One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 6: Perjodohan untuk Paman



"Bodoh! Kau bodoh, Mila! Bagaimana kau bisa lagi dan lagi terlena akan dirinya? Dia adalah pamanmu! Sadar Mila , sadar!" Batinku.


Aku tertidur setelah puas mengutuk diriku sendiri sambil menangis.


Keesokan harinya...


Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aku benar-benar tidak berharap dapat bertemu dengannya pagi ini ,namun sepertinya itu tidak mungkin.


"Pagi, nek. Pagi kakek, ayah, mama," ucapku menyapa semua orang.


"Tumben sudah wangi. Biasanya harus nungguin mama teriak dulu baru kesini," ucap ibunda.


"Hehe gapapa ma. Lagi pengen rajin aja."


Aku mengambil dua lembar roti tawar. Tak lupa aku mengoleskan selai strawberry favoriteku yang telah tersedia di meja. Tidak lama setelah aku turun, paman pun turun dengan pakaian yang sudah rapi, kemeja hitam dan tersampirkan pula jas hitam di pundaknya serta wangi parfume yang begitu menggoda. Jujur saja, aku serasa disihir olehnya.


Pagi ini, paman mulai menampakkan wujud aslinya. Dia hanya tersenyum tipis saat menyapa semuanya, langsung duduk dan menyantap sarapannya tanpa sepatah keluar dari mulutnya. Aku diam-diam memperhatikan tingkah aneh dirinya pagi ini.


"Kamu kenapa? Tumben diam? Perasaan semalam kamu ceria sekali," ucap ibunda yang juga menyadari keanehan paman pagi ini.


Paman masih bungkam. Dia mengunyah makanannya hingga suap terakhir.


"Ayah, ibu, kakak, kakak ipar, aku pergi dulu."


Pria itu bangkit dari kursinya. Semua orang menatap kepergiannya. Entah mengapa hatiku merasa bersalah, saat melihat langkahnya semakin menjauh.


Sedangkan bi Rena menatap kami bergantian dengan tatapan jijik yang tidak dapat diekspresikan.


"Ada apa sebenarnya dengan semua orang? Bi Rena tidak biasanya selalu menatap Aiden dan Emilia seperti itu. Mila juga tiba-tiba bangun pagi dan sekarang Aiden pun pergi tanpa kata?"


"Mila, jangan berbohong pada mama. Apa yang sudah terjadi?" Tanya ibunda menyelidik.


"Ti-tidak ada yang terjadi. Mila kan sudah bilang kalau Mila memang sengaja mau berangkat lebih pagi. Kalau paman sama bibi, aku tidak tahu," jawabku.


"Maafkan aku,ma. Aku tidak bisa berkata yang sesungguhnya," Batinku.


"Ya sudah. Oh ya, Annchi. Aku sudah mengundang Alena untuk mampir kemari. Kata Lena, dia baru saja pulang dari Aussie," ucap nenek.


"Hummm. Boleh tuh. Sekalian kita adakan pesta kecil-kecilan untuk keluarga kita."


...*...*...


Aku telah tiba di kampus saat ini. Saat aku hendak beranjak dari parkiran mobil, seseorang menarik tanganku.


"Hai," sapanya.


"Paman! Ngapain paman disini sih? Kenapa dimanapun aku berada harus ada paman sih?" Tanyaku sedikit melayangkan protes.


"Bukankah aku sudah mengatakan kalau kau adalah canduku?"


"Paman sudah benar-benar gak waras! Minggir!" Pekikku sambil setengah mendorongnya.


Namun, usahaku lagi dan lagi sia-sia. Dia malah mendekapku erat dalam mobilnya dan membuatku terduduk dalam pangkuannya.


"Biar aku menikmati wangi tubuhmu sebentar," ucapnya.


"Kapan aku bisa terlepas dari pria gila yang mesum ini?!" Batinku.


"Astaga Aiden. Mengapa kau semakin kesini semakin menggila kepadanya? Apakah aku harus melawan takdir atau aku harus menerima fakta bahwa dia adalah keponakanku?" Batin Aiden.


Perlahan, pria itu mulai mengendurkan pelukannya.


"Ma-maaf."


"Tidak, aku harus bisa lebih mengontrol diriku. Aku tidak mau lagi merusak keponakanku sendiri," Batin Aiden.


"Apa dia bilang? Maaf? Wow. Aku tidak sedang bermimpi bukan?" Batinku.


Seseorang mengetuk jendela mobil Aiden disana. Aku dan Aiden keluar bersamaan. Ku dapati Cindy telah berdiri disana.


"Ahem. Siapa ya yang kemarin bilang tidak kenal, namun nyatanya malah masuk ke mobilnya," ucap Cindy.


"Apa sih,Cin? Aku tidak berbuat apa-apa," jawabku mengelak.


"Oh ya kenalin ini pamanku. Paman, ini adalah Cindy, sahabatku."


"Lu serius itu paman lu?" Bisik Shani.


"Mila, mari ikut aku," ucapnya.


Cindy menarik tanganku menjauh dari pria itu. Pria itu menyeringai sebelum dia pergi ke proyek pembangunan gedung baru di kampusku.


Beberapa saat kemudian...


"Jelasin ke gue sekarang. Dia beneran paman lu? Atau paman-pamanan?" Tanya Cindy serius.


"Pamanku beneran lah. Mana ada paman-paman an," jawabku.


"Dia tidak melihat pria itu memeluk dan menciumi tubuhku,kan?" Batinku.


"Banyak sih paman-paman an."


"Aku juga baru mengenalnya kemarin. Dia datang ke rumah dan mama memperkenalkan dia kepadaku. Dia adalah saudara satu ayah dengan mama," ucapku.


"Lu gila!" Umpat Cindy tiba-tiba.


"Hah?" Aku berpura-pura tidak mengerti maksudnya.


"Dia paman lu, Mila. Lu pikir gue ga lihat apa yang kalian lakukan di dalam mobil tadi? Walau kacanya sedikit gelap, namun masih terlihat samar dari luar. Aku melihat postur tubuhmu disana dan langsung menduga itu kamu," ucap cindy.


"Jadi... jadi kamu sudah melihatnya?"


"Kurang lebih begitu," jawabnya.


"Sadar,Mila. Sadar. Cowok di dunia ini itu banyak. Mengapa harus dengan pamanmu sendiri sih? Iya aku tahu dia tampan bahkan sangat tampan. Tapi, ayolah."


"Kalau dilihat dari perilakunya, harusnya ini bukan yang pertama kalinya. Mila, lu gak mau cerita sesuatu ke gue gitu?" Tanyanya.


"Ceritanya rumit. Aku tidak tahu harus memulai darimana. Kau tahu, aku ingin sekali bercerita kepadamu,tapi aku malu..." lirihku.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu bercerita. Namun, jika ada masalah, kau katakan saja." Cindy akhirnya menyerah untuk mendesakku bercerita. Dia lebih memilih untuk menghargai privasiku dan membiarkanku menceritakan masalah ini dengan sendirinya.


Pukul 19.00


Hari ini adalah hari bertemunya Leiri dengan sahabat lamanya.


"Hai, Fengyin. Lama tidak berjumpa," ucap temannya menyapa nenek.


"Ehh Lena. Akhirnya kau datang juga," ucap nenek.


"Oh ya, dimana Stefanie?" Tanya nenek.


Seorang wanita cantik dengan high-heels yang senada dengan bajunya masuk ke rumah kami.


"Hai, nenek Fengyin. Saya Stenafie. Salam kenal," ucap Stefanie anggun.


"Aku ingin tahu bagaimana rupa tuan muda Haohan yang terkenal misterius itu," Batin Dasha sambil menyeringai.


Sebelum Stefanie dan Alena kemari...


(Flashback on)


"Stef, nenek ingin kamu ikut pergi bersama nenek." Seorang wanita paruh baya itu nampak serius berbincang kepada cucunya yang masih asyik dengan film dan kacang yang ada di pangkuannya.


"Kemana sih?" Tanya Stefanie sedikit acuh.


"Bertemu pria tampan," jawab wanita itu singkat, padat dan jelas.


Sontak, Stefanie meletakkan makanannya di atas meja. Dia membalikkan badannya dan buru-buru berjalan mendekatinya.


"Sungguh? Siapa pria itu?" Tanya Dasha yang mulai nampak bersemangat.


"Aiden Zhao."


"Ai... Aiden Zhao? Apakah dia pria misterius, anak luar dari keluarga Zhao itu?" Tanya Stefanie sedikit meremehkan.


Neneknya hanya mengangguk kepadanya. "Jangan remehkan dia. Jangan lupa bagaimana keluarga Zhao sekarang bangkit."


"Lalu, bagaimana nenek bisa tau rupanya? Dia bahkan tidak pernah menampakkan dirinya," tanya Stefanie menyelidik.