One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 16: Keberuntungan atau Bencana?



"Tunggu, ini tidak benar? Mengapa kekasih?" Batinku.


Spontan, aku menoleh ke arah paman yang seperti tersenyum licik disana. Dia terlihat girang di atas ekspresi terkejutku yang begitu terlihat.


"Paman, apa maksudnya? Kekasih apanya?" Bisikku lirih.


"Apa kamu mau mengatakan hubungan kita yang sebenarnya? Orang akan berpikir kita gila," balasnya.


"PT. Haohan Corporation... Astaga, kau adalah Aiden si misterius itu? Oh my god, aku tak menyangka bisa bertemu dengan anda, sang pengusaha hebat yang menginspirasi banyak orang. Aku tidak menyangka bila kau masih semuda ini," ucap Edwin yang terkejut setelah mendengar pernyataan dari Paman.


"Ahem. Bolehkah saya minta tanda tangan?" Tanyanya.


Dia mengeluarkan bolpoin yang selalu dia kantongi dan bawa kemana-mana. Tak lupa pula secarik kertas untuk mencatat hal-hal yang menurutnya menarik perhatiannya. Paman menerima kertas dan bolpoin tersebut, kemudian dia menandatangani kertas yang diberikan oleh Edwin.


"Ok, saya minta satu hal lagi boleh?" Tanyanya meminta izin. Aiden melirik ke arahku. Aku hanya mengangguk.


"Anda katakan saja. Selama kami bisa, kami akan memberinya," jawabku.


"Foto kalian. Tatapan kalian begitu dalam dan yah, serasi sekali. Boleh kan?"


"Ya. Silahkan silahkan," jawabku.


Pria itu mulai mengatur posisi kami juga gaya kami dalam mengambil foto. Dia mengambilnya beberapa kali tentu saja dengan gaya yang berbeda. Kami merasa seperti sedang melakukan prewedding, namun kesempatan langka ini tentu saja tidak dapat kutolak.


"Terimakasih. Nanti saya akan kirimkan ke email anda. Boleh saya minta?"


Aku memberikan emailku yang menurutku tidak terlalu penting, karena email paman pasti berisikan sejumlah data-data penting yang tidak dapat diganggu gugat.


"Tuan, bisakah kita berbicara berdua saja?" Tanya Paman Aiden yang nampak begitu misterius.


"Ohh, boleh tuan. Tentu saja, boleh," balas fotografer tersebut.


Mereka berada di sebuah dek kapal belakang yang nampak begitu sepi disana. Aku yang penasaran pun diam-diam mengikuti mereka. Namun, sepertinya mereka memblokade seluruh akses untuk menguping pembicaraan mereka.


"Ada apa tuan?" Tanya Edwin.


"Ahem. Saya kan akan berlibur ke Bali dengan dia, bolehkah saya menyewa jasa anda?" Tanya Aiden dengan wajah yang mulai merona.


"Ohh tentu saja boleh. Ini adalah paket-paketnya." Edwin menyerahkan sebuah buku yang berisikan daftar paket pemotretan perusahaannya.


"Ga perlu." Paman Aiden menolaknya tegas.


"Aku tidak perlu paket. Aku akan membayar semuanya. Aku hanya ingin hasil foto yang terbaik. Aku akan ke pantai bersamanya dan ingin mengabadikan setiap moment kami, jadi lakukanlah yang maksimal," ucap Aiden.


"Baik,tuan muda."


Setelah mereka selesai berbincang, mereka kembali ke tempat dimana kami bertemu sebelumnya. Aku termenung menatap sinar rembulan yang masih bersinar begitu indah. Malam pun kini telah menyapa. Aku masih dapat berjumpa dengan sun set yang begitu indah di lautan.


"Mia, ini sudah malam. Kita lebih baik masuk dan kamu bisa tidur," ucap Paman begitu lembut padaku.


"Ga perlu, Paman. Dalam beberapa saat, kita akan tiba," ucapku sembari menunjuk ke arah dataran di hadapan kami.


"Baiklah."


"Omong-omong, apa yang paman bicarakan dengan fotografer itu? Tuan Edwin?" Tanyaku.


"Aku hanya ingin menyewanya untuk kita berfoto di Bali. Apakah kamu keberatan?" Tanyanya balik.


Aku menggelengkan kepala pelan, "Tidak, kita memang harus mengabadikannya. Aku juga berencana untuk menyewa jasanya di foto prewedding kita nanti."


"Prewedding kita? Jadi, apakah kamu setuju untuk menikahiku?" Tanya Paman dengan wajah girangnya.


"Entahlah. Tapi, dia..." Aku menunjuk ke arah perutku dan mengelusnya pelan. "Dia butuh sosok Ayah. Aku tidak boleh egois."


