
Aku dan Cindy telah tiba di sebuah taman belakang kampus yang jarang dikunjungi oleh mahasiswa. Kami biasa menyebutnya sebagai markas.
"Udah udah lepasin. Capek tau," protes Cindy.
"Udah ceritain ada apa? Kenapa harus pake rahasia rahasia segala sih?" Tanya Cindy.
"Janji ya lu jangan kaget," ucapku.
Cindy mengangguk. Matanya berbinar seakan dia menantikan jawaban dariku atas pertanyaannya yang menghujaniku.
"Kamu tau kan kalau keluargaku melarang untuk pacaran?" Aku mulai bersiap menceritakan segalanya.
Cindy hanya mengangguk.
"Kevin... Dia selingkuh. Lebih parahnya lagi, selingkuhannya lapor ke keluarga ku," ucapku.
"WHAT?! SERIUS LU?!" Pekik Cindy dengan keras.
"Sttt. Jangan berisik!" Seruku.
"Ok ok maaf. Terus gimana?"
"Nahh akhirnya, semua aset milikku diambil dong. Aku ke kampus pake taksi kalau ga ya ojek."
"Ohh makanya akhir-akhir ini aku ga pernah lihat mobil kamu. Tapi, bukan ini kan alasanmu tidak pulang?" Tanya Cindy.
Aku hanya menggelengkan kepala.
"Aku mau tanya satu hal sama kamu," ucapku.
"Hum?"
"Kamu kemarin jawab apa ke mami?" Tanyaku.
"Aku bilang iya kamu tidur di aku. Kamu sudah tertidur pulas dan aku tidak tega membangunkanmu," jawab Cindy.
"Unch unch sayang Cindy deh. Nanti aku traktir kamu makan deh."
"Udah. Ga usah mengalihkan topik. Katakan yang sebenarnya, apa yang terjadi?" Tampang Cindy mulai serius kali ini.
"Aku... aku kemarin tidur di bar...," ucapku lirih.
"Tidur di bar? Kok bisa?"
"Ada preman membawaku ke sana. Mereka menjualku ke seorang pria hidung belang. Udah gendut, jelek, bau lagi. Lu bisa bayangin lah. Rasanya mau muntah pasti," jawabku.
"Terus terus? Lu tidur sama cowok itu?" Tanya Cindy yang terlihat mulai antusias.
"Yee. Kaga lah. Aku ditolong sama orang. Tapi, aku dikasih obat dan..."
Cindy memotong ucapanku "biar ku tebak, kau pasti semalam tidur dengan pria tampan dan kaya raya yang nyelametin lu dan kemeja yang lu pake saat ini itu kemeja dia. Benar kan?"
Cindy menjawabnya dengan tepat.
Aku mengangguk menyetujuinya. "Kamu kok bisa tahu?"
"Hehe. Banyak kali cerita begitu. Tapi, seriuusan itu bener?" Tanya Cindy.
Aku mengangkat bahuku. "Aku juga tak tahu. Sementara ini, anggap saja begitu," jawabku.
...*...*...
Beberapa saat kemudian...
Aiden berhasil mendapatkan proyek penawaran pembangunan universitas Sriyanka. Pria itu tersenyum lebar setelah sekian purnama dia menghilangkan senyumnya dari muka bumi. Semua orang terheran-heran dibuatnya. Apa yang hebat dari proyek kali ini? Bahkan, Aiden sudah sering menangani proyek internasional yang jauh lebih besar daripada proyek kali ini.
Ada apa ini? Apakah kiamat sudah mulai dekat?~Batin Mike.
Sedangkan itu, disisi lain...
"Mia, bareng aku aja yuk. Aku anterin kamu pulang," ucap Cindy menawarkan tumpangan.
"Rumah kita kan jauh. Sama aja kayak kamu bolak balik dong," jawabku.
"Gapapa. Nanti pasti kamu perlu aku buat bantu kamu jawab. udah, naik aja."
"Ok ok."
Aku menyetujui ajakannya. Yang dia katakan memang ada benarnya. Untuk saat ini, aku hanya dapat menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Biar hanya dia, pria itu dan tuhan yang tahu apa yang terjadi semalam.
Beberapa saat kemudian...
"Aku pulang!" Seruku saat aku turun dari mobil milik Cindy.
Cindy pun turut turun menemaniku dengan alasan mampir dan bermain.
"Permisi tante, om, kakek. Cindy boleh kan main disini? Ortu Cindy lagi ga dirumah om, tante," ucap Cindy sungkan.
"Oh gapapa. Sini sini. Kebetulan kita akan makan. Kamu ikut makan saja disini," jawab mereka ramah.
