Only Nayla

Only Nayla
Gadis yang kuat



Perlakuan dari sang bibi membuat Nayla tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat mandiri. Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama Nayla sudah bekerja paruh waktu. Nayla mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya kelak karna bibinya tak akan mengijinkannya untuk kuliah. Hanya Dewi yang akan kuliah dan cuma Dewi yang akan ditanggung biaya kuliahnya.


Namun hal yang sangat berbeda dilakukan Pamannya, secara diam-diam paman mengumpulkan sedikit dari gajinya untuk diberikan kepada Nayla. Paman tak bisa berbuat banyak karna bibi selalu mengontrol keuangan pamannya.


"Paman, Nay berangkat dulu ya" pamit Nayla sambil mencium tangan pamannya.


"Kamu nggak sarapan dulu Nay?" tanya Paman.


"Nggak usah paman hari ini Nayla ada interview takut telat" jawab Nayla.


"Bagus lah kalau kamu nanti sudah kerja nggak akan jadi beban di keluarga ini lagi" kata Bibi dengan nada sinis.


"Kamu ini mau sampai kapan memperlakukan Nayla seperti ini" bentak paman sambil membanting sendok ke meja.


"Sudahlah paman Nayla nggak papa kok doakan Nayla dapat kerjaan ya paman biar Nayla bisa membalas semua jasa paman dan bibi selama ini" kata Nayla sambil tersenyum.


"Hati-hati nak paman doakan interviewnya lancar ya" kata Paman sambil mengusap kepala Nayla.


"Assalamualaikum" Nayla berlalu dari hadapan paman dan bibinya.


Nayla berjalan dengan penuh semangat. Nayla pergi menggunakan angkutan umum. Berjalan sambil menikmati udara pagi yang masih segar membuat Nayla bisa bernafas lega. Sesampainya di halte bus Nayla duduk sambil menunggu bus datang sambil sesekali Nayla melihat jam tangan.


Tak lama bus pun datang dan Nayla segera naik dan mencari kursi kosong. Nayla duduk dipinggir dan membuka jendela bus. Angin sepoi-sepoi masuk kedalam. Nayla sengaja mendekatkan wajahnya ke jendela dan membuat wajahnya terkena angin.


Setelah 20 menit perjalanan Nayla sampai juga di depan perusahaan tempatnya interview. Nayla berjalan dengan penuh keyakinan dan semangat.


"Mbak untuk interview bagian administrasi disebelah mana ya?" tanya Nayla kepada resepsionis perusahaan.


"Oh mbak naik aja ke lantai 3" jawab resepsionis.


"Terimakasih mbak".


Nayla berjalan menuju lift dan memencet tombol naik pada lift. Tak lama lift terbuka dan Nayla langsung menuju ke lantai 3. Tampak disana banyak sekali pelamar yang sudah menunggu untuk dipanggil interview. Melihat banyaknya pelamar yang menunggu membuat Nayla sedikit grogi.


Nayla duduk di kursi kosong sambil menunggu giliran interview. Nayla menunggu sambil membaca buku tentang administrasi perkantoran untuk memperdalam lagi ilmunya.


Nayla berdiri dari tempat duduknya sambil menarik nafas panjang. Nayla masuk kedalam ruangan interview dan sudah ada empat orang yang akan menginterviewnya.


"Selamat pagi Nayla"


"Selamat pagi pak"


"Saya harap kamu nggak usah terlalu gugup ya"


"Iya pak maaf apa sangat kelihatan ya kalau saya gugup?"


"Baiklah kita mulai interviewnya sekarang"


"Misalkan satu perusahaan baru berdiri dan termasuk perusahaan perorangan menurut kamu apa langkah pertama yang harus pimpinan perusahaan itu lakukan?"


"Menurut saya yang harus pimpinan lakukan adalah menata keuangan terlebih dahulu jadi harus ada staf untuk mengurusi pendapatan dan pengeluaran perusahaan dan paling penting untuk tidak mencapur antara rekening pribadi pemilik dengan operasional perusahaan" jawab Nayla dengan lancar dan penuh percaya diri.


Nayla menjawab setiap pertanyaan dengan sangat lancar tapi masih ada interview lanjutan langsung dengan pimpinan perusahaan. Dari pelamar yang interview hari ini akan dikerucutkan lagi menjadi 5 orang yang akan langsung interview dengan pimpinan perusahaan. Dan Nayla cuma bisa berdoa namanya yang akan terpilih menjadi salah satu dari kelima orang yang akan interview lanjutan dengan pimpinan perusahaan.


Setelah interview Nayla langsung menuju ketempat kerja paruh waktunya. Nayla bekerja di sebuah cafe. Nayla langsung berganti baju dan segera bertukar shif dengan temannya.


"Maaf ya Ratna aku repotin kamu lagi" kata Nayla sambil mengampiri Ratna di meja kasir.


"Kamu ini apaan sih kok ngomong kayak gitu? Gimana lancar nggak interview kamu hari ini?" tanya Ratna.


"Alhamdulillah aku bisa jawab semua pertanyaannya tapi tadi banyak banget yang interview Rat dan akan ada 5 orang yang terpilih untuk interview langsung dengan pimpinan perusahaan" jelas Nayla.


"Tenang aja Nay rejeki sudah ada yang ngatur kok jadi kamu harus yakin ya" kata Ratna menyemangati Nayla.


"Ya udah kamu pulang aja biar aku lanjutin sekarang" kata Nayla.


"Aku balik dulu ya Nay" pamit Ratna.


"Ya hati-hati" kata Nayla.