One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 22: Periksa ke Dokter



Hai guys, Karena ada yang berkomentar bahwasannya pov orang pertama lebih nyamaan dibaca, maka aku kembalikan lagi ya jadi POV orang pertama. Ya jujur aja sih, ini novel emang udah aku rancang untuk POV pertama, jadi kalau diubah jatuhnya ga nyambung. So, kalau kalian lebih banyak yang suka POV ketiga, tinggal komen aja ya.


Baiklah, selanjutnya mari kita simak perjalanan cinta Paman Aiden dan Emilia ya. 😉😉


...****************...


"Ya, aku melihat semuanya." Cindy menjawab pertanyaan yang aku lontarkan dalam hati seakan dia dapat membaca apa yang aku ucapkan dalam hati. Mungkin ekspresi ku terlalu jelas dengan apa yang akan ku ucapkan.


"Cin, ini tidak seperti yang kau lihat," Ucapku meyakinkan Cindy.


"Mila, aku tidak masalah jika kau berpacaran dengan siapapun. Aku hanya tidak ingin melihatmu tersesat, Mila. Sudah berapa kali aku peringatkan. Dia pamanmu. Hubungan ini salah!" Seru Cindy yang mencoba untuk menasehatiku.


Aku tahu dia benar dan aku tahu apa yang kulakukan dengan paman adalah suatu kesalahan besar. Dosa yang teramat besar, namun aku benar-benar tidak sanggup untuk pergi. Aku memutuskan untuk menarik tangan Cindy untuk masuk ke dalam. Terlihat juga disana Paman yang masih bersantai menikmati kopi yang kubuatkan untuknya pagi ini, masih dengan pakaian yang sedikit berantakan setelah aksi kami pagi ini.


"Aku sangat berterimakasih padamu,Cindy. Kau sudah memperingatkanku. Tapi, aku ga tau harus cerita sama kamu dari mana. Aku..." Aku menghentikan ucapanku sejenak. Aku berpikir singkat. Apakah aku harus menceritakan semua keadaanku sekarang? Namun, kupikir aku belum sanggup membeberkan fakta tentang apa yang aku alami saat ini. Aku belum seberani itu.


"Kamu kenapa? Mila, kamu bahkan dilarang berpacaran dengan orang lain. Mereka bahkan tidak segan-segan untuk menyita semua aset yang kau miliki. Sekarang, kau malah ingin mengulanginya? Dan lebih parahnya lagi dengan pamanmu sendiri? Sadar, Mila!" Seru Cindy.


Aku bergeming mendengar ucapannya. Aku menundukkan kepalaku malu dan bersalah. Ya, aku tidak dapat membayangkan hukuman apa yang kudapatkan jika mereka tahu tentang ini. Terlebih lagi, sekarang kondisinya berbeda. Aku telah mengandung anaknya.


"Cowok di dunia ini tuh masih banyak. Kamu cantik dan pintar. Aku yakin banyak cowok yang sederajat sama kamu yang mau nerima kamu," ucap Cindy.


"Ya, aku tahu itu. Aku tahu masih banyak pria yang menginginkanku dan mengidolakanku. Tapi, aku benar-benar tak tahu lagi harus berbuat apa. Aku sudah terlanjur nyaman sama dia," Ucapku pada Cindy. Tentu saja, hal tersebut berhasil membuat Cindy terkejut mendengarnya. Namun, itulah faktanya.


"Terlebih lagi, apakah ada pria yang mau menerimaku dikondisiku saat ini?" Batinku.


"Lalu, apa maksudmu? Maksudmu kau akan melanjutkan hubungan ini?" Tanya Cindy.


"Jujur saja aku bingung. Cin, aku tahu perbuatanku ini salah. Rasa cinta, nyaman dan sayang padanya bahkan nafsu ini pun juga salah besar. Tapi, aku minta sama kamu untuk beri aku waktu untuk memikirkan segalanya. Tolong, jangan bilang masalah ini pada siapapun," Ucapku memohon padanya.


"Hufttt. Baiklah. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Tapi, kamu harus ingat jika kamu tidak berubah, aku terpaksa melaporkannya," ucap Cindy yang lalu memelukku erat.


"Thanks, Bestie."


