla sambil tersenyum.
"Andai saja nenek punya cucu perempuan pasti sangat menyenangkan" kata Nenek Ratih sambil mencubit pipi Nayla gemas.
"Ibu" kata Bu Dharma.
"Kenapa memangnya kan sudah waktunya kamu mencarikan istri untuk Rendi. Umurnya sudah cukup untuk menikah" kata Nenek Ratih.
"Nyonya makanan sudah siap" kata Asisten rumah tangga.
Nenek Ratih langsung menggandeng Nayla ke ruang makan dan menyuruh Nayla duduk di kursi sebelahnya. Nayla sungguh terharu sudah lama dia tak merasakan makan malam keluarga seperti saat ini.
"Kamu baik-baik saja Nayla?" tanya Pak Dharma yang melihat mata Nayla berkaca-kaca.
"Apa kami membuatmu sedih?" tanya Nenek Ratih.
"Nayla baik-baik saja kok nek cuma Nayla sudah lama tak merasakan makan malam keluarga lagi sejak paman meninggal" jawab Nayla.
"Kalau kamu suka kamu bisa makan malam disini setiap hari menemani nenek" kata Nenek Ratih sambil memegang tangan Nayla.
"Terimakasih nek" jawab Nayla sambil tersenyum.
Didepan Nayla tampak istri Pak Dharma tidak senang dengan kehadiran Nayla. Dia merasa keluarganya sangat berlebihan dalam memperlakukan Nayla. Seorang karyawan kafe yang beruntung menemukan ibu mertuanya dan suaminya mengubah nasibnya dengan menjadikannya sekretaris di perusahaan.
Setelah makan malam Nenek Ratih mengajak Nayla ngobrol berdua di kamarnya. Pak Dharma dan istrinya juga masuk kedalam kamarnya.
"Ibu sungguh keterlaluan" protes Bu Dharma kepada suaminya.
"Maksud kamu apa?" tanya Pak Dharma.
"Sudahlah itu kan memang sudah kewajiban kita membalas kebaikan Nayla yang sudah menolong ibu dan membawanya ke rumah sakit" jawab Pak Dharma sambil melipat surat kabar yang ia baca.
"Tapi sayang gadis itu akan ngelunjak kalau terus-terusan kita perlakukan seperti ini".
"Nayla gadis yang baik dan dia tak akan berubah seperti yang sudah kamu bayangkan".
"Kita lihat saja nanti dan kamu pasti akan mengatakan kepadaku kalau apa yang aku katakan ini benar".
Sementara itu Nayla dan Nenek Ratih sedang asik mengobrol dan berbagi cerita sambil minum secangkir teh.
"Kamu tinggal sendiri sekarang" kata Nenek Ratih.
"Iya nek. Bibi dan sepupuku sudah mengusirku dari rumahnya" kata Nayla sedih harus mengingat kejadian buruk yang harus ia alami.
"Kamu sungguh gadis yang kuat sayang" kata Nenek Ratih sambil memegang tangan Nayla.
"Nayla sudah terbiasa sendirian sejak orang tua Nay meninggal dan hanya paman yang menjaga Nay".
"Sekarang kamu tak perlu takut lagi karna nenek akan menjagamu dan nenek sudah menganggapmu seperti cucu nenek sendiri" Nenek Ratih langsung memeluk Nayla.
"Terimakasih nek".
Tak terasa hari sudah sangat malam dan Nayla pamit kepada Nenek Ratih untuk pulang. Nenek merasa khawatir anak gadis pulang sendiri jam segini sementara supir pribadi keluarganya sudah pulang karna ada urusan.
"Nayla bisa naik taxi kok nek" kata Nayla.
"Jangan Nay sudah malam bahaya kalau kamu naik taxi sendirian" kata Nenek Ratih khawatir.
"Ada apa nek?" tanya Rendi berjalan dari arah ruang makan.
"Kebetulan kamu disini Ren".
"Iya kenapa nek?" tanya Rendi.
"Tolong kamu antar Nayla pulang ya sudah malam bahaya kalau naik taxi sendirian".
"Nggak usah nek Nayla naik taxi saja sungguh tak apa nek" kata Nayla merasa tak enak kalau Rendi harus mengantarnya pulang.
"Ibu benar Nayla kamu pulang sama Rendi aja" tiba-tiba Pak Dharma suda ada dibelakangnya.
"Tapi Pak".
"Nggak ada tapi Nayla sudahlah Rendi juga tak akan keberatan kok" kata Pak Dharma.
"Tunggu sebentar aku ambil kunci mobil dulu" kata Rendi langsung berjalan ke kamarnya dan mengambil kunci mobil.
Entah apa yang Nayla rasakan saat ini. Pulang diantar oleh Rendi yang dikantor adalah bosnya dan anak pemilik perusahaan tempat ia kerja.