One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 9: Kemana Paman?



"Apa salahnya? Bukankah itu adalah hal yang baik jika seorang pria bertanggung jawab? Lagipula, jika ada dia, aku ada alasan untuk menikahimu," ucapnya seperti tidak bersalah atau tidak berdosa.


"Auh ah. Bodo. Mending aku makan aja. Males debat sama paman," ucapku merajuk.


Keesokan harinya...


Paman telah mengetuk pintuku sejak pagi tadi. Entah angin apa yang membuatnya begitu perhatian kali ini. Dia terlihat benar-benar tengah bersemangat untuk berangkat.


"Mia!" Panggilnya.


"Bentar bentar."


Aku membukakan pintu kamarku untuknya. Dia langsung masuk tanpa permisi.


"Ngapain kesini pagi-pagi sih, paman?" Tanyaku.


"Aku hanya ingin berangkat bersama. Gimana kalau kita sarapan bareng? Kan sekalian berangkat," ucapnya.


"Terserah."


Aku meninggalkannya sendirian disana. Aku merapikan rambutku, mengganti pakaianku dan merapikan barang-barang yang harus ku bawa hari ini.


"Done. Ayo berangkat," ajakku.


"Ok."


Kami turun bersama pagi ini. Terlihat nenek dan yang lainnya telah berkumpul disana.


"Aiden, Mila, ayo sarapan," ajak ibunda.


"Uhm. Paman mengajakku sarapan bersama dekat kampus,ma. Bolehkan?" Tanyaku.


"Tentu."


"Baiklah. Ma, pa, nek, kek, aku sama paman berangkat dulu ya. See you all," pamitku kepada semua.


"See you sayang."


Paman hanya tersenyum kepada mereka dan pergi mengikuti langkahku dari belakang.


"Ada apa dengan mereka? Seperti sebuah beban pikiran telah diangkat begitu saja," ucap Nenek heran.


"Aku juga merasa begitu. Aku merasa seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka. Namun, aku masih belum mengetahuinya. Nanti aku akan coba menyelidikinya," ucap Ibunda.


Saat dalam perjalanan, kami berdua hanya terdiam. Aku sibuk menikmati pemandangan di sepanjang jalan, sedangkan pamanku sibuk menyetir disana. Sesekali, aku menatap wajahnya. Aku mengaguminya dalam diam. Dia memang begitu tampan dan bahkan aku berharap kami bukanlah paman dan keponakan untuk saat ini.


"Sudah puas lihatin wajahku?" Tanya paman.


"Cihh. Ge-er. Siapa juga yang liatin wajah ono," elakku.


Paman memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Paman, kenapa berhenti sih?" Tanyaku.


Paman menarik tanganku mendekat. Dia menc**buku begitu saja, ********** dengan sangat nikmat. Akupun terlena, aku akui itu memang sungguh rasa yang menakjubkan.


"Mia, aku tahu memang ini salah." Paman membuka obrolan diantara keheningan yang menghantui kami. "Aku rasa aku mulai jatuh cinta kepadamu. Apakah ada kemungkinan untuk kamu menjadi milikku?" Tanyanya.


Aku tercengang hingga tak dapat berkata. Aku hanya terdiam sambil mulutku terbuka, terperangah mendengar ucapannya. Aku sudah sering ditembak oleh lawan jenis, namun aku belum pernah merasakan saudaraku sendiri menembakku. Mungkin malah memang tidak ada orang yang pernah merasakannya.


"Tidak. Paman, ingat hubungan kita. Aku adalah keponakanmu. Kita tidak mungkin bersama," jawabku tegas.


"Dan lagi, aku tidak mencintaimu." Tentu saja itu bohong. Aku mulai merasakan rasa nyaman yang tidak pernah kumiliki sebelumnya.


"Aku tidak peduli itu. Tapi, izinkan aku untuk mengejarmu selayaknya pria di luaran sana yang melakukannya," ucap Paman.


"Walau aku tidak mengizinkannya, paman akan tetap melakukannya, bukan?" Timpalku.


Dia hanya mengangguk. "Baiklah, mulai hari ini Aku, Aiden Zhao, mengatakan akan mengejar keponakanku, Emilia Zhao dan mencatat sejarah baru. Seorang paman yang menikahi keponakannya sendiri," ucapnya.


Aku hanya menggelengkan kepala mendengar ucapannya.


...*...*...


Hingga suatu malam, paman mengajakku makan malam bersama.


