Only Nayla

Only Nayla
Diam-Diam



Hari ini seperti biasa Nayla kembali ke rutinitas hariannya. Bekerja lagi. Tapi ada yang beda sekarang Nayla dan Rendi sudah resmi berkencan walaupun Nayla masih merahasiakan hubungannya dengan Rendi.


"Pagi sayang" kata Nayla sambil masuk ke dalam mobil.


"Pagi sayang" kata Rendi sambil tersenyum.


"Kok jemput aku sih tar kalau ada yang lihat gimana?".


"Tenang aja sayangku nggak ada yang liat kok".


"Yuk berangkat tar terlambat".


"Baik tuan putri".


Rendi yang masih merasa kasmaran tak bisa membendung rasa sayangnya kepada Nayla. Sampai-sampai dia selalu merindukan Nayla. Padahal mereka sudah sepakat untuk merahasiakan dulu hubungannya tapi Rendi pagi ini malah menjemput Nayla dan berangkat bareng ke kantor.


"Aku turun di halte depan aja sayang tar ketahuan kalau kita datang bareng" kata Nayla sambil mengamati sekitar.


"Kamu yakin turun disana? masih agak jauh lho dari kantor?".


"Nggak usah lebay deh kan aku biasanya juga turun disana dan berjalan ke kantor" kata Nayla sambil membuka pintu mobil dan segera turun.


"Sampai ketemu di kantor ya".


Nayla berjalan dari halte ke kantor agar tak ada yang tahu kalau Nayla berkencan dengan Rendi. Sementara Rendi begitu sampai kantor malah menunggu Nayla di depan lift.


"Kok kamu disini sih" kata Nayla kaget.


"Aku cuma mau mastiin aja kamu sampai kantor dengan selamat" kata Rendi sambil mengusap kepala Nayla.


"Kan aku udah biasa jalan dari halte ke kantor" kata Nayla sambil tertawa.


"Biarin aja kan sekarang kamu pacarku jadi aku mau khawatirin kamu" jawab Rendi.


"Ya udah aku masuk duluan dan tunggu sampai 10 menit baru kamu masuk" kata Nayla tegas.


Nayla masuk sambil merapikan rambutnya dan berusaha bersikap tenang.


"Pagi Nay" jawab Pak Hendra.


"Hari ini kamu ceria banget pasti ada sesuatu neh" kata Pak Rudi.


"Apaan sih Pak Rudi biasa aja kok nggak ada apa-apa" jawab Nayla malu-malu.


"Tu kan Nayla mukanya merah Pak Hendra" goda Pak Rudi.


Rendi yang masuk dan melihat Nayla digoda oleh rekannya tampak sedikit kesal.


"Nayla kamu ke ruangan saya sekarang" kata Rendi sambil berjalan ke ruangannya.


"Aduh gawat Nay kamu harus hati-hati Pak Rendi kelihatannya sangat kesal" kata Pak Rudi mengingatkan Nayla.


Nayla bergegas ke ruangan Rendi. Sebelum masuk Nayla mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Masuk" jawab Rendi dari dalam ruangannya.


Nayla masuk dan melihat Rendi tampak kesal. Rendi yang duduk di kursi langsung berdiri dan meraih tangan Nayla sambil duduk di meja.


"Lepasin sayang nanti ada yang lihat kan kamu udah janji sama aku kalau kita pacaran diam-diam dulu" kata Nayla sambil berusaha melepaskan tangannya.


"Tapi aku nggak suka ya kamu terlalu dekat dengan Pak Rudi. Lebih baik kita bilang aja kalau kira pacaran" kata Rendi yang masih memegang tangan Nayla.


"Trus aku yang harus siap dengan tatapan-tatapan aneh dari semua karyawan disini gitu?" kata Nayla sedikit kesal.


"Tapi aku juga nggak suka kalau ada laki-laki yang dekat sama kamu".


"Oh jadi cemburu neh ceritanya" kata Nayla sambil tersenyum.


"Emangnya kenapa kalau aku cemburu? Nggak boleh aku cemburu? Kan kamu pacarku" kata Rendi mulai kesal.


"Ih pacarku lucu banget sih kalau lagi cemburu gini" kata Nayla sambil memegang kedua pipi Rendi dengan gemas.


Tanpa aba-aba Rendi langsung mencium bibir Nayla dan Nayla juga membalas ciuman Rendi. Mereka lupa kalau ini kantor dan tampaknya mereka terbawa suasana terlebih Rendi yang sedang cemburu. Rendi seolah takut kehilangan Nayla. Takut kalau Nayla tertarik dengan pria lain.