Only Nayla

Only Nayla
Kenangan



Nayla merasa sangat sesak. Nayla menangis tanpa suara takut tangisnya terdengar keluar kamarnya. Kejadian yang sungguh diluar dugaannya. Disaat Nayla sudah ikhlas dengan takdirnya dan mulai menata kembali hidupnya, Bibi dan sepupunya itu datang kembali.


"Paman maafkan Nay tapi Nay cuma ingin Bibi dan Dewi bisa hidup mandiri. Nay ingin mereka tak bergantung lagi kepada Nay. Paman tahu ini berat bagi Nay tapi Bibi sudah mengusir Nay dan membuat Nay sakit hati dengan perlakuannya. Maafkan Nay paman sungguh Nay minta maaf" tangis Nayla sambil memeluk foto almarhum pamannya.


Karna kejadian ini Nayla sampai lupa kalau Rendi akan menelponnya saat dia sudah tiba di rumah. Ponselnya berdering berkali-kali tapi Nayla tak menggangkan satupun panggilan dari Rendi.


"Katanya minta ditelpon kok nggak diangkat. Apa dia udah tidur ya" gumam Rendi sambil menelpon Nayla.


____________


Haripun berganti, Nayla kembali kerutinitasnya. Nayla sudah terbiasa bangun pagi dan hari ini Nayla malah bangun lebih pagi lagi dan langsung berangkat ke kantor. Nayla sengaja tak ingin bertemu dengan Bibi dan Dewi.


Hidup memang berat bagi Nayla. Nayla harus kehilangan kedua orang tuanya secara bersamaan dan tinggal dengan pamannya. Kasih sayang pamannya tak beda dengan orang tuanya tapi Bibinya selalu memperlakukannya berbeda seolah anak tiri.


Flashback


"Paman lihat Nayla juara kelas lagi paman. Nilaiku sempurna semua. Bibi lihatlah aku juara lagi" kata Nayla sambil menunjukkan rapornya kepada Paman dan Bibinya.


"Wah paman bangga sekali kepadamu nak" kata Paman sambil tersenyum dan melihat nilai rapor Nayla.


"Kenapa cuma Nayla yang kamu perhatikan lihat Dewi dia anakmu juga kenapa hanya Nayla yang kamu banggakan" protes Bibi.


"Dewi harus bisa mencontoh Nayla, dia sekolah sambil bekerja tapi tetap jadi juara" kata Paman membela Nayla.


"Maafkan Nayla paman harusnya Nay diam saja" kata Nayla tertunduk sedih.


"Sudahlah sayang tak usah pikirkan perkataan bibimu dia cuma iri dengan kamu karna Dewi tak pernah mendapat juara" kata Paman sambil mengusap punggung Nayla.


Flashback off


Nayla menatap keluar kaca bus dengan pandangan kosong. Dia tak menyangkan hidupnya akan kacau kembali. Nayla tak ingin kejadian kemarin merubah moodnya dan jangan sampai Rendi tahu keadaannya.


Nayla baru sadar dan melihat ponselnya. Ponselnya mati kehabisan daya. Dan sampai kantor Nayla mengisi daya ponselnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang" kata Nayla sambil meletakkan kepala di meja kerjanya.


Nayla yang datang pagi-pagi membuatnya merasa mengantuk. Meletakkan kepala di meja dan tak terasa Nayla tertidur. Rendi yang juga datang lebih pagi karna ada pekerjaan yang harus dia selesaikan kaget melihat Nayla tampak tertidur di meja kerjanya.


Rendi yang berniat menyelesaikan pekerjaannya malah duduk disamping Nayla. Memandangi wajah Nayla yang tertidur seperti bayi. Sambil tersenyum Rendi menatap kekasihnya yang sedang tertidur.


"Apa yang membuatmu datang sepagi ini dan malah tertidur disini" kata Rendi sambil membetulkan rambut Nayla yang menutupi wajahnya.


Pemandangan pagi hari yang menyenangkan bagi Rendi. Saat tak ada seorangpun di kantor dan bisa dengan bebas memandang wajah pujaan hatinya. Rendi bisa melihat kesedihan di wajah Nayla tapi Rendi tak akan bertanya kalau Nayla tak menceritakannya sendiri.