
"Lalu?"
"Tapi, film ini mengingatkanku dengan kejadian hari itu. Aku berpacaran dengan orang, tapi dia berselingkuh dengan alasan aku yang tidak memberikan milikku padanya. Aku menolaknya berkali-kali. Dia membuatku sakit dan membuat semua asetku hari itu disita oleh Ayah." Mulutku mulai berkicau, bercerita apa yang sebenarnya terjadi padaku malam itu.
Paman terlihat tidak memedulikannya, namun aku tahu dia sangat mendengarkan apapun yang aku ucapkan.
"Tapi, semua yang aku lakukan itu percuma. Aku menjaga diriku dengan segenap jiwa dan ragaku dan paman mengambilnya begitu saja. Itu yang paman katakan cuman?" Aku menoleh ke arahnya dengan air mata yang terus mengalir deras. Paman tiba-tiba memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Dia menatapku dalam diam begitu lama.
Dia memelukku begitu saja, membuatku merasakan kehangatan darinya. Dia melepaskan peluknya perlahan saat mendengarku mulai tenang. Dia menatapku, menakup wajahku dengan kedua tangannya dan menghapus air mataku dengan mengusapnya lembut.
"Maafkan aku, Mia. Aku juga benar-benar tidak bermaksud begitu. Aku juga tidak menyangka itu kamu, keponakanku sendiri. Jika aku tahu, pasti aku akan menahannya sekuat tenagaku. Maafkan aku yang sudah merusak masa depanmu," ucapnya merasa bersalah.
Jujur saja, hatiku terenyuh saat mendengarnya berbicara. Terutama saat suaranya yang berat dan seksi itu sedikit serak seakan mau menangis saat itu juga. Aku sudah tak dapat lagi berkata-kata. Itu bukan sepenuhnya salahnya. Seseorang memang sengaja menjebaknya, entah apa tujuan orang tersebut, namun kesalahan ini, aku merasa aku sama sekali tidak menyesalinya.
Aku mengecup keningnya dan menyiratkan sebuah kalimat, "Paman, tidak salah." di dalamnya.
Beberapa saat kemudian...
"Huwahhh... Segar sekali udaranya!" Seruku disana.
Paman memarkirkan mobilnya pada suatu restoran yang memang telah ditunjuk oleh rekan-rekan Tim kami.
"Mia, masuklah. Jangan disini terlalu lama. Kamu bisa masuk angin." Paman menyelimutiku dengan jaket miliknya. Wangi tubuhnya begitu melekat disana, membuatku ingin sekali menciumi jaket tersebut,namun aku gengsi. Aku menilik ke sekitar, berputar, mataku menyusuri setiap kendaraan yang terparkir disana. Namun, mereka semua belum tiba.
"Paman, mereka belum tiba ya sepertinya." Aku membuka suara ditengah keheningan dan suara angin yang bertiup kencang menerpa dedaunan di pinggir jalan.
"Tentu saja. Mobilku ini seribu kali lebih cepat dari bus mereka," ucap Paman sombong.
"Tapi, aku kok ga lihat mereka kesalip sama kita ya?" Tanyaku.
"Ya gimana kamu mau lihat. Setelah nangis-nangis lihat drama tadi, kamu tertidur. Artisnya yang nonton in kamu, bukan kamu yang nonton mereka," ledek Aiden.
"Ihh paman!" Aku mencubit pelan perut six-packnya.
"Btw, uncle Mike, ajudan paman itu ga ikut ya?" Tanyaku.
"Tidak, untuk apa?"
"Bukannya paman bilang ada kerjaan di Bali?"
"No, aku hanya berbohong." Aiden menatap ke tepi jalan disana, menyuguhkan pemandangan indah bagiku. Kulit putih, hidung mancung, serta mata yang begitu indah membuatku harus meneguk air liurku beberapa kali.
"Paman, berbohong itu dosa lho. Nanti masuk neraka," celotehku seakan aku adalah anak kecil yang sedang menceramahi orang dewasa. Pria disampingku itu hanya bergeming tanpa kata. Aku menyadari ketampanannya, aku menikmati pemandangan yang sangat menyejukkan mata itu.
Namun, saat aku tengah menikmati pemandangan tersebut, suara ponselku tiba-tiba berbunyi. Tertera nama Cindyi disana. Aku sesegera mungkin mengangkatnya.
