
Perhatian kami pun seketika tertuju padanya. Hal yang lebih membuatku terkejut adalah fakta bahwa pria itu adalah pria yang tidur denganku dua bulan yang lalu.
"Oh tuhan, apa kau sedang mempermainkan takdirku lagi? Bagaimana mungkin pria itu adalah pamanku sendiri?" Batinku.
"Hai kakak, kakak ipar, Ayah, ibu. Apa kabar kalian?" Tanyanya dengan ramah.
Dia berjalan ke arah kami. Aku berusaha untuk memalingkan wajahku, berharap dia tidak mengenaliku apalagi sampai mengungkapkan kejadian malam itu.
"Ehh siapa gadis ini?" Tanyanya berpura-pura tidak tahu.
"Kau pikir aku tidak melihatmu? Humph. Dengan kemampuanku, aku dapat melacak keberadaanmu dengan mudah. Dasar bodoh," Batinnya setengah mengumpat padaku dalam hati.
Hatchuu...
"Mila, kau tak apa?" Tanya bunda.
"Gapapa ma. Hanya merasa sedikit dingin. Sepertinya, ada orang yang diam-diam mengumpat padaku," jawabku sambil menatapnya sinis.
"Oh ya sayang. Kenalin dia adalah Aiden Zhao. Paman kamu yang baru saja kembali dari USA. Aiden, dia adalah anakku. Namanya Emilia," ucap Ibunda memperkenalkan kami kepada satu sama lain.
Aku menjabat tangannya canggung. "Emilia."
"Aiden." Tak ada sepatah katapun lagi yang terlontar dari mulut kami. Namun, entah mengapa aku dapat merasakan ada senyum licik di wajahnya seakan dia akan menjadi ancaman terbesar bagiku kedepannya.
"Aiden, kamu duduk di sebelah Mila ya. Ibu sudah menyuruh bi Rena memasak makanan spesial untukmu," ucap nenek.
"Hummm. Ibu memang yang terbaik."
"Apakah dia pria kejam dua bulan lalu? Dia bahkan sangat berbeda dari saat dirinya menolongku kala itu. Ternyata, dia adalah pria yang hangat pada keluarga," Batinku.
Aku tersenyum canggung padanya saat dia duduk disampingku. Tangannya yang besar itu, mulai menyentuh pinggangku.
"Paman, tolong jaga sikap anda," ucapku berbisik lirih.
"Haha. Jika kau tidak ingin mereka tahu tentang kita, jangan terlalu banyak melawan," ucapnya lirih, namun mendominasi.
"Aku tarik kata-kataku tadi," Batinku.
Acara makan pun telah selesai. Kini saatnya bagi pria mesum itu membagikan hadiah kepada kami semua. Ya, pria mesum adalah julukan yang paling tepat untuk menggambarkannya saat ini.
Aku membuka bingkisan yang dia berikan. Sebuah dress cantik dan lucu dia berikan padaku. Aku yakin, dress ini bahkan memiliki harga setara dengan total dua hingga lima baju termahalku.
"Terimakasih paman," ucapku.
"Aiden, bagaimana kamu tahu ukuran Mila? Bukankah kalian baru bertemu?" Tanya ibunda yang mulai curiga.
"Mudah saja. Aku dapat membayangkan postur tubuhnya. Pasti tidak jauh berbeda dengan anak seusianya bukan?" Jawab Aiden santai.
Ibunda masih nampak tak percaya dengan jawaban Aiden. Namun, sesegera mungkin beliau menyingkirkan pikiran buruk tentang kami.
"Nahh Aiden. Kamu mau tidur disini kan malam ini?" Tanya nenek.
"Hum. Sudah lama tidak kemari, tentu saja harus menginap." Pria itu lagi dan lagi menatap ke arahku dengan senyum liciknya itu. Tatapan aneh yang membuatku merasa terancam, bahkan tidak nyaman. Aku berusaha mengelak dari tatapannya, namun dia bebas melakukan apapun yang dia inginkan. itulah sifatnya.
"Please, jangan terus menatapku. Mereka akan curiga akan itu," Batinku.
"Baiklah. Kamu pilih salah satu kamar saja. Biar bi Rena yang membersihkannya," ucap nenek.
"Aku mau kamar di lantai dua. Sebelahnya kamar keponakanku tersayang ini," ucapnya sambil merangkulku.
