
"Baiklah, Tuan muda dan nona, apakah ada yang bisa saya bantu?"
Seorang pria dengan suara berat tiba di ruangan tersebut. Aku meyakini dialah dokter Harun yang sangat terkenal itu. Aku tidak menyangka bila dia bahkan terlihat tidak lebih tua dibandingkan dengan Paman. Aku terpukau tentu saja. Aku menjadi semakin tidak percaya diri berada di kalangan orang-orang sukses di usia muda. Aku bahkan mempertanyakan apa yang telah terjadi sebenarnya. Mengapa begitu banyak orang muda yang telah sukses dan berkembang?
"Lama tidak berjumpa." Paman menjabat tangannya tanpa canggung, malah kulihat dokter Harun lah yang begitu canggung dan segan menatap Paman.
"Humph? Aku tidak menyangka bahkan dokter yang begitu tersohor se Asia ini, dia bahkan sangat segan dengan Paman? Aku yang keponakannya bahkan tidak mengetahui itu," Batinku.
"Saya ingin memeriksakan kandungan calon istri saya," ucap Paman berterus terang.
"Wait, what? Jadi, tuan muda sudah akan menikah dan sekarang malah dapat bonus lagi?" Pekik dr. Harun yang ikut gembira mendengarnya.
"Hum ... Anggap saja begitu."
"Baiklah, nona muda. Silahkan anda berbaring di ranjang yang sudah tersedia," titahnya begitu lembut.
Tentu saja, Paman tidak mengizinkannya untuk memapahku. Pria yang overprotective itu menggandengku dan membantuku untuk berbaring di ranjang. Untung saja aku tidak memiliki tubuh yang pendek dan mungil. Sedangkan itu, Dokter Harun memeriksa bagian tubuhku. Sebuah detak jantung pun dirasakannya melalui teleskop ehh stetoskopnya. Semua nampak baik-baik saja.
"Bayi kalian aman. Semua sehat," ucap dokter Harun sembari melepaskan stetoskop dan merapikan alat medis yang baru saja dipakainya.
"Paman, aku ingin lihat dia. Aku ingin kita melakukan USG," Bisikku.
"Hum."
Dokter Harun yang tak sengaja mendengarnya pun langsung mengambil perlengkapan untuk USG dan USG pun telah dilakukan. Nampak disana janinku tumbuh begitu cepat. Dia nampak sehat dan bahagia. Aku tidak dapat menahan tangisku lagi. Ada perasaan yang tak mampu aku jelaskan. Aku bisa merasakan rasa yang sungguh luar biasa, jantungku pun terkadang serasa berhenti berdetak. Aku merasakan debaran yang tidak ternilai jumlahnya. Dia adalah bayi pertamaku dan aku sudah berjanji untuk
melindunginya.
"Paman, lihatlah. Dia anteng sekali. Lucu sekali," ucapku menunjuk ke arah layar monitor disana. Aku bahkan dapat melihat jelas jenis kelamin buah hati kami.
"Mia, lihatlah. Dia laki-laki." Aku dapat melihat mata Paman yang mulai berkaca-kaca. Dia menyentuh monitor itu penuh haru. Aku hanya tersenyum dan tanganku secara tidak sadar meraba pipinya, mengusap lembut menghapus air matanya. Ini adalah kali pertamanya aku melihat pria itu, pria yang biasanya begitu tegar dan kuat, kini menjadi pria cengeng yang bahkan tak kuasa menahan tangisnya.
"Hehe, maaf," ucapnya yang menyadari air mata itu.
"Baiklah, tuan muda dan nona. Silahkan anda duduk kembali ke meja sana," ucap Dokter Harun.
Paman lagi dan lagi menuntunku dengan sabar. Dia bahkan memposisikan sandalku dengan benar. Baru kali ini aku merasa sangat dicintai dan dihargai. Yap, mungkin aku adalah satu-satunya wanita yang beruntung di dunia ini. Biasanya, pria setelah melakukan akan meninggalkan.
...*...*...