"Mila, Aiden, yuk makan," ucap ibunda memanggil kami berdua.


Aku dan Paman telah rapi dengan setelan baju yang senada. Paman menggandengku turun selayaknya biasanya, namun kali ini berbeda. Dia begitu lembut dan berhati-hati, terlebih saat ini dia mengetahui aku telah mengandung anaknya.


"Aiden, Mila, kalian mau kemana?" Tanya ibunda.


Aku dan Paman saling bertatapan. "Ma, paman mengajakku makan bersama kliennya di luar. Boleh kan?"


Ibunda terlihat begitu kebingungan. "Kenapa mengajak Mila? Mengapa tidak mengajak Stefanie atau teman wanitamu yang lainnya?" Tanya ibunda.


"Uhm. Aku lebih nyaman dengan Mila. Sekalian aku sudah berjanji untuk mengajaknya berkeliling kota. Kami akan ke pasar malam hari ini," jawab Aiden.


"Sudahlah,ma. Biarkan saja mereka keluar. Toh juga tidak akan terjadi sesuatu kepada mereka. Jangan berpikir berlebihan," bisik Ayahanda.


Entah mengapa saat aku mendengar ucapan Ayah, hatiku merasa sakit yang tak dapat aku definisikan. Aku merasa bersalah kepada mereka. Aku telah melanggar aturan keluarga, bahkan norma di negeri ini.


"Benar kata suamimu,Annchi. Jangan berpikir macam-macam." Nenek menenangkan ibunda.


"Baiklah, tapi hati-hati ya," ucap Ibunda sambil menghela nafas berat.


"Tuan muda, apakah semuanya sudah siap? Sudah pukul 7," ucap Mike yang hadir di tengah mereka.


Aiden mengangguk. Pria itu merangkulku dan menuntunku menuju mobilnya.


"Kalian bukan ibunya. Kalian tidak mengetahui apa yang aku khawatirkan. Bagaimana jika mereka benar-benar memiliki hubungan?" Tanya Ibunda.


"Aiden dan Emilia masih waras. Mana mungkin mereka bersama. Ya kan buk," timpal Ayah.


"Bener, nduk. Sudahlah. Biarkan saja. Kan bagus kalau misalnya hubungan antara keponakan dan paman itu baik-baik saja. Bagaimana pun mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Itu wajar terjadi. "


Ibunda berusaha menepis pikiran buruknya, walau hal tersebut selalu gagal.


...*...*...


Beberapa saat kemudian...


Kami telah tiba di sebuah restoran mewah disana.


"Mila, aku mau ke toilet dulu. Kebelet nih. Kamu masuk dulu ya," ucap Paman sambil memegangi perutnya.


"Iuhhh. Paman jorok. Sana sana," ucapku mengusirnya pergi.


Aku melirik ke kanan dan ke kiri sebelum akhirnya masuk ke dalam restoran tersebut. Saat aku hendak melangkah masuk, langkahku tertahan oleh kedua wanita yang berdiri tepat di depanku.


"Permisi, apakah anda sudah memesan kursi?" Tanya kedua pelayan itu.


"Kursi? Harus memesan dulu ya?" Tanyaku kebingungan.


"Benar ibu. Setiap kali datang kesini, anda harus membooking terlebih dahulu," ucap kedua pelayan itu ramah.


"Ohh begitu. Baiklah."


Aku memutuskan untuk pergi menjauh dari restoran tersebut sembari menunggu Paman yang entah sudah berapa lama ia pergi.


"Duhh, kemana sih paman? Dia ngukir keramik toilet, ngebatikin air kamar mandi atau bagaimana. Lama banget." Aku mengeluh di sepanjang langkahku. Saat aku hendak menelepon paman, tiba-tiba aku menabrak seorang anak kecil tanpa sengaja.


"Ehh dik. Maaf ya. Kakak ga lihat," ucapku sambil membantu anak kecil itu untuk berdiri.


"Sakit ga dek? Perlu kakak bawa ke dokter?" Tanyaku setengah khawatir akan disalahkan oleh kedua orang tua gadis kecil itu.


...****************...


Terimakasih untuk kalian yang masih setia membaca cerita recehanku ini. Dukungan apapun dari kalian sangat berarti. ☺️☺️☺️Oh ya, Siapa nih yang mau request bab berapa ya enaknya kasih visualisasi mereka biar halunya nambah gitu🤭🤭🤭