
"Lu emang ga risih apa?"
"Enggak. Menurut aku sih Paman tidak sedingin itu. Dia begitu hangat..." Aku mengingat semua perlakuannya kepadaku selama ini.
"Ya lu kan keponakannya. Beda lah. Tapi, lu beneran ga aneh-aneh lagi sama dia kan," timpal Cindy.
"Eng-enggak. Mana mungkin? Paman juga sudah memiliki perjodohan sama wanita lain," jawabku.
"Walau sebenarnya aku sama sekali tidak menyetujuinya," gumamku lirih.
...****************...
Pukul 16.30 WIB...
Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke destinasi wisata selanjutnya. Tentu saja, aku masih bersama dengan paman. Banyak hal yang kami ceritakan kali ini tidak seperti tadi yang sunyi dan senyap.
"Paman," panggilku.
"Hum?"
"Paman tau ga tadi Cindy ngomong apa tentang paman?" Tanyaku memancing obrolan diantara kami.
"Tidak." Dia menjawabnya dengan singkat, padat dan jelas.
"Paman!" Pekikku.
"Hum?"
"Kok ngeselin sih. Aku turun lho," ancamku.
"Turun aja kalau berani. Lihat tuh pinggir-pinggir," ucapnya menakutiku.
Aku terdiam, mengurungkan niatku untuk kabur.
"Kenapa? Ga jadi melompat?" Tanyanya.
"Ga jadi ahh. Males ngomong sama paman," Jawabku.
Beberapa saat kemudian...
Kami pun telah tiba di sebuah pelabuhan. Paman keluar dari mobil mewahnya dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Aku sedang terlelap dalam mimpiku hingga aku merasa mobil itu sudah tidak berjalan lagi. Namun, saat pertama kali aku membuka mata, tak ada seorang pun disisiku. Pria itu menghilang dalam sekejap mata.
"Paman! Paman kemana?!" Teriakku ketakutan.
Beberapa orang terlihat sedang berjalan mendekat. Aku mengunci pintu mobil sport itu rapat-rapat dan menggunakan mode senyap pada mulutku. Beruntung sekali mobil paman begitu gelap, sehingga tidak ada orang diluaran sana yang dapat mengintipnya. Aku mencoba merogoh ponselku untuk menghubunginya.
"Ayo, paman. Angkat teleponnya," gumamku.
Sayangnya, ponsel paman berdering di sebelahku yang menandakan dia tidak membawa ponselnya.
"Sial! Paman kemana sih?" Umpatku sendirian.
Hingga beberapa saat kemudian, paman kembali dengan dua buah tiket disana. Dia mengetuk kaca mobil saat berusaha membuka mobilnya, namun tidak bisa terbuka.
"Mia, Ini aku," ucapnya.
Aku meraih tombol kunci itu untuk membukanya. Paman pun akhirnya berhasil tiba di dalam. Sontak, aku langsung memeluknya dalam-dalam seakan tak ingin terlepas darinya.
"Paman, aku takut," ucapku lirih.
Aiden akhirnya mengerti bila keponakannya itu, aku, sedang ketakutan setengah mati. Dia pun membalas pelukanku dan berbisik lirih, "Jangan takut. Paman tidak akan meninggalkanmu lagi,ok?" Paman mengecup kepalaku layaknya seorang kekasih yang menenangkan wanitanya. Namun, hal tersebut memang berhasil membuatku merasa lebih tenang.
"Udah ya, nanti kita ga sampai-sampai lagi," ucap Paman yang akhirnya melepaskan pelukannya.
Paman mulai mengemudikan lagi mobilnya, menuju ke garasi kapal yang bawah, namun satu hal yang baru ku sadari. Paman tidak pergi ke kapal yang sama dengan bis kampusku.
"Ehh stop. Stop. Paman, kita kok masuk kapal ini? Kok ga sama kayak kapal yang itu?" Tanyaku kebingungan.
"Cihh. Aku tidak menyangka paman begitu sombong," cibirku.
"Haha. Sudah sudah. Lagipula, kau paling tahu sifatku. Aku tidak suka keramaian. Aku suka privasi. Tidak peduli murah atau mahal, selama aku bisa mendapat privasiku, aku juga tidak masalah," timpalnya.
"Ya, ya. Terserah paman saja."
Kami berdua turun dari mobil yang telah terparkir dengan rapi. Tentu saja, bagasi kapal yang kami naiki tidak seperti bagasi kapal pada umumnya. Begitu rapi, bersih dan berkilau. Tidak bau amis atau bau apapun itu. Aku meyakini bila kapal ini setidaknya sekali naik harganya setara dengan menyewa bus atau mungkin lebih.
"Mia, kita naik ke dek paling atas yuk," ajaknya.
"Bukannya paman tadi mengatakan nanti bisa masuk angin?"
"Tch." Dia berdecit dan memutar bola matanya. Dia melupakan hal penting tersebut. Aiden membuka jasnya lagi dan dia pakaikan ke badanku yang memang sedari awal sudah mengenakan pakaian yang cukup tebal.
"Tapi, paman ga kedinginan?" Tanyaku.
Dia menggelengkan kepala, "Ayo jalan. Aku yakin kamu pasti akan suka."
Beberapa saat kemudian...
Aku dan Paman telah tiba di dek kapal teratas. Benar yang Paman katakan. Pemandangan malam yang begitu indah. Aku berdiri tepat di tepian kapal. Terdapat besi pembatas disana. Angin berhembus kencang, menerpa wajahku cukup kencang. Aku menutup mataku, melupakan segala kekesalanku, rasa takut dan khawatir jika sesuatu terjadi di luar kehendaknya. Aku menarik nafas dalam-dalam, sebelum akhirnya aku menghempaskannya begitu kuat.
"Mia." Suara berat Paman sanggup membuyarkan lamunanku yang dalam. Perlahan, aku membuka mata dan hal pertama yang ku lihat adalah wajah tampannya.
"Paman, ada apa Paman kemari?" Tanyaku.
"Apakah kamu mau melihat sesuatu yang indah?" Tanyanya balik.
"For example?"
"Berdiri di ujung kapal seperti dalam film kesukaanmu," jawabnya.
"Titanic?"
Paman hanya mengangguk pelan meresponnya. Saat mendengar itu, aku begitu antusias dan langsung menggaet tangannya, "Ayo Paman. Aku mau kesana!" Aku berlari pelan seperti anak usia tiga tahun saat ditunjukkan sebuah mainan baru.
"Pelan-pelan, Mia. Kasihan dia," ucap Paman lirih sembari memegangi perutku.
Aku menghentikan langkahku. Hampir saja aku terlupa dengan hadirnya dalam diriku. Aku tersenyum dan akhirnya berjalan normal dengan menggandeng tangannya. Ternyata, tempat itu tidak begitu jauh, namun memang bagus adanya. Paman bersandar pada besi pembatas disana. Angin yang berhembus dengan kencang menerpa rambutnya, sungguh indah, dia tampan. Tanganku terasa gatal jika aku tidak mengambil potret dirinya.
Cekrikkk... cekrikk. Cekriikkk..
"Wahh, Paman kayak foto model," ucapku.
Paman tersadar setelah aku memotretnya diam-diam. "Apa kau begitu tertarik padaku? Jika ingin memotretku, langsung katakan saja."
"Baiklah, baiklah. Paman sekarang berdiri disana dan biarkan aku memotret paman."
Paman bergaya bak model papan atas. Bagaimana aku tidak tergila-gila dengannya. Dia bahkan lebih tampan dari oppa-oppa korea yang setiap hari ku lihat melalui utub.
Paman tiba-tiba menarikku mendekat. Aku menatapnya dan dia pun menatapku. Seseorang lewat di depan kami dan memotretnya spontan.
Plok plok plok...
"Kalian adalah pasangan suami istri yang begitu memukau," ucap pria tersebut.
"Oh ya, perkenalkan nama saya Edwin Sanjaya. Saya adalah seorang fotografer sekaligus pemilik PT. Sanjaya group yang bergerak dibidang pemotretan sekaligus perancangan juga menangani masalah pernikahan tentunya, Wedding Organizer," ucap pria itu memperkenalkan diri.
"Apakah PT. Sanjaya yang terkenal itu? Semua artis dan kalangan kelas atas menyewa jasanya. Jasa WO nya sangat terkenal. Tim MUA nya juga terkenal bukan hanya untuk pernikahan, namun dalam make up apapun. Bertemu dengan orang hebat sepertinya menarik. Hum, boleh lah minta nomornya jika suatu saat aku wisuda atau menikah, aku akan meminta mama menyewa jasanya saja," Batinku.
"Maaf. Saya tidak terlalu kenal dengan pembisnis di negeri ini. Saya sudah lama menetap di luar negeri. Omong-omong, nama saya Aiden Zhao, presdir PT. Zhao Corporation. Sedangkan dia adalah Emilia Zhao, kekasih saya," ucap Paman memperkenalkan aku dan dia.
"Tunggu, ini tidak benar? Mengapa kekasih?" Batinku.