Only Nayla

Only Nayla
Ternyata Dia



Nayla menjalani hari seperti biasa walaupun dalam hatinya masih ada ketakutan untuk bertemu dengan pria asing.


"Pak apa boleh untuk sekarang ini saya di kasir saja?" tanya Nayla kepada pemilik kafe.


"Baiklah kalau itu bisa membantumu saya tak keberatan" jawab pemilik kafe.


"Terimakasih pak" jawab Nayla dengan tersenyum.


Mungkin dengan menjadi kasir sementara Nayla bisa mengatasi masalahnya. Nayla masih trauma setelah kejadian yang menimpanya saat dia bekerja di hotel.


"Nay kamu istirahat dulu biar aku yang gantiin" kata Ratna.


"Kamu udah selesai istirahatnya?" tanya Nayla.


"Sudah Nay. Udah gih sana kamu istirahat dulu" kata Ratna sambil menarik Qiara untuk beranjak dari tempat duduknya.


Nayla pergi ke rest room untuk makan siang dan sholat. Nayla masih berusaha untuk mencari pekerjaan tetap karna Nayla juga berhutang kepada Ratna. Nayla memasukkan beberapa lamaran lewat email.


Setelah selesai istirahat, Nayla kembali ke kafe dan menggantikan posisi Ratna. Saat Nayla mulai bekerja Nayla melihat nenek yang dia tolong datang bersama keluarganya ke kafe tempatnya bekerja.


"Nenek" kata Nayla menyapa.


"Maaf kamu siapa? Apa kamu kenal dengan ibu saya?" tanya lelaki paruh baya yang sepertinya putra Nenek yang Nayla tolong.


"Oh maaf pak saya Nayla. Saya beberapa hari lalu menemukan nenek pingsan dijalan dan saya juga yang membawa nenek kerumah sakit" jelas Nayla.


"Oh jadi kamu yang sudah menolong ibu mertua" kata menantu nenek itu.


"Syukurlah aku bertemu denganmu nak. Terimakasih sudah menolong dan membawa saya ke rumah sakit" kata Nenek sambil memegang tangan Nayla.


"Sama-sama nek kan sudah kewajiban kita sesama manusia untuk saling menolong" jawab Nayla sambil tersenyum.


"Sekali lagi terima kasih" kata putra nenek.


Nayla tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengamatinya tanpa berkedip. Ya itu Rendi laki-laki yang menolongnya waktu itu. Rendi merasa bahwa takdir memang berpihak kepadanya. Rendi akhirnya bisa bertemu lagi dengan Nayla.


"Jadi dia Nayla yang sudah menolong Nenek" gumam Rendi.


"Kamu kenapa Ren kok dari tadi diem aja sih" tanya Mama Rendi.


"Rendi nggak papa kok Ma" jawab Rendi.


"Ibu sangat berhutang budi kepada gadis itu Dharma. Apa tak ada yang bisa kita lakukan untuk membalas kebaikan gadis itu?" tanya Nenek kepada putranya.


"Entahlah ibu nanti Dharma akan bicara dengan sekertaris di kantor" jawab Dharma.


Nayla bekerja dengan penuh senyuman. Apalagi dia menjadi kasir harus selalu ramah dengan tamu yang sudah datang ke kafe.


"Terima kasih atas kunjungannya semoga kami tidak mengecewakan anda" kata Nayla sambil menyerahkan kartu kredit kepada Pak Dharma.


"Nayla panggil saya Nenek Ratih mulai sekarang" kata Nenek Ratih.


"Baik Nek semoga Nenek Ratih sehat selalu ya" kata Nayla.


"Ini kartu nama saya Nayla dan saya mau kamu datang ke kantor saya besok" kata Dharma sambil menyerahkan kartu namanya.


"Tapi pak"


"Datanglah Nayla mungkin Dharma bisa membantumu nak dan cuma ini yang bisa saya lakukan sebagai ucapan terimakasih atas apa yang sudah kamu lakukan untuk saya" pinta Nenek Ratih.


"Baiklah kalau itu bisa membuat nenek senang" kata Nayla sambil tersenyum.


Rendi cuma bisa melihat Nayla dan dia juga merasa bahwa Nayla memang tak mengingatnya.


"Ternyata dia memang tak mengingatku tapi apa yang harus aku lakukan sekarang? Dia sangat mengganggu pikiranku" gumam Rendi.