
"Lho, tuan Aiden. Anda mau kemana?" Tanya nona Stefanie yang sama sekali tak dihiraukan oleh Paman.
Dengan sigap, paman mengejarku hingga keatas, tidak memedulikan pandangan orang.
"Ada apa sebenarnya dengan mereka berdua? Mengapa sepertinya aku melihat seorang pria yang kepergok selingkuh dengan wanita lain di belakang wanitanya? Lihat Aiden, dia begitu sigap saat Emilia tiba-tiba lari keatas. Lalu, Mila pula kenapa tanpa sebab dia lari ke kamarnya?" Ibunda menghujani ayah dengan berbagai pertanyaan, namun ayah hanya diam mengangguk kepadanya.
"Ayah, kok ga di jawab sih!" Protes bunda saat tidak mendapatkan jawaban apapun dari suaminya.
"Ayah harus jawab apa? Tapi, sebaiknya kamu jangan negative thinking dulu. Mungkin saja Aiden sangat peduli dengan Mila sebagai keponakannya saja. Sudah, jangan dipikir lagi. Mari kita berdansa," ucap Ayah.
"Walau aku ingin menepis pikiran ini dan menganggapnya seperti yang kamu ucapkan, namun tetap saja aku tidak bisa membohongi firasatku sendiri sebagai seorang ibu,mas," Batin Ibunda.
Sedangkan itu, di lantai atas...
"Mia, tunggu!" Pekik Paman yang menyusulku dengan cepat. Dengan tubuhnya yang tinggi, dan langkahnya yang begitu cepat, Paman mampu mengejarku. Dia menangkap tanganku, lalu memelukku dengan erat.
Aku menyeka air mataku sebelum dia melihatnya.
"Mengapa paman menyusulku? Kasihan kan nona Stefanie," ucapku sambil menahan tangis.
"Itu bukan urusanku. Dan lagi,kamu jangan kira aku tidak tahu. Kamu sedang menangis,bukan?" Tanya Paman menebak dengan tepat.
Paman melepas pelukannya, menakup wajahku dan menghadapkan padanya.
"Udah. Jangan nangis lagi. Ini memang salahku," ucap Paman lirih seakan merasa bersalah.
Aku memegangi tangannya yang besar. "Tapi paman, bukannya memang seharusnya begini?"
"Maksudmu?"
"Ya. Paman dengan nona Stefanie bukan dengan Mia. Bagaimana pun paman adalah saudaraku. Kita tidak seharusnya memiliki hubungan. Ini menyimpang,paman."
Kini tangan besarnya beralih pada kedua tanganku. Pria itu berlutut di hadapanku.
"Ya, aku tahu aku salah. Tapi, setelah malam itu, jujur saja aku sama sekali tidak bisa lupa. Mia, kau harus mengerti paman," ucapnya.
"Mia ngerti paman, tapi apakah kita harus melanggar norma yang ada? Apakah kita akan melawan takdir?" Pekikku sedikit keras.
Paman hanya terdiam. Aku perlahan menarik tanganku darinya. "Paman, lebih baik, kita sekarang sendiri sendiri saja dulu. Aku tidak menginginkan hubungan yang lebih dari keponakan dan paman denganmu." Aku masuk ke dalam kamarku, meninggalkannya seorang diri yang masih bergeming disana. Aku menatapnya dari balik jendela dan melihatnya masih meratapiku di depan kamarku.
"Maafkan aku, paman. Tapi, hubungan kita ini salah. Aku tidak menginginkan suatu hari nanti, kita mendapatkan bencana. Aku tahu anak ini seharusnya mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari Ayahnya. Namun, aku masih belum
sanggup memberitahukan fakta ini kepadanya."
Beberapa saat kemudian...
Paman mulai turun lagi ke bawah. Bukan untuk menemui Stefanie ataupun gabung dengan mereka. Dia mengerti aku belum makan apapun malam ini.
"Aiden, ada apa denganmu? Mengapa kau terlihat lesu?" Tanya nenek.
"Saya tak apa," jawabnya singkat.
"Lalu, bagaimana keadaan Mila? Apakah dia baik-baik saja?" Tanya ibunda.
"Dia juga baik."
"Baguslah. Kalau begitu, mengapa kau tidak ajak dia untuk bergabung?"
"Dia bilang dia tidak enak badan. Dia ingin tidur," jawab Aiden berbohong.
"Baiklah, ayo kita lanjut makan," ajak nenek.