"Oh ya dok, lalu mengapa ya perut saya masih nampak begitu kecil padahal usia kandungan saya sudah memasuki dua puluh mingguan?" Tanyaku.
"Bukankah itu bagus, sayang?" Tanya Paman.
Aku hanya meresponnya dengan sekali anggukan.
Dokter Harun menyerahkan secarik kertas dengan beberapa tulisan khas dokter kepada kami. "Baiklah, nona dan tuan. Ini adalah resep vitamin terbaik yang anda minta. Ada juga susu ibu hamil, namun harganya akan sedikit mahal. Saya yakin tuan muda dapat membelinya."
Aku menerimanya dan lalu berpamitan kepadanya. Aku menebus vitamin dan susu ibu hamil tersebut sebelum menyusul ke pantai dan bertemu Cindy.
"Mia, kau harus meminumnya. Dia harus lahir dengan sehat dan selamat. Jangan mengkhawatirkan posisi dan statusnya. Aku akan segera menikahimu sepulang dari sini," Tegas Paman.
Aku menurut saja kali ini. Lagipula, tidak ada salahnya bukan? Paman juga masih single.
Beberapa saat kemudian, di Pandai Pandawa...
Aku dan Paman telah tiba disana. Terlihat teman-temanku bahkan sudah bermain puas di Pantai Pandawa. Aku melihat lurus ke depan. Biru, dan indah, itulah dua kalimat pertama yang kupikirkan setelah melihat keindahan Pantai Pandawa. Semilir angin membawaku mendekat ke arahnya. Aku turun meninggalkan Paman disana, berjalan tanpa sadar hingga kakiku resmi menyentuh pasir yang begitu putih bersih yang sesekali tersapu air yang terbawa ombak ke tepian. Dingin, namun inilah ketenangan dalam hidup. Aku menarik napasku dalam-dalam,lalu menghembuskannya kasar layaknya semua beban aku hempaskan disana. Tak lama kemudian, Cindy tiba di sampingku. Dia menyapaku, "Mila!"
Paman yang saat itu hendak memelukku, langsung mengurungkan niatnya. Tentu saja, raut wajah kesal Paman terlukis jelas disana. Namun, dia terpaksa harus menerimanya.
"Huh! Kapan wanita menjengkelkan ini pergi dari sini?" Batinnya.
Aku dan Shani berlarian di tepi pantai sembari melihat para bule tampan nan cantik yang sedang berlalu lalang disana. Tentu saja, aku meninggalkan Paman begitu saja.
Paman nampak tidak baik-baik saja. Terlebih lagi, saat ini pria itu berhasil menyita perhatian. Paman memakai kemeja bewarna biru dengan motif bunga-bunga khas pantai. Dia tidak memasangkan kancingnya dengan sempurna. Kupikir dia memang sengaja pamer badan ke beberapa orang disana. Tubuh Paman begitu bagus, six-pack dan berotot. Dia benar-benar pria yang rajin berolahraga. Tak heran bila malam itu dia begitu kuat dan bringas. Beberapa wanita nampak mendekati Paman. Namun, Paman nampak tak menggubris mereka. Dia tetap bersantai sembari mengenakan kacamata hitamnya.
"Mila, Yuk kita nengah. Kita main ombak," ajak Cindy.
"Boleh tuh. Tapi, bentar ya. Aku izin Paman dulu," timpalku.
"Paman, aku mau main ke sana sama Cindy. Boleh kan?" Tanyaku meminta izin pada Paman.
"Hum," Jawabnya singkat.
Sorot wajah kekecewaan terpasang jelas disana, membuatku merasa bersalah kepadanya.
"Paman, ku mohon jangan lontarkan ekspresi itu. Bagaimana aku bisa bermain dengan tenang?" Batinku.
Paman yang sadar dengan ekspresi bersalahku pun langsung merubahnya seketika. Dia tersenyum hangat, menandakan aku boleh bermain sepuasnya. Aku lega melihatnya. Setelah mendapatkan izin, aku menarik tangan Cindy dengan segera.
"Ahh, Mila. Tunggu aku!" Seru Cindy seketika.