"Halo,Cin. Ada apa?" Tanyaku.
"Mila, kamu sudah sampai mana? Aku hampir saja tiba di resto," Tanyanya.
"Aku udah sampai dari sepuluh menitan."
"Ha? Cepat sekali?!" Pekik Cindy terkejut.
"Ya maklumlah. Mobil sport mewah dengan kecepatan seribu kali lipat dibandingkan dengan bus kalian, katanya." Aku mencibir Paman di dalam telepon. Sontak, pria yang sedang bergeming disana pun menoleh ke arahku. Mulut manyunku dengan gaya mencibir ala biang gosip, memang sengaja aku lakukan untuk menggodanya. Sorot mata yang mengerikan seakan menyiratkan jika dia ingin memakanku pun terpampang jelas disana.
Disisi lain...
Mike nampak tengah sibuk hari ini. Aiden menyerahkan semua tugasnya yang sudah menumpuk hari ini kepada Mike. Dia memeriksa segala dokumen disana. Untungnya, dia sudah memahami setiap perincian yang ada disana.
Tok tok tok...
Seseorang mengetuk pintunya.
"Masuk," ucap Mike yang masih sibuk membolak-balikkan dokumen di tangannya.
"Tuan Mike, ini beberapa dokumen yang perlu ditandatangani beberapa hari kedepan," ucap seorang karyawan dari Aiden.
"Hum." Karyawan tersebut meletakkan dokumen-dokumennya di mejanya. Setelah itu, karyawan tersebut pergi dari sana dan menutup pintunya dengan segera sebelum dia diterkam mentah-mentah.
"Arghhh! Gila! Pria itu sungguh bisa membuatku gila!" Pekik Mike dalam kantor Aiden sendirian. Pria tampan berkacamata itu mengacak-acak rambutnya saat melihat dokumen yang tak ada habisnya.
Three B hotel, Villa and Resto...
"Ehh, kok balik? Ga jadi ambil makan?" Tanya Paman saat melihatku kembali ke meja. Aku menggelengkan kepala kepadanya.
"Mila ga suka semuanya," ucapku lirih.
"Udah dong jangan badmood. Pesan saja yang ada disini. Paman yang bayar," ucap Paman.
"Bener nih paman?" Aku bersemangat saat kalimat tersebut keluar dari mulutnya. Paman mengangguk meresponku. Aku sesegera mungkin memanggil pelayan dan memesan segala makanan yang aku inginkan. Sesuatu yang pedas, asin dan manis mendominasi menuku kali ini. Aku memesan hampir semua jenis masakan yang memiliki cita rasa seperti yang telah aku sebutkan.
"Kamu yakin semuanya habis sendiri?" Tanyanya.
"Tidak termasuk sendiri sih. Kan ada dia juga ada paman." Aku tersenyum lebar kepadanya.
"Hum? Aku juga?" Aku hanya mengangguk kepadanya.
Beberapa saat kemudian...
"Ughh. Kenyang sekali." Setumpuk piring berada di depanku. Aku tak menyangka ternyata nafsu makanku bertambah beberapa puluh kali lipat sejak hadirnya dia di rahimku.
"Astaga, Mila. Lu makan banyak banget. Kalap, doyan atau apa nih?" Celetuk Cindy tiba-tiba.
"Gatau juga sih. Aku gampang lapar sekarang. Lu mau? Ambil aja gapapa," balasku menawarinya.
"Haih. Lu bener-bener deh. Mama lu padahal nyuruh lu buat ngurusin badan lho," Ucap Cindy menasehatiku.
"Iya, iya. Bawel. Ehh berangkat jam berapa? Duduk sini yuk," ajakku.
"Paman, saya permisi duduk sini ya," izin Cindy. Seperti biasa, penyakit seorang presdir dalam diri paman kambuh. Pria itu hanya terdiam, menatap ke arah ponselnya yang sedari tadi dipenuhi notif tak berujung. Sebuah telepon tiba-tiba masuk ke ponselnya.
"Mila, paman ke mobil dulu." Dia bahkan berucap begitu dingin seakan dia memang membenci yang namanya bersosialisasi.
"Mila, paman lu dingin amat sih. Ga kuat ah gue deket-deket sama dia," bisik Cindy.
"Lu emang ga risih apa?" Tanyanya.