
Sesampainya di kampus...
Aku memarkirkan mobil seperti biasanya. Aku melihat Cindy yang juga baru datang dengan mobil sportnya bewarna merah.
"Ciee yang mobilnya udah balik," ucap Cindy menggodaku.
"Iya dong. Aku kan baik akhir-akhir ini. Makanya dikasih lebih cepat deh mobil ini," timpalku.
"Gimana kabar lu? Kemarin lu pucet banget. Kenapa?" Tanya Cindy menyelidik.
Aku tidak boleh berterus terang pada Cindy kali ini, ~Batinku.
"Tidak ada apa-apa kok. Ternyata, aku hanya kebanyakan makan pedas terus kecapekan dan kurang tidur aja," jawabku berbohong.
Maafkan aku,Cindy. Kali ini aku harus berbohong dulu kepadamu. Suatu saat, aku akan mencari waktu yang tepat untuk memberitahukan hal ini kepadamu, ~Batinku.
Dia pasti berbohong. Dia selalu tidur lebih awal dibandingkan denganku. Bagaimana mungkin dia kelelahan dan kurang tidur? Dia ada pembantu dan sedangkan dia tidur lebih awal. Apa ada orang yang kurang tidur saat dia bahkan tidur pukul 9 malam dan bangun pada pukul 6 pagi?~Batin Cindy.
"Mila, kita mampir kantin dulu yuk. Kan masih ada setengah jam lagi," ajak Cindy.
Aku mengangguk setuju padanya.
Saat kami berjalan menuju kantin, tiba-tiba aku bertabrakan dengan seseorang.
Brukkk...
"Kalau jalan lihat mata dong woy!" Seru Cindy yang ikut terkejut aku ditabrak olehnya.
Pria itu membuka kacamatanya. Aku mengingat wajahnya dengan jelas. Yap, dia adalah pria pada malam itu. Aku masih mengingat jelas bola matanya yang bewarna hijau kebiruan. Aku mengagumi keindahan pada netranya.
Flashback on...
"Aku sangat menyukai matamu. Sayangnya, kau pria paling brengjek yang pernah ku temui," ucapku malam itu.
Dia hanya terdiam dan melanjutkan permainannya hingga kami terbuai dan melupakan segalanya.
Flashback off...
Kilasan kejadian malam itu berputar di kepalaku, membuatku tersipu malu saat menatapnya.
"Kamu..."
"Anda salah orang." Aku buru-buru menarik tangah Cindy menjauh darinya.
"Lu kenapa sih, bestie? Pria setampan itu malah lu narik-narik tangan gue. Atau jangan-jangan, lu ada masalah ya sama dia? Ngaku lu!" Seru Cindy.
"Apa sih? Mana mungkin aku ada hubungan dengan pria sepertinya. Aku ini hanya semut kecil. Mana pantas mendapatkannya, "ucapku mengelak
"Aku tidak mengatakan bila kau ada hubungan. Ohh atau jangan-jangan, lu secara tidak langsung mengakui lu ada hubungan dengan dia?"
"Ahh bodo amat. Badmood gue!"
Sejak hadirnya dia dalam diriku, aku menjadi semakin uring-uringan. Badmood selalu melanda. Aku bahkan terkadang kasihan terhadap Cindy yang selalu menjadi sasaran amarahku.
"Hei. Aku ga salah apa-apa. Kenapa kamu malah marah? Ayolah Mila. Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu marah ga jelas ke aku sih?" Tanya Cindy heran. Cindy berlari kecil dan mengejarku yang terus berjalan tanpa berhenti ke arah kantin.
...*...*...
Mata kuliah terakhir hari ini pun telah berlalu begitu saja.
"Maaf. Malam ini, pamanku akan datang. Dari aku kecil hingga aku sebesar ini, aku belum pernah melihatnya. Jadi, aku ingin bertemu dengannya," jawabku yang terdengar sedikit antusias.
"Aku ingin tahu orang hebat seperti apa dia. Kau bahkan tau sendiri kan kehidupan keluargaku saat ini berkat siapa?" Sambungku.
"Yahh. Sayang banget. Ok lah gapapa. Jika begitu, kamu kabari aku saja kapan bisanya,ok?" Ucap Cindy.