"Maafkan aku, Cindy. Aku benar-benar tidak bisa melepaskan hubunganku dengannya tak peduli seberapa salah dan tak peduli kau akan mengadu kepada siapapun, karena aku memiliki alasanku sendiri. Alasan yang sungguh tidak mungkin aku ungkapkan padamu," Batinku.


...****************...


Hari ini adalah hari dimana harusnya kami semua berkunjung ke berbagai tempat di Bali. Aku bersama Paman sudah sepakat untuk tidak mengikuti rombongan bus, melainkan pergi ke dokter ternama di Bali yang juga merupakan kenalan Paman.


"Ehh iya Cin, aku ga ikut bareng kalian kali ini. Aku akan menyusul nanti. Aku mau anterin Paman bertemu rekan kerjanya," ucapku beralasan.


"Hum ..." Cindy menatapku penuh keraguan. "Baiklah, Tapi kamu jangan macam-macam. kalau kamu macam-macam, aku ga akan segan laporin hal itu ke keluarga kamu lho."


"Asyiap boss."


Aku dan Paman berangkat lebih awal dibandingkan mereka.


"Paman, menurutmu apakah aku pantas menjadi seorang ibu?" Itu adalah kalimat yang sedari dulu aku ingin tanyakan. Aku mengelus pelan perutku dan merasakan bayi kecilku itu sudah semakin aktif. Aku tersenyum, kupikir Paman pun mengetahui itu. Tanpa menjawab dulu apa yang aku pertanyakan, Paman langsung saja meletakkan tangannya pada perutku.


Paman membelalakkan matanya saat dirinya merasakan hal yang aku rasakan. Detak jantung. bayi itu nampak sudah semakin jelas.


"Apakah ini rasa menjadi seorang Ayah?" Batin Paman.


Pukul 08.00...


Butuh satu jam lamanya bagi kami untuk tiba di dokter khusus ibu dan anak yang telah Paman hubungi pagi ini. Suasana nampak begitu ramai, Paman bilang ini adalah hal yang wajar. Untungnya, Dokter tersebut adalah kenalan Paman,jadi kami tidak perlu menunggu dan antri begitu panjang.


Tok tok tok...


Seorang suster membantu kami untuk membawa kami ke ruang dokter tersebut. Dia adalah dr. Harun Kusuma, seorang dokter yang sangat ahli dan jenius dalam bidangnya. Tak heran bila dia sangat terkenal dan bayarannya pun juga bbegitu mahal, namun kupikir itu seimbang dengan keahliannya. Aku tidak mengerti bagaimana Paman bisa mengenalnya, bahkan sekelas pejabat di Bali pun harus rela mengantri untuk memeriksakan anaknya di dokter Harun ini.


"Hum, masuk." Seorang pria bersuara begitu jantan dari balik pintu itu. Dialah dr. Harun. Wajahnya begitu tampan dan dia terlihat masih muda, hampir sama seperti Paman. Haha, entah mengapa semakin kesini, aku semakin tidak percaya diri tampil di sampingnya.


"humph, sepertinya aku harus meningkatkan kualifikasi diriku. Mungkin aku harus segera lulus," gumamku.


Paman melirikku sesaat, mendengarku menggumam sesuatu. Dia tersenyum dan merangkulku erat. "Jangan khawatir dan pesimis. Paman yakin kok Mila adalah wanita kuat dan suatu hari nanti, Mila akan mendapatkan apa yang Paman dapatkan saat ini dengan usaha keras Mila. Paman akan selalu dukung kamu."


Aku merasa Paman benar-benar dewasa sebelum waktunya. Diusianya yang masih sekitar dua puluh limaan itu, dia bahkan sudah berhasil membuat keluarga kami menjadi keluarga tersohor. Ucapan dan kata-katanya, dapat memotivasi setiap orang. Dia selalu pandai menguatkan orang walau aku yakin jauh di lubuk hatinya yang terdalam, dia menyimpan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak dapat mengetahui hal itu.


Aku hanya mengangguk mendengar ucapan Paman. Setelah itu, Kami melangkahkan kaki kami masuk ke dalam, menarik kursi dan duduk di hadapan dokter Harun sesuai perintahnya. Paman tentu saja terlihat rileks, berbeda denganku yang sedikit tegang.


"Baiklah, Tuan muda dan nona, apakah ada yang bisa saya bantu?"