
Rendi dan Nayla tampak sangat kasmaran sampai mereka tak menyadari ada sepasang mata yang mengamati mereka dari balik jendela.
Pak Rudi terbelalak melihat bos dan rekannya berciuman. Kakinya membeku dan bibirnya mengangga saking kagetnya. Dengan memegang tembok Pak Rudi kembali ke meja kerjanya. Sementara Pak Hendra langsung berlari memegang Pak Rudi yang tampak tak punya tenaga untuk berjalan.
"Kamu kenapa kok jadi begini sih?" tanya Pak Hendra sambil membantu Pak Rudi duduk di kursinya.
"Pak Hendra tak akan percaya dengan apa yang aku lihat barusan" jawab Pak Rudi masih lemas.
"Kamu lihat hantu ya?".
"Ini lebih menakutkan dari hantu pak".
"Pasti tuyul ya".
"Lebih serem lagi pak".
"Ah berarti kamu habis lihat penampakan cewek cantik kan pantesan kamu sampai lemes gini soalnya ceweknya jadi-jadian kan?" kata Pak Hendra sambil tertawa.
"Lebih baik Pak Hendra lihat sendiri ke ruangan Pak Rendi" kata Pak Rudi sambil meletakkan kepalanya ke meja kerjanya.
Pak Hendra yang penasaran akhirnya berjalan keruangan Rendi dan mengintip dari jendela. Pak Hendra yang kaget langsung berlari kembali dan memukul pundak Pak Rudi.
"Nayla dan Pak Rendi" kata Pak Hendra sambil memukul pundak Pak Rudi.
"Aduh sakit Pak kok malah dipukul sih" protes Pak Rudi.
"Ada apa ini kok kalian seperti orang bertengkar?" tanya Pak Dharma yang baru datang ke kantor.
"Oh biasa Pak ini Pak Rudi bikin saya kesel" kata Pak Hendra sambil pura-pura tertawa.
"Iya Pak kita cuma bercanda kok biar nggak tegang" kata Pak Rudi menimpali.
"Ya sudah lanjutkan pekerjaan kalian saya masuk dulu" kata Pak Dharma sambil tersenyum kepada kedua karyawannya.
Sementara diruangan Rendi, Nayla masih tampak nyaman berada di pelukan Rendi. Rendi masih menahan Nayla diruangannya karna dia masih ingin memeluk kekasihnya.
"Aku kerja lagi ya takut Pak Hendra dan Pak Rudi curiga" kata Nayla sambil melepaskan pelukan Rendi.
"Baiklah tapi janji ya nanti kita makan siang berdua" kata Rendi sambil mencium pipi Nayla.
"Iya sayangku. Udah ah nanti ada yang masuk" kata Nayla sambil berjalan keluar ruangan Rendi.
"Nanti aku tunggu di mobil ya" kata Rendi.
Nayla kembali ke meja kerjanya dan dia merasa kedua rekan kerjanya tampak aneh. Nayla duduk di meja kerjanya sambil melihat Pak Rudi dan Pak Rudi menghindari tatapan Nayla begitu juga saat Nayla melihat Pak Hendra.
Karna merasa ada yang aneh akhirnya Nayla memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada mereka berdua.
"Pak Rudi dan Pak Hendra kenapa kok aneh gitu?".
"Apa yang aneh Nayla kita biasa aja kok" jawab Pak Hendra.
"Udah deh jujur aja sama Nayla kenapa kalian tiba-tiba diem aja".
"Kamu yang mulai membuat rahasia kenapa kita yang harus bicara" kata Pak Rudi sinis.
"Maksud Pak Rudi apa?" tanya Nayla penasaran.
"Aku melihat semuanya Nayla" jawab Pak Rudi.
"Pak Rudi lihat apa?" Nayla makin penasaran.
"Apa yang kamu dan Pak Rendi lakukan diruangannya barusan" jawab Pak Rudi.
"Jadi kalian sudah tahu kalau aku" Nayla tak jadi melanjutkan kata-katanya dan duduk kembali di kursinya.
"Kamu tenang aja Nayla kami bisa menjaga rahasia kok" kata Pak Hendra menenangkan.
"Maafkan saya Pak Hendra dan Pak Rudi itu terjadi begitu saja. Saya juga masih takut kalau hubungan saya terungkap akan jadi masalah besar dalam keluarga Pak Rendi" cerita Nayla sedih.
"Kalau kalian saling cinta harus berjuang dong jangan lembek gini" kata Pak Rudi.
"Kamu tenang saja Nayla karna Pimpinan itu orang yang sangat bijaksana jadi kamu tak perlu khawatir" tambah Pak Hendra.
"Tapi tetap saja Pak akan jadi masalah karna kita sangat berbeda" kata Nayla.
"Karna kita akan menjaga rahasia kalian jadi kamu harus traktir kita makan" kata Pak Rudi penuh semangat.
"Baiklah saya akan mentraktir kalian makan malam" jawab Nayla sambil tersenyum.
"Ajak Pak Rendi juga" tambah Pak Rudi.
"Baiklah karna Pak Rendi juga harus tahu kalau kalian sudah tahu rahasia kita berdua".