
"Tapi, mengapa aku ada pikiran begitu sih? Mila ga mungkin kan mau sama pamannya sendiri? Tapi, cara mereka memperlakukan satu sama lain memang tidak nampak seperti paman dan keponakan sih."
Aku reflek mengambil piring dan makanan untuk Paman layaknya seorang istri yang sedang melayani suaminya. Namun, hal tersebut justru berdampak baik kepada emosinya. Pria yang sedari tadi berekspresi datar dan terdiam tanpa kata itu, kini mulai menampakkan senyum manisnya. Aku berulang kali menanyai apa keinginannya. Dia selalu menjawab dengan antusias. Cindy menatap kami menyelidik, berusaha menemukan celah keanehan diantara kami. Faktanya, semua terlihat aneh di matanya.
"Feelingku mengatakan bila perasaan mereka itu lebih dari sekadar perasaan Paman dan sepupu," Batinnya.
...****************...
Kami telah merampungkan serangkaian kegiatan makan bersama kami. Aku pun tak lupa berbisik pada Cindy dan mengatakan tentang penyakit aneh Paman yang alergi pada Wanita. Aku pun tidak mengerti mengapa dia seperti itu, namun faktanya dia tidak pernah alergi saat bersentuhan langsung denganku dan nenek. Bahkan, dengan ibunda saja dia masih menampakkan alerginya itu.
"Ehh? Berarti paman lu kemungkinan ga nikah dong? Atau kalau nikah dia harus meminum obatnya setiap kali mau nyentuh istrinya?" Tanya Cindy sedikit lirih. Aku benar-benar bingung harus menjawab apa, karena faktanya aku benar-benar ingin wanita yang dipinang paman adalah diriku sendiri.
"Entahlah. Tidak ada yang tahu takdir seseorang. Kemarin pas Nenek mencoba menjodohkannya dengan anak dari temannya, Paman juga menunjukkan reaksi itu, tapi sebelumnya memang Paman meminum obatnya, jadi dia tidak menimbulkan reaksi yang parah hingga ketahuan," jawabku pada Cindy.
"Eakkk... Sahabat dagel ku sekarang berubah jadi bijak ya. Btw, kalau kamu mau jodohkan aku sama pamanmu, aku juga mau kok wkwkk," ucap Cindy diiringi dengan tawanya yang renyah.
"Oklah Mila, keknya Pamanmu juga udah lelah. Maaf aku ganggu. Aku pamit ke kamar dulu dan selamat malam ya. Makasih atas makanannya. Aku jadi kenyang banget deh. Aku punya feeling nanti kalau pas kita pulang, bobotku bakal nambah banyak nih," ucap Cindy berpamitan.
"Yang penting sehat wkwkwk. Baiklah, see you, Cin. Sweet dreams for u," ucapku sembari memberikan kiss bye kepadanya yang sudah berlalu pergi. Dia menangkapnya seolah sebuah hati berterbangan menuju ke arahnya, layaknya dua sejoli yang sedang di mabuk cinta.
Setelah aku memastikan Cindy menjauh dari kamarku, aku menutup pintuku dengan cepat. Paman menarikku tiba-tiba, membuatku terjatuh dalam peluknya. Jarak kami sangat dekat hingga aku dapat merasakan hembusan napasnya.
"Pa-paman, a-apa yang ingin kau lakukan?" Aku gugup saat menatap wajahnya lekat. Dia begitu tampan, aku tak dapat membohongi diriku sendiri. Aku gila. Aku bisa menjadi gila, jika dia tidak menyingkir dari hadapanku. Sesekali aku memalingkan wajahku atau mungkin memejamkan mataku sejenak. Sekarang, katakan padaku, wanita mana yang dapat menahan untuk tidak menggila saat melihat pria setampan Paman di hadapannya?
"Apa kamu setidak sudi itu bahkan enggan menatapku?" Pertanyaan Paman begitu membuatku tak berdaya. Sontak, aku pun membelalakkan mataku atas pertanyaannya. Mana mungkin aku tidak sudi menatap wajah tampannya? Aku bahkan hampir gila dibuatnya. Sorot mata kepedulian dan bahkan ketertarikan aku lontarkan padanya. Nampak jelas pula disana nafsuku yang begitu memburu saat menatapnya. Aku melihat pria itu begitu senang. Aku bergeming dan tidak menjawab atas pertanyannya, namun aku yakin dengan jelas dia telah mengerti maksud dari tatapanku itu.