"Terimakasih, Mia." Paman memeluk tubuhku begitu erat.


Kapal yang kami tumpangi akhirnya tiba di pelabuhan terdekat, "Welcome to bali." Aku bersorak gembira. Lagi-lagi aku menemukan fakta bahwa kapal milik Cindy masih belum tiba di pelabuhan. Paman menyuruhku untuk menunggu terlebih dahulu di pinggiran pelabuhan, "Mia, aku akan pergi ke warung untuk beli sesuatu ya."


"Lama ga,Paman?"


"Gak. Kamu tunggu disini. Aku akan bilang ke petugas itu," ucap Aiden sambil menunjuk ke arah pria yang sedang menganggur disana.


"Permisi, tuan. Apakah anda sibuk atau tidak?" Tanya Aiden.


"Kebetulan tidak. Ada apa ya mister?" Tanyanya balik.


"Uhm. Tolong jagain keponakan saya ya. Ini imbalannya." Aiden memberikan segebok uang untuk pria itu.


"Baiklah, terimakasih."


Aiden pun akhirnya dapat bernafas lega. Akhirnya, dia bisa pergi dengan tenang. Aiden pun dengan berlari kecil menuju warung terdekat sesuai dengan yang dia temukan dalam maps.


"Humph. Warung kecil tak apalah," gumam Aiden.


"Bu, teh panasnya dua ya," ucap Aiden memesan minuman.


"Baik mas tampan."


Ibu-ibu itu sesegera mungkin mempersiapkan minuman yang dipesan oleh Paman. Dia mencuri-curi pandang untuk melihat Paman. Bukan tanpa alasan dia begitu, namun nampak jelas pada sorot matanya bila dia ingin memiliki menantu sepertinya.


Sedangkan Paman duduk tepat di depan warung dengan pemandangan yang indah, namun bukan itu yang dia lihat. Dia malah terfokus dengan beberapa anak kecil yang bermain begitu riangnya. Entah, dia terlihat seperti iri dengan mereka. Paman termenung sesaat dan membayangkan masa kecilnya yang sepertinya penuh luka dan perjuangan. Itu terlukis jelas pada sorot matanya, namun tak seorang pun dapat mengetahui seberapa menderitanya dia dulu.



"Ini mas tampan." Ibu itu menyerahkan dua buah kantong plastik berisikan teh panas pada Paman. Hal tersebut berhasil membuyarkan lamunannya. Paman mengeluarkan sejumlah uang yang tidak begitu banyak dan memberikannya pada ibu tersebut.


"Kembaliannya buat ibu saja, terimakasih,"ucap Paman sopan.


Saat Paman hampir saja berlalu, ibu itu memanggilnya sebentar.


"Mas tampan, boleh minta foto gitu?" Tanya Ibu itu.


"Foto? Boleh boleh."


Mereka pun berfoto sesuai dengan keinginannya.


"Mas tampan ini asal sini?" Tanyanya.


"Saya memang lahir disini, namun saya tinggal lama di Amerika. Saya baru saja kembali untuk urusan bisnis," jawab Paman ramah.


"Duhh. Mas sudah tampan, sopan, kaya pula. Sudah punya istri belum?" Tanya ibu itu to the point.


Paman hanya tersenyum padanya, "Belum sih. Namun, saya masih berusaha untuk mendapatkan restu dari orang tuanya. Doakan ya bu."


"Yahh. Sayang sekali. Ya sudah, ibu doakan yang terbaik untuk mas tampan."


"Terimakasih bu."


Setelah puas berbincang, Paman Aiden pun kembali kepadaku. Paman telah kembali dengan membawa dua kantong plastik teh panas yang masih terlihat asap yang mengepul di udara. Saat itu, dia sedang melihatku bersama dengan Cindy. Yap, Cindy dan rombongan telah tiba disana. Cindy bertanya banyak hal yang menurutnya begitu mengejutkan. Dia bahkan tidak menyangka bila aku akan sampai terlebih dahulu dibandingkan dengannya.


"Mia, minumlah." Paman memberikan sekantong plastik itu kepadaku.


"Terimakasih,Paman."


Paman berlalu menuju ke mobil sport kesayangannya, meninggalkanku berdua dengan Cindy, karena dia tahu pasti ada banyak hal yang ingin diperbincangkan olehku dengan Cindy.


"Mila, sumpah lu beruntung banget dapat paman kayak dia," ucap Cindy setelah memastikan Paman telah menghilang dari sisi kami.


"Beruntung? Bukannya biasa aja ya kalau Paman kita itu baik sama kita?" Timpalku.