One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 18: Kecurigaan Cindy



Aku berjalan sendirian, menyusuri lorong panjang di sekitar hotel. Sangat sepi, aku menatap sekeliling, tubuhku merinding tanpa tahu sebab yang jelas. Aku mulai ketakutan. Bayangan malam itu, malam panjang yang telah berhasil menghancurkan masa depanku terulang kembali jelas di depan mataku. Tidak, aku merasa seseorang mengikutiku lagi, sama halnya dengan dulu. Napasku mulai memburu, aku mulai berlari kecil seraya menilik ke belakang. Namun, tak seorang pun terlihat tengah mengejar atau mengikutiku. Tapi, perasaan ini begitu nyata, aku mulai menitihkan air mata. Ingin menjerit, namun lidahku keluh. Aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa selain berlari. Hingga aku menabrak seorang pria dengan tubuh tinggi nan kekar berada di depanku.


Jangan tanya Cindy kemana. Tentu saja, dia telah masuk ke kamarnya. Memang kami bersama saat di berjalan menuju lantai dua, namun lantai kamarku adalah lantai kamar teratas dan tentu saja saat itu hanya terdapat segelintir orang disana. Aku bahkan tidak menemukan tanda-tanda kehidupan disana. Hanya ada lampu yang terlihat semakin malam semakin meredup. Entah itu sudah disetting atau apalah itu, aku hanya berpikir untuk segera tiba di kamar kami.


"Paman!" Aku spontan memeluknya. Tangisku pecah, aku gemetar ketakutan. Pria itu nampak kebingungan sembari berusaha membuka kunci pintu kamar. Namun, dia masih bungkam. Dia bahkan tidak membalas pelukku seakan dia masih marah. Entahlah, namun bukan saatnya sekarang aku peduli tentang itu. Aku hanya ingin memeluknya, memeluknya lebih lama lagi. Lebih dalam hingga aku melupakan semua kenangan burukku malam itu, walau dia juga terlibat di dalamnya. Samar aku mendengar dia menghela napas berat dan mulai membalas pelukanku. Aku merasa kehangatan, kepedulian serta cintanya yang begitu nyata. Sudahlah, mungkin kali ini aku akan mengalah. Mungkin aku akan menentang takdir untuknya. Aku akui aku mulai merasa nyaman padanya.


Setelah dirasanya aku mulai tenang, Paman mulai mengendurkan pelukannya. Dia menatapku dalam-dalam, menangkap sepenggal kenangan yang tertinggal, yang benar-benar membuatku ketakutan. Dia dapat menangkapnya dengan sempurna dalam mataku. Aku berusaha untuk menghindar, namun kekuatannya tak mampu aku lawan. Dia mengecup bibirku dengan lembut dan berusaha untuk menghilangkan semua kenangan buruk tentang malam itu.


"Jangan takut. Ada paman disini. Aku tidak akan membiarkanmu merasakan apa yang dirasakan malam itu." Dia memelukku lagi. Aku membenamkan wajahku di dada bidang miliknya. Dia mencium lembut keningku. Hangat, rasanya aku bahkan ingin tidur dalam peluknya.


"Baiklah, mari kita masuk."


Paman membuka kunci kamar kami dan menuntunku masuk ke dalam. Kami berdua masuk ke dalam. Hening terasa disana, gelap, namun adanya Paman disisiku membuatku tersadar bila aku benar-benar sudah terpaku olehnya.


"Mila, aku akan mandi. Kau duduklah disini," ucap Paman yang berusaha memberiku pengertian untuk melepaskan tubuhnya. Perlahan aku mulai melepaskannya. Aku sudah merasa tidak takut lagi. Setelah aku melihatnya menjauh dariku, aku pun membereskan seluruh pakaianku. Tak lupa pula aku mandi malam ini tentu saja dengan air hangat agar suhunya pun tetap terjaga.


Beberapa saat kemudian...


Setelah selesai mandi, Paman memesankan beberapa makanan untuk kami di hotel. Aku tentu saja tidak melupakan Cindy yang baru saja mengabari akan berkunjung ke kamarku. Tentu saja, aku tidak menolaknya dan paman pun terlihat seperti biasa saja.


"Paman, pesankan satu juga untuk Cindy," pintaku saat melihat Paman memesankan makanan untuk kami. Seusai dia memesan makanan, seperti biasa, dia langsung mengambil handuk dan mengeringkan rambutku. Hal ini adalah bagian kesukaanku. Rasanya benar-benar nyaman seperti di salon. Paman juga sedikit memijat kepalaku agar aku tampak lebih rileks.


"Gimana? Enak,bukan?" Tanya Paman.


Tok tok tok...


"Mila," panggilnya yang sudah tiba.


Belum sempat menjawab pertanyaannya, Cindy telah tiba disana. Sontak, aku berdiri langsung tanpa menggubris paman yang masih sibuk mengeringkan rambutku. Aku memakai pakaianku dengan sempurna agar Cindy tidak berpikiran hal yang tidak-tidak. Aku berjalan mendekat, membukakan pintu untuknya. Dia terperangah saat melihat sosok tinggi besar nan tampan berada di balikku.


"Mila, lu tidur satu kamar sama paman lu?" Tanya Cindy sambil menunjuk ke arah Paman dengan lirikan matanya.


"Hummm baiklah. Baru tahu aku kalau dalam kamar VIP ada dua kamar juga. Hehe, maklumlah aku kan penikmat kamar reguler wkwk," ucap Cindy.


"Iya deh iya. Kapan-kapan skuy kita nginep bareng."


"Kenapa ga sekarang aja?" Tanya Cindy.


Aku melirik seorang pria yang terduduk disana, sambil menguping pembicaraan kami. Aku dapat melihat dari sorot matanya, sorot mata yang benar-benar dingin dan datar. Aku dapat merasakan bila dia sama sekali tidak ingin Cindy mengganggu malam kami dan aku yakin Cindy dapat merasakan hal yang sama. Gadis itu bahkan lebih peka dibandingkan denganku.


"Tch, keknya kalau aku tidur sini, pasti ada yang ke ganggu. Baiklah, baiklah. Kapan-kapan saja kita nginep bareng,ok?" Ucap Cindy yang menyadari tatapan dingin dan tidak suka dari Paman.


Aku tersenyum canggung dan bersalah padanya. Kami selalu bersama, bahkan tidur pun juga begitu. Namun, semenjak ada Paman, semuanya berubah. Aku hanya berharap persahabatan kami tetap berjalan sebagaimana semestinya.


...****************...


Tak berselang lama, seorang pelayan nampak membawa beberapa piring dengan isi menu makanan yang beraneka macam. Tentu saja, Paman yang telah memesannya. Aku membukanya lebar-lebar dan mempersilahkan pelayan tersebut untuk masuk ke dalam.


"Permisi tuan muda, nona muda, saya akan meletakkannya di meja makan. Jika ada tambahan lagi, silahkan hubungi kami di nomor yang tertera di masing-masing kamar. Terimakasih." Pelayan itu berlalu pergi, sedangkan Cindy nampak begitu antusias untuk memakan seluruh makanan yang telah dipesankan. Paman masih terdiam tanpa kata. Terlihat jelas pada sorot matanya bahwa dia sebenarnya tidak bahagia dengan kedatangan Cindy disana.


"Ehh Mila, aku beneran ga ganggu kan?" Bisik Cindy setelah menyadari tatapan tajam paman.


"Enggak. Kenapa memang? Paman ga keberatan kan?" Tanyaku pada pria disampingku itu.


Paman hanya mengangguk sekali. Dia sibuk dengan ponselnya yang sedari tadi berbunyi tak henti.


"Tuhh, paman aja ga masalah. Udahlah, jangan dipikirkan."


"Heh, siapa yang kamu bohongi,Mila? Aku dapat melihat pamanmu sedari tadi seperti terganggu. Tapi, biarlah. Daripada ada kejadian yang tidak diinginkan," Batin Cindy.


"Tapi, mengapa aku ada pikiran begitu sih? Mila ga mungkin kan mau sama pamannya sendiri? Tapi, cara mereka memperlakukan satu sama lain memang tidak nampak seperti paman dan keponakan sih," Lanjut Cindy dalam hati.