One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 13: Tawaran yang Menggiurkan



"Aku... Aku habis dari berbisnis." Aku tersenyum canggung kepadanya.


"Berbisnis? Bisnis apaan?" Tanya Cindy.


"Tuh." Aku menunjuk ke arah segerombolan mahasiswi dan paman yang masih asyik berfoto disana. Nampak sekali wajah paman yang sudah begitu kesal, namun tetap melanjutkannya demi kesenanganku kali ini.


"Astaga, Mil. Lu..." Cindy menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia memalingkan wajahnya sebentar sebelum akhirnya menatapku kembali. "Lu keterlaluan sumpah."


Aku tak mengerti apa yang dia katakan. "Keterlaluan? Mengapa?" Tanyaku berpura-pura tidak tahu.


"Lu cewek paling ga peka yang pernah gue kenal!" Serunya.


"Ha?"


"Lihat wajah paman lu. Dia udah benar-benar ga tahan. Pengen marah, tapi ga bisa. Kasian dia," ucapnya.


"Biarin aja. Dia juga tadi nikmatin itu kok. Kamu aja yang ga tau. Udah ah nanti aja dibahasnya. Aku mau ke toilet dulu." Aku pergi meninggalkan Cindy lagi disana.


"Haih, susah punya sahabat gampang ngambek kek gini. Ehh tapi, ngapain dia ngambek ya dan sejak kapan Milaku yang lembut itu jadi pemarah?" Batin Cindy.


Beberapa saat kemudian...


"Sial! Gara-gara Mia, waktuku tersita hanya demi menuruti kemauan gadis itu. Sekarang, kemana lagi dia?" Gumam Aiden sambil menyusuri setiap sudut yang ada disana. Namun, dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan gadis itu sama sekali.


"Para mahasiswa dan mahasiswi universitas XY angkatan dan kelas 2020A, dimohon untuk segera masuk ke dalam bus yang telah terparkir di halaman," ucap salah seorang tim penanggung jawab rekreasi tersebut.


Dorrr dorr dorr...


Cindy yang mendengarkan pengumuman tersebut pun turut panik.


"Mila, lu udah selesai belum? Ayo cepetan!" Pekik Cindy membuatku turut panik.


"Iya, sabar. Kenapa sih?" Tanyaku dari dalam.


"Itu udah diumumin!" Serunya.


"Baiklah."


Walau aku tergesa-gesa, panik karenanya, namun aku masih tetap menjaga diriku dan sebuah nyawa kecil yang mulai tumbuh dalam rahimku.


Aku keluar dari sana dan Cindy spontan menarik tanganku. Cindy sama sekali tidak mengetahui pasal kehamilanku ini. Aku setengah berlari sambil memegangi perutku, takut terjadi sesuatu padanya.


"Stop stop." Paman memberhentikan kami di tengah jalan.


"Paman, tolong menyingkirlah. Kami harus segera masuk ke dalam bus," ucapnya.


"Ikut aku!" Titahnya dengan tatapan emosi.


"Kemana? Bukankah seharusnya anda sudah dengar?" Tanyaku.


Pria itu nampaknya tengah emosi akibat kejadian kali ini. Dia sama sekali tak menggubris ucapanku maupun Cindy. Dia malah menarik tanganku pergi dari sana.


"Cin, kamu masuk ke bis dulu. Jika aku tertinggal, aku bisa berangkat sama paman!" Seruku kepada Cindy.


"Beneran nih?" Tanyanya.


Aku mengangguk kepadanya, lalu menyeimbangi langkahku dengan Paman.


Satu hal yang selalu membuatku bingung adalah mengapa pria suka sekali menyudutkan wanitanya atau menghempitnya hingga tak dapat lari kemanapun.


Plakkk...


Pria mesum pun melakukan hal itu kepadaku.


"Paman, apa yang akan kau..." belum sempat aku merampungkan kalimatku, pria itu sudah mengecup bibirku dan ********** dengan lembut tapi mendominasi. Entah sejak kapan aku begitu tertarik padanya, tergantung padanya hingga aku pun tak dapat terlepas dari jeratannya. Aku menikmatinya, sungguh menikmati bibir merah miliknya. Wajah tampannya itu seolah mengisyaratkan kepadaku untuk tidak pernah meninggalkannya.


Jujur saja, aku memang tak sanggup kehilangannya. Gila memang, tapi itulah faktanya. Tubuhku belajar tuk menerimanya,namun tidak dengan hatiku dan akal sehatku.