...*..*...
Dua bulan kemudian...
Suara ayam tetangga berbunyi dengan nyaringnya. Sinar mentari pun menerpa, menerobos masuk ke dalam ruang kamarku, menyilaukan netraku. Saat aku terbangun dari tidurku, aku merasa sesuatu tidak nyaman pada perutku. Rasanya aku ingin mengeluarkan semua makanan yang berada di dalamnya.
"Ughhh..."
Aku buru-buru berlari ke kamar mandi yang berada tak jauh dari kamarku.
"Hoekkkk..."
Ya, pagi ini aku berhasil mengeluarkan seluruh isi yang ada dalam perutku.
"Kenapa ini? Perasaan, kemarin baik-baik aja. Apa aku masuk angin ya?" Gumamku.
"Ahh sudahlah. Mending sekarang aku mandi terus ajak Cindy jalan-jalan. Mumpung weekend nih."
Aku membersihkan diriku dan bersiap menelepon Cindy.
...*...*...
Bip bip...
Suara klakson mobil Cindy yang khas, telah terdengar nyaring hingga kamarku yang terletak pada lantai kedua rumahku. Aku berlari kecil menuruni anak tangga dan menyambut kehadirannya.
"Tumbenan lu ngajakin gue jalan. Biasanya mager," celetuknya.
"Gatau sih. Aku keknya pen jalan-jalan gitu. Cari baju yang imut-imut sekalian aku pengen makan gado-gado atau rujak gitu atau manisan buah juga boleh," ucapku.
"Ha? Rujak? Sejak kapan lu suka rujak? Lu ga lagi kerasukan kan?" Tanya Cindy.
Aku hanya menggeleng. "Udah pokoknya kita makan rujak dulu terus nanti kita cuss jalan-jalan. Aku kan juga udah janji mau traktir kamu makan."
"Ok lah. Btw bestie, lu kelihatannya kok makin gendut?" Tanya Cindy heran.
"Masa sih?"
"Suer deh. Nanti lu tanya nyokap lu pasti jawabannya sama."
Jangan tanyakan aku mengapa aku tiba-tiba menginginkannya. Jujur saja, aku pun tak tahu,~Batinku.
Sebuah warung makan nampak begitu ramai orang mengantri disana. Berjajar-jajar motor hingga mobil yang mengantri pesanan mereka. Sebut saja warung rujak mbok siti. Dikalangan pecinta rujak, dkk, warung inilah yang terlaris. Ayah pernah sekali mengajakku kemari. Ku akui, bagi diriku yang anti rujak, rujak disini memang sangat nikmat.
"Ok aku mau rujak buah satu sama rujak cingur satu," pesanku.
"Buset. Banyak amat, Mia. Lu katanya mau diet?" Tanya Cindy.
"Kali kali, Cin. Mumpung pengen," jawabku.
"Serah lu deh."
Setelah pesanan kami tiba, kami memakannya dengan sangat lahap. Namun, saat aku mencium aroma parfum yang lumayan pekat dari seseorang, rasa mual mulai mengunjungiku lagi.
"Ughh. Bau apa sih ini? Ga enak banget. Bikin mual," protesku.
"Mia, lu gapapa kan?" Tanya Cindy.
"Aku ingin..."
"Bu permisi, toilet ada disebelah mana?" Tanyaku.
"Neng masuk ke dalam terus lurus saja. Nanti ketemu dua bilik, nahh disitu kamar mandinya," jawab mbok siti.
"Baik. Terimakasih."
"Mia, perlu gue anterin?" Tanya Cindy.
"Gak. Kamu lanjut makan aja."
Benar saja. Aku lagi dan lagi mengeluarkan semua yang baru saja ku makan.
Ada apa denganku ini? Jangan-jangan... gak, gak mung6kin kan? Masa sekali langsung... tapi, memang seharusnya aku sudah datang bulan sejak dua bulan lalu... Tidak, aku harus mengajak Cindy pulang. Nanti aku akan diam-diam membeli tespack,~Batinku.
Aku keluar dan langsung menghampiri Cindy yang masih dengan nikmatnya menyantap rujak dihadapannya.
"Cin, yuk kita pulang," ajakku.
"Lho? Ga jadi ngemall?" Tanya Cindy.
"Ga dulu deh. Keknya aku kurang enak badan nih. Nanti mampir apotek dulu ya. Gapapa kan?"
"Gapapa lah. Yaudah kalau begitu, yuk pulang."
Aku beruntung memiliki sahabat sepertinya. Dia selalu ada saat ku membutuhkannya dan aku pun berusaha untuk memberikan yang terbaik untuknya.