One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 1: Salah Mengira



Tidak, aku telah salah menilainya.


Oh tuhan, apakah aku baru saja terlepas dari mulut buaya, sekarang aku masuk ke dalam mulut harimau? Mengapa kau benar-benar tidak pernah berpihak padaku?~Batinku menyalahkan sang pencipta.


Aku masih tetap dalam mode menjaga kesadaranku. Aku sudah benar-benar tak tahan. Ingin sekali rasanya mandi air es agar pikiranku sejuk kembali, namun apakah aku memiliki kesempatan untuk itu?


Nafasku memburu kencang, semakin memanas rasanya. Keringat telah membasahi bajuku. Terdengar samar,namun jelas bila dia berbincang padaku.


"Lepas bajumu atau tidak kamu akan masuk angin," ucapnya.


Aku dengan keras kepala menolak perintahnya.


"Tidak! Aku... Aku bukan cewek murahan," tolakku tegas.


Tak dapat ku pungkiri, aku memang ingin sekali menanggalkan pakaian ini.


"Pakai ini!" Pria itu melemparkan jasnya kepadaku dengan kasar. Aku menangkapnya dan sesegera mungkin menanggalkan pakaianku dan membalut diriku dengan jas itu.


Dia membawaku ke sebuah kamar. Entah apa yang ingin dia lakukan. Kepalaku berat rasanya. Aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk menahan kesadaranku.


"Ka-kamu... kamu ke kamar mandi dulu," ucap pria itu terengah-engah.


Tidak, ada yang salah dengannya. Dia bukan hanya mabuk, tapi seseorang dengan sengaja memberi sesuatu pada minumannya. Ya, aku jelas mengetahui itu.


Dia masih berusaha menahan dirinya. Aku mengumpulkan sisa tenagaku untuk bangkit dari ranjang yang telah menarikku itu. Gaya gravitasi yang begitu kuat, begitulah kata para kaum rebahan kira-kira.


Saat aku berhasil berdiri dan mulai merangkak berjalan ke kamar mandi, pria itu tiba-tiba menarik tanganku.


"Sudah tidak sempat. Ma-maafkan aku," lirih pria itu.


Aku masih ingat dengan jelas suara seksinya. Nafasnya berhembus di leherku, membuatku semakin menggila. Aku melenguh saat dia menghujani diriku dengan kecupannya.


"Ja-jangan. Le-lepaskan aku..."


Tenaga pria itu terlalu besar. Dia benar-benar mendominasi malam ini. Aku pasrah dalam kendalinya sambil menangis dan mengutuk diriku yang begitu lemah. Harapanku hanyalah satu, semoga mentari pagi segera menampakkan sinarnya.


...*...*...


Keesokan paginya...


Aku terbangun dari tidurku. Ku melihat pria itu tertidur pulas. Pria yang telah merenggut mahkotaku untuk yang pertama kalinya, pria yang bahkan baru ku kenal tidak sampai sehari itu. Dengan isak tangis dan rasa sakit yang masih terasa di bagian bawah tubuhku, aku berjalan memunguti pakaianku yang berserakan di bawah.


Kau begitu tampan, sayangnya kau begitu baj*ngan. Semoga kita tidak bertemu lagi ke depannya,~Batinku sambil menatapnya.


Aku menilik ke arah pakaianku. Tak ada satupun yang dapat ku pakai hari ini. Lalu, aku memutuskan untuk mengambil kemeja milik pria itu yang juga tercecer di lantai.


Aku mengikat rambutku tinggi, layaknya ekor kuda, lalu aku pergi dari tempat jahannam itu menuju ke kampus tempat dimana aku bersekolah.


Sesampainya di kampus...


"Mampus! Aku belum cas hpku. Terus... Mama pasti nyariin," gumamku sendirian.


Seorang wanita mengendap-endap di belakangku. Wanita itu adalah Shani, wanita berambut ikal yang tingginya tidak jauh berbeda dariku. Dia adalah sahabatku dari kami masih sekolah dulu.


"Dorrr!" Kejut Cindy.


"Ahhh!" Pekik ku terkejut.


"Ahh lu Cin. Ga asyik," ucapku merajuk.


"Jangan gitu lah, Mia. Lu kenapa sih kok keknya kusut gitu kek apel mau busuk," ucap Cindy berterus terang.


"Aku... aku gapapa, " jawabku berbohong.


"Ehh btw nyokap lu semalam telepon lho. Gue bingung mau jawab apa. Lu tadi malam kemana sih?" Tanya Cindy kepo


"Lu kencan lagi ya sama cowok? Ngaku lu! Tapi, kok sampe ga pulang sih? Jangan bilang lu check in."


"Sttt. Jangan kenceng-kenceng. Kita ke tempat rahasia dulu yuk," ucapku.


Aku menarik tangan Cindy menuju ke tempat yang biasa kami kunjungi saat suntuk.


Selain itu, disisi lain...


Pria itu telah bangun dari tidurnya. Dia tidak melihatku di sisinya.


Pria itu melihat pakaianku yang masih berserakan dibawah, sedangkan pakaiannya telah ludes hilang entah kemana.


"Heh. Kau sungguh menarik. Kau bahkan dapat membuatku gila dan membuat penyakitku tidