One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 10: Araya, Si Gadis Kecil yang Menggemaskan



Gadis kecil itu menatapku dengan tatapan yang tegar dan kuat. Akupun terperangah olehnya. "Kakak gak salah. Aku yang salah. Kata bunda, kalau orang lain ga salah dan kita yang salah, kita harus membenarkannya agar kita tidak terlena. Kakak cantik dan baik. Aku suka."


Ucapannya membuatku tersadarkan bila mendidik anak yang sudah memiliki karakter yang begitu baik seperti dirinya tidaklah mudah.


"Makasih ya,sayang. Kamu memang benar-benar anak yang baik. Kakak ada coklat, kamu mau?" Tanyaku.


"No no." Dia menggelengkan kepalanya yang kecil dengan telunjuk mungilnya yang ia goyang-goyangkan searah kesamping. "Kata bunda, Araya ga boleh ambil makanan dari siapapun. Itu berbahaya."


Gadis itu sungguh membuatku gemas. Ingin sekali aku menculiknya,lalu aku bawa pulang. Sayangnya, dia adalah milik orang lain.


"Oh ya, nama kakak siapa?" Tanya gadis itu.


"Ohh, nama kakak Emilia Zhao. Panggil saja Kak Mila," ucapku memperkenalkan diriku.


"Ohh kak Mila. Nama kakak cantik kayak orangnya," ucap gadis itu memujiku.


"Siapa yang mengajarimu ini,mhh?"


" Aku berkata jujur. Kakak memang cantik dan Araya mau kayak kakak. Oh ya kak, tadi ada kakak kakak cantik yang nyuruh aku kasih ini buat kakak." Gadis kecil itu menyodorkan sebuah amplop hati kepadaku.


"Ini... dari siapa?" Tanyaku.


Anak kecil itu menggeleng. "Araya tidak bertanya lebih. Oh ya kak, Araya pamit dulu ya, takut Bunda sama Ayah nyariin Araya. Bye bye kakak cantik." Bocah itu melambaikan tangannya kepadaku. Aku pun membalas lambaian tangannya dengan cara yang sama.


Setelah aku melihatnya semakin menjauh, aku langsung membuka amplop tersebut disana. Tertulis jelas pada kertas bewarna kuning itu, "masuklah ke dalam. Lalu, jangan lupa menuju ke kursi yang ada tali ungu di dalam."


Aku menerka-nerka, siapakah yang mau bermain tebak-tebakan denganku. Namun, apakah aku harus masuk ke dalam terlebih dahulu sebelum paman datang?


"Ahh sudahlah. Paman lama. Nanti aku telepon dia saja deh kalau sudah nanti telepon saja," gumamku.


Aku mengikuti isyarat yang berada pada amplop tersebut. Kedua pelayan itu bahkan tidak bertanya padaku lagi. Aku sudah tidak memedulikannya. Aku menilik ke arah sekitar restoran dan mendapati sebuah kursi dengan tali ungu disana, persis dengan yang tertera pada surat. Tanpa ragu, aku pun menghampirinya. Namun, saat aku menghampirinya, aku melihat sebuah surat dalam amplop lagi disana.


"Yuhuuuu. Selamat anda kena prank! Ada seseorang yang ingin menemui anda di lantai atas. Yuk segera naik."


Aku pun dibuat kebingungan oleh surat tersebut, namun bodohnya aku masih tetap melakukan sesuai petunjuknya. Aku naik ke lantai atas dengan perlahan. Sesampainya diatas, aku lagi dan lagi menemukan sebuah surat disana. Namun, kali ini berbeda. Surat tersebut tertancap bak bendera disana.


"Surat lagi?" Gumamku mulai kesal.


"Hehe. Maaf ya. Yuk kita hitung langkah. Mundur ke belakang delapan kali, maju ke samping kiri 5 kali, putar badan menghadap kiri, lalu maju ke samping kanan 6 kali."


Aku mengikuti instruksinya. "Mundur delapan kali... Satu... Dua..." aku melangkahkan kakiku dengan hati-hati. "Delapan. Maju ke samping kiri? Maksudnya? Apa serong gitu ya?" Gumamku.


Aku terus mengikuti instruksi tersebut hingga aku dipertemukan dengan sebuah pintu besar di depanku. "Wow. Pintu apa ini? Besar sekali?"


Saat aku mencoba membukanya, terlihat seorang pelayan yang setia berdiri disana dengan sebuah nampan dan sebuah ikat yang berada di dalamnya.


"Permisi nona. Mohon untuk nona duduk sebentar," ucap pelayan tersebut.


Aku mengangguk kepadanya dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Pelayan itu memberiku sebuah surat lagi. Aku meliriknya, menatapnya dengan tatapan menyelidik sebelum akhirnya membuka surat yang dia berikan padaku.


"Ikuti instruksi pelayan itu atau kau akan menyesal!"


Isi surat kali ini begitu menyeramkan. Aku meneguk air liurku yang rasanya sudah penuh itu beberapa kali.


"Paman, kau ada dimana? Aku takut," Jeritku dalam hati.


Pelayan itu mulai menuntunku menuju sebuah tempat. Aku merasakan aku sedang naik sebuah lift disana. Entah kemanakah pria itu akan membawaku pergi. Aku hanya bisa pasrah.


Beberapa saat kemudian...


Lift itu telah berhenti sekarang. Sepertinya, pelayan itu membawaku ke rooftop restoran mewah milik mereka. Saat aku berjalan keluar, aku meraba-raba dan tidak ada seorang pun disana.


"Halo! Siapa yang ada disini? Kumohon jawab aku," ucapku dengan kaki yang sudah gemetar hebat.


"Kumohon lepaskan aku. Aku ingin pulang," lanjutku setengah menangis.


Seorang pria berbadan tinggi besar nampak sedang berjalan ke arahku.


Tak tak tak...


Pria itu membuka penutup mataku. Aku reflek membuka mulutku terkejut.


Sebuah dekorasi mewah terpampang nyata di depanku dengan berbagai jenis bunga yang semakin menambah kehangatan dan keromantisan di dalamnya. Aku tertegun, hampir tak bisa berkata-kata. Aku melupakan pria yang datang bersamaku hari ini.


"Ba-bagus sekali... Siapa yang mempersiapkan ini? Apakah untukku?" Gumamku sembari berjalan memasuki ruangan tersebut perlahan. Aku kagum. Aku menikmati semua kemewahan dan romantisme di sana.


Terlihat di depan sana seorang pria dengan jas bewarna putih yang sedang berdiri memunggungiku. Samar terlihat aura dan bentuk tubuh yang terlihat familiar.


"Paman?" Panggilku tertegun.


"Apakah itu benar paman?" Gumamku.


Aku mendekati pria itu. Semakin jelas pula postur tubuhnya, semakin yakin pula bahwa pria itu adalah paman.


"Paman, aku mencarimu. Kemana saja sih?" Tanyaku.


Paman mendekat ke arahku dengan sebucket bunga ditangannya. Tiba-tiba pria itu berlutut di hadapanku.


"Paman, apa yang anda lakukan?" Tanyaku.


"Emilia Zhao, aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku, tapi seperti yang aku katakan kemarin, izinkan aku untuk mengejarmu," ucapnya.


"Terimalah cintaku, terimalah bungaku ini," lanjutnya.


"Paman, apakah kau lupa minum obat hari ini?" Tanyaku.


Pria itu menggeleng. "Jika kamu tidak menerimanya, aku akan terus berlutut."


"Ayolah. Katanya tidak mau memaksa. Apa ini? Dia akan terus seperti ini? Kemana sifat dinginnya itu," Batinku.


...****************...


Ga kerasa nih sudah sampai bab 10. Makasih untuk Like komennya serta gift dari kalian. Apapun bentuk dukungan kalian sangat berarti untukku. Jangan lupa bantu ramaikan dong dengan cara share cerita ini ke teman-teman kalian. Ada tombol permintaan update juga lho, kalau kalian mau update lebih dari satu episode, boleh banget tekan tombol itu. Oh ya, Ada saran ga nih tentang tokoh² yang ada disini? Misal si tampan Aiden atau si cantik Emilia? Jangan lupakan Uncle Mike si jomblo abadi yang dingin dan berkharisma🤭🤭🤭