Dia pun ikut bergeming, menatapku dalam-dalam seakan berusaha menemukan sesuatu yang hilang. Dia mendekat, aku merasa napasnya yang begitu hangat. Tubuhku menegang. Dia mulai memiringkan wajahnya. Aku sudah mengetahui apa yang dia inginkan, apalagi kalau bukan ciuman hangat di tengah malam. Dia menc*?buku begitu lama, aku terlena. Aku membalasnya dengan menggila. Aku merangkulkan tanganku padanya, sedikit menekannya agar dia mendekat padaku. Aku sangat menikmatinya.
Dia melepaskannya begitu saja. Jujur saja, aku kecewa. Namun, apakah pantas jika aku menunjukkannya?
"Paman, Sampai kapan kita harus melanjutkan kegilaan ini? Aku tidak ingin hubungan terlarang ini," ucapku padanya. Mataku melihatnya dalam-dalam. Dia menatap lekat sebelum mulutnya terbuka untuk menjawab.
"Mia, apakah kamu tidak ingin menikah denganku?" Tanyanya dengan suara yang begitu seksi.
"Mana mungkin aku tidak mau? Semua orang pasti mau, tapi kita ini saudara. Kita tidak boleh melanjutkannya," Batinku.
"Andai saja Paman bukanlah Pamanku. Aku sudah pasti setuju sedari awal."
"Ada dia. Selamanya, kita akan begini. Aku akan menikahimu secepatnya dan aku mengharapkan kata iya dari mulutmu." Jawaban tegas darinya itu, jujur saja itulah yang aku inginkan. Namun, apakah mereka akan setuju? Apakah itu tidak akan berdampak dengan keluargaku?
"Aku tidak menerima penolakan. Kau jangan khawatir masalah ibundamu dan yang lainnya. Biarkan paman yang mengatasinya,ok?" Jawabnya mencoba mendapatkan persetujuan dariku.
"Heh, aku bahkan melupakan sifatnya yang tidak suka ditentang apalagi ditolak, tapi baiklah jika begitu. Anak ini tidak bisa lahir tanpa Ayah dan aku tidak tega membunuhnya atau menggugurkannya," Gumamku.
"Kau hanya perlu jaga dirimu dan anak kita baik-baik. Jangan sampai seseorang mencelakai kalian."
"haha, Aku tidak selemah itu," ucapku sembari memikirkan maksud dari setiap perkataannya.
Paman menggendongku secara tiba-tiba saat aku merenungi apa yang dia bicarakan. Aku meronta saat sadar. Pria itu memang benar-benar suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ku pikir semua pria juga begitu.
"Pa-paman! LEPASKAN AKU?!" Pekikku sambil memukul-mukuli pundaknya.
"Tidak akan! Kau harus membayar kesalahan yang kau lakukan hari ini!"
"Kesalahan? Tch, pria yang benar-benar tidak dapat ditebak!" Seruku dalam hati.
Brakkk!!
Pria itu menutup pintu dengan kerasnya menggunakan kaki kirinya.
Dia melemparku ke kasur dengan kasar. Tentu saja, itu tidak mempengaruhi janin yang ada dalam kandunganku. Paman melonggarkan dasinya dan siap kapan saja melompat ke arahku.
"Apa yang akan paman lakukan?" Tanyaku berpura-pura polos.
"Menurutmu?"
Aku terdiam sejenak. Aku tahu apa maksud dari perkataannya. Aku membiarkannya sejenak, menikmati setiap detik permainan yang dia lakukan. Setiap inci dia kecup dan menjilatinya bak aku adalah sebuah es krim yang begitu menggairahkan. Perlahan, dia membuatku terbang melayang ke angkasa. Aku mendesah lembut, membuatnya terpacu semakin menggila. Suasana yang awalnya dingin berubah menjadi panas. Aku samar dapat merasakan hembusan nafasnya yang kian memburu. Wajah paman kini berubah menjadi merah merona.
"Mia, bolehkah?"
...****************...
Sedikit pemanis untuk pembaca.