Lama sudah dia ******* bibirku hingga puas, kini dia melepaskan kecupan diantara kami.


"Ti-tidak," ucapku gugup. Aku bahkan tak berani menatapnya. Aku menatap ke arah sembarangan di bawah sana.


"Kau harus bertanggung jawab malam ini. Aku akan menghukummu yang pantas," bisiknya di telingaku.


Hal itu membuat telingaku pun memerah. Dia menggigit telinga bagian kanan milikku dan aku mengerang dibuatnya.


"Ta-tapi paman..." Suaraku mulai bergetar tak terarah.


"Tapi paman, ada dia," lirihku.


"Dia sudah berada disini lima bulan lamanya." Pria itu mengelus perutku lembut. Suasana hangat pun terasa. "Aku yakin dia sudah kuat."


"Ya, dia mungkin kuat tapi aku tidak!" Batinku.


"Paman, berhentilah menggodaku. Ayo kita berangkat sekarang," ucapku mengalihkan perhatiannya.


Aku pergi meninggalkannya yang masih bergeming disana.


"Kau bisa lolos disini sekarang,Mia. Tapi, lihat saja nanti kalau kita sudah tiba di Bali."


Paman mengikutiku dari belakang. Kami pun akhirnya berangkat dari sana mengenakan mobil pribadi milik Paman.


Sepanjang perjalanan, keheningan diantara kami pun mulai tercipta. Aku mulai merasa jenuh. Aku membayangkan jika bersama dengan mereka, akan sangat mengasyikkan.


"Huhh..." aku menghela nafas begitu berat.


"Kenapa? Bosan?" Tanya Paman.


Aku menatap ke arahnya dan mengangguk. "Ya, tidak ada candaan, tidak ada tv, tidak ada lagu..." Aku mengeluh kepadanya, berceloteh semauku, entah itu membuatnya ilfeel atau tidak, namun itulah tujuanku.


Bukannya badmood, pria disampingku itu malah nampak sangat menikmatinya.


"Paman, aku cerita. Kok malah senyum-senyum sendiri!" Protesku. "Lagi mikirin siapa sih?" Aku melipat kedua tanganku, bersendekap merajuk kepadanya, memalingkan wajahku sembarangan.


"Kamu," jawabnya singkat, namun dapat membuat jantung siapa saja serasa akan melompat.


"Aku?"


"Ya, siapa lagi? Makanya, kalau cemburu ngomong dong. Paman banyak yang suka lho. Ati-ati dibooking wanita lain," ucapnya menggodaku.


"Bodo!"


"Udah, jangan ngambek."


Paman memencet tombol yang entah tombol apakah itu. Aku melirik sekilas dengan tatapan sinis,namun juga ingin tahu. Sebuah televisi muncul dari sana, televisi mini yang bahkan lebih canggih dibandingkan dengan di mobil Ayah.


"Kamu bisa dengerin musik atau nonton film disini. Ada netflix, ada youtube juga. Terserah," ucapnya, kemudian kembali fokus menyetir.


Aku mulai memencet tombol-tombol yang ada disana. Ku geser layar mini itu dan memang ku temukan berbagai jenis aplikasi disana. Bukan hanya youtube dan Netflix, aku bahkan melihat beberapa aplikasi game, baca komik maupun novel disana. Aku memutuskan untuk menonton drama korea disana. Drama korea favoriteku "Woo Ri the Virgin" yang baru saja dirilis tahun ini. Sayangnya, Setiap episode yang ada di dalamnya mengingatkanku pada kejadian hari itu, hari dimana awal mula kesalahan ini terjadi.


Aku menangis sesenggukan. Paman yang biasanya begitu cuek pun melirikku sekilas, aku dapat merasakannya.


"Nih tisu."


Dia menyodorkan selembar tisu kepadaku. Aku mengangkat kepalaku dan meniliknya. "Makasih, Paman."


Aku yang dulu selalu menjaga kehormatanku, aku yang walau berpacaran pun tidak mau disentuh hingga pada akhirnya aku diselingkuhi pacarku sendiri dengan alasan aku tidak mau tidur dengannya. Alasan tidak logis yang menurutku memang pantas untuk meninggalkannya.


"Kenapa kamu nangis sih? Kan cuman film," ucapnya dengan enteng.


"Cuman? Paman tau, kisah ini memang berbeda dengan kita."


"Lalu?"


...****************...


Yang bertanya kenapa tiba-tiba usia kandungan Emilia berubah, mungkin bisa kembali ke Part 11 ya guys. Aku lupa memberikan keterangan tentang itu🤭🤭🤭