"Ok."
"Ehh. Jangan lupa kasih foto ya. Aku ingin lihat. kata mama kamu kan Pamanmu juga masih muda. Kalau tampan lumayanlah buat aku," bisik Cindy.
"tch. Pria saja pikiranmu itu." Aku menyentil dahi Cindy.
Saat aku pulang, aku teringat bila masih ada nyawa yang harus aku pedulikan. Aku mampir ke sebuah minimarket untuk membeli susu untuk ibu hamil dan beberapa vitamin untuk mempertahankan diriku sendiri dan benih ini.
"Totalnya 450 ribu, bu," ucap sang kasir.
"Terimakasih, mbak."
Haih. Gara-gara aku membeli susu ini, aku jadi dipanggil bu kan? Aku yakin bahkan karyawati itu lebih tua dariku, ~Batinku.
Aku menghela nafas berat. Aku berjalan menuju mobil dan kemudian pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah...
Aku menyeduh susu yang baru saja kubeli. Beruntung, dikamarku tersedia dispenser yang membuatku lebih mudah untuk menyembunyikan rahasia ini dengan aman. Setelah membuat susu, aku selalu menyimpannya di tasku hingga tak ada satu orang pun yang mengetahuinya.
...*...*...
Waktu begitu cepat berlalu. Langit pun mulai meredupkan cahayanya, berubah menjadi gelap ditemani dengan gemerlapnya cahaya bulan dan bintang yang bertaburan disana. Ditambah dengan pemandangan lampu di kota yang indah, namun suara bising masih nyaring terasa.
Aku berdandan cantik atas perintah dari orang tuaku. Sepatu baru, dress mewah beserta semua pernak pernik menghiasi tubuhku. Walau perutku terlihat tidak sedatar dua bulan yang lalu, namun masih dapat dikatakan itu belum terlalu nampak saat ini. Mereka menyebutku Emilia si cantik dan body goals. Banyak pria berbondong-bondong mendekatiku. Sayangnya, aku malah memilih untuk berpacaran dengan pria tak tahu diri yang bahkan menyebabkan malapetaka ini untukku. Aku sungguh bodoh, aku sungguh menyesal. Ku harap, malam ini aku dapat bersenang-senang, melupakan segala yang telah terjadi walau hanya sesaat.
"Mila, apakah kamu sudah selesai?" Ibunda berteriak dari bawah hingga suaranya menggelegar ke seisi rumah.
Setelah mendengar teriakan beliau, aku pun langsung menutup pintu dan turun ke bawah untuk menyambut kepulangan pamanku.
"Wahh. Cantiknya anak mama. Sini duduk. Sebentar lagi, pamanmu akan datang."
Aku duduk tepat disamping mama. Terdapat kursi kosong disebelahku dan aku meyakini itu disediakan untuk pamanku.
Beberapa saat telah berlalu. Sebuah mobil terdengar memasuki kediaman keluarga kami. Jika aku tidak salah dengar, seharusnya itu adalah suara mesin mobil yang setidaknya setara dengan mobil sport yang aku inginkan kala itu. Pamanku memang pantas disebut sebagai pria muda yang hebat. Bahkan diusianya yang masih muda, dia mampu mengangkat derajat keluarga kami hingga detik ini.
Seorang pria terlihat sedang berdiri di depan pintu dengan beberapa bingkisan yang berada di tangannya.
"Hai semua. Aku datang, " ucap pria itu di ambang pintu.
Perhatian kami pun seketika tertuju padanya. Aku membelalakkan mata saat melihat sosok pria yang berdiri tepat diambang pintu.
...****************...
Hai, Author menyapa. Kira-kira, siapakah sosok pria yang berdiri didepan pintu itu? Mengapa sampai membuat Emilia terkejut? Jika mau tahu jawabannya, yuk segera masukkan ke daftar buku kalian. Jangan sampai ketinggalan update terbaru novel ini. Jangan lupa Share, rate, komen, likenya juga ya. Kasih gift juga boleh☺️☺️
Tetap jaga kesehatan dan see you on the next episode.
Salam hangat,
Ajeng Rizqita