"Tidak. Saya akan bersama Mia," Balas Aiden.
"Hummm..." Nenek berdiri dan berjalan mendekati Aiden. "Ada Stefanie disini, ada Lena juga. Apakah kamu akan meninggalkan mereka begitu saja?" Bisik nenek.
"Maaf, itu bukan urusanku. Permisi." Paman Aiden membawa sebuah nampan berisikan beberapa potongan buah, dua porsi untukku dan dirinya, dua gelas minuman serta dessert yang telah dimasak hari ini untuk mereka.
Paman telah tiba di depan kamarku. Saat itu, aku lupa mengunci pintu kamarku dan pria itu langsung menerobos masuk tanpa permisi.
Kriekkk...
Aku yang saat itu tengah asyik mengaduk segelas susu untuk ibu hamil, lalu mengalihkan pandanganku kepadanya.
"Paman?!" Pekikku terkejut.
"Pa-paman, untuk apa anda kesini?" Tanyaku.
Aku termangu oleh kedatangannya yang tiba-tiba. Tidak, bukan itu masalahnya. Aku lupa menyembunyikan barang yang ada disampingku itu.
Mata pria itu langsung tertuju pada sebuah kotak susu bewarna putih, ungu yang berada di atas. Dengan sigap, pria itu langsung meletakkan makanan ditangannya di atas meja di depannya.
"Apa ini?" Pria itu menyabet kotak tersebut dan membacanya dengan saksama.
"Ga sopan!" Pekikku sambil menyaut benda tersebut dari tangannya.
"Kamu... kamu hamil?" Tanya Paman tercengang.
"Apa sih? Mana mungkin aku... hamil. Sama siapa?" Aku berpura-pura bodoh di depannya.
"Susu itu?"
"Susu? Itu susu biasa lah."
"Emilia Zhao, kau pikir aku anak kecil yang belum bisa membaca?" Paman semakin mendekat ke arahku, membuatku terduduk kembali. Pria itu mengunciku diantara tubuhnya dan meja belajar milikku
"Iya! Aku hamil. Puas?!" Pekikku di wajahnya yang hanya berjarak beberapa senti dariku.
"Apakah dia milikku?" Tanya Paman.
Aku terdiam untuk waktu yang lama. Tanpa ku sadari, air mata ini menetes begitu saja. Aku mengalihkan pandanganku dari sorot matanya. Jujur, aku masih bingung harus menjawabnya apa.
"Mia, kau punya mulutkan? Jawab!" Dia menyentakku begitu keras. Aku terkejut bukan kepalang.
"Iya! Dia milikmu, anakmu," jawabku tegas.
Aku paling benci saat seseorang menyentakku. Hal tersebut membuat sorot mataku berubah menjadi amarah, namun berbeda dengannya.
"A-aku..." pria itu merenggangkan cengkramannya dan mulai menjauh dariku. Aku kebingungan dengan ekspresinya itu. Ekspresi yang sama sekali tak ku harapkan. Namun, aku telah mempersiapkan mentalku jika pria itu tidak mau mengakuinya.
"Aku akan menjadi ayah? Apakah aku bermimpi?" Dia bertanya begitu antusias.
Aku terkejut untuk kesekian kalinya. Ekspresi apa itu? Aku bahkan tidak menduga dia akan begitu bahagia.
"Aku... Mia, tampar aku," ucapnya.
"Hah? Gila kali. Aku tidak mau menjadi anak kurang ajar," Celetukku terkejut.
"TAMPAR AKU!" Titahnya tegas.
Plakkk...
Aku melakukan yang dia perintahkan. Tentu saja, ada rasa lega sekaligus memanfaatkan keadaan dengan melakukan hal yang selama ini ingin aku lakukan.
"Auhh sakit. Jangan kencang- kencang lah!" Protesnya.
"Yee. Dia sendiri yang nyuruh nampar, sekarang malah protes. Aneh," ucapku menyinyir kepadanya.
"Aku... ga mimpi dong. Aku akan punya anak. Aku akan jadi seorang Ayah," ucapnya begitu antusias.
Aku berdiri dan memegang dahinya.
"Anda gila ya? Dimana-mana, pria itu malah terkejut dan tidak mau mengakui anaknya. Anda? Anda malah sepertinya sangat ingin memiliki anak. Anda juga adalah seorang pengusaha dan memiliki anak itu tidak semudah yang anda pikirkan," ucapku kepadanya.