"Haha. Kau mau mengakrabkan dirimu kepada Mila? Baguslah kalau begitu. Biar Mila ga nakal lagi kalau ada temannya."
"Baik tuan muda."
"Ayo mas ganteng. Bibi akan membawa mas ganteng ke kamar tuan muda."
"Ayah, sini sebentar deh," ucap bunda memanggil ayah.
"Ada apa sayangku?" Tanya Ayah.
"Kamu merasa ada yang aneh tidak saat Aiden berjumpa dengan Mila? Seperti mereka sudah saling mengenal dan memiliki hubungan yang spesial," ucap Bunda memulai gosip diantara mereka.
"Ngaco! Mana mungkin Adik kamu itu memiliki hubungan spesial dengan keponakannya sendiri. Kayak ga ada wanita lain saja."
"Tapi kenyataannya Aiden hingga saat ini tidak pernah dekat dengan wanita manapun akibat penyakit psikis anehnya itu. Namun, saat dia melihat dan menatap Mila, itu benar-benar berbeda," ucap bunda.
"Bun. Sadar lah. Jikalau memang ada rasa tertarik, itu hanya rasa tertarik seorang paman kepada ponakannya. Jika kamu masih khawatir, kamu bisa membujuk Aiden untuk memperkenalkan wanita yang dia cintai kepada kita. Umurnya pun sudah tidak muda lagi," timpal Ayah.
"Benar juga. Baiklah, sudah diputuskan. Nanti aku juga dapat menyuruh ibu untuk mengundang cucu dari temannya itu yang seusia dengan Aiden. Seingatku, dulu Aiden pernah bermain cukup akrab dengan cucu dari teman ibu."
"Sudahlah. Ayo kita tidur. Besok baru bahas lagi."
Disisi lain...
Saat aku hendak kembali ke kamarku setelah aku pergi ke kamar mandi, pria itu mencegatku tepat di depan pintu kamarku.
"Hei keponakan paman. Tidak mau menyapaku begitu? Sopankah?" Tanya pria itu.
Plakk...
Dia memojokkanku dan mengunciku diantara badannya yang kekar dengan dinding kamarku.
"Kau adalah canduku. Jujur saja, aku sampai tidak bisa tidur jika mengingat kejadian malam itu," ucapnya.
"Kau gila! Pria mesum, aku adalah keponakanmu. Hubungan kita ini sudah salah sejak...."
Belum sempat aku merampungkan kalimatku, pria itu telah membungkamku dengan c*mb*annya yang tepat pada bibirku.
Aku membelalakkan mataku dengan sempurna dan sekuat tenaga aku mendorongnya.
"Hummmm... humm..."
Aku meronta sekuat tenaga. Sayangnya, tenagaku tidak lebih besar darinya bahkan sangat jauh dibandingkan dengannya. Akhirnya, aku hanya bisa pasrah dan menikmati setiap hasrat darinya, hasrat yang mengalir begitu hangat. Menembus hati dan jiwa. Yang awalnya hanya di bibir, kini merangkak hingga ke seluruh tubuh. Nahasnya, bi Rena tanpa sengaja lewat dan mengetahui hal tersebut. Sontak beliau terkejut hingga menutupi mulutnya.
"Tu-tuan muda... No-nona... A-apa yang kalian lakukan?" Ucap bibi saat terkejut.
Kami melepaskan satu sama lain dan berbalik ke arahnya.
"Ini... ini tidak benar. Kalian adalah saudara! Aku akan memberitahukannya kepada tuan besar dan nyonya besar!" Ancam bi Rena.
Dengan sigap, Aiden menangkap wanita tua itu.
"Jika bibi berani mengadukannya, saya jamin bibi akan menyesal," ancam Aiden kembali.
Bi Rena akhirnya memilih pergi dan membungkam mulutnya rapat-rapat atas kejadian kali ini.
"Paman, ini bukanlah hal yang baik. Aku tidak ingin berhubungan lebih dari sekadar paman dan keponakan denganmu," tegasku padanya.
Aku pun masuk ke dalam kamarku dan menguncinya rapat-rapat. Aku memeluk diriku dan mengutuknya sendiri, merasa bersalah kepada semua, merasa berdosa pada semua.
"Bodoh! Kau bodoh, Mila! Bagaimana kau bisa lagi dan lagi terlena akan dirinya? Dia adalah pamanmu! Sadar Mila , sadar!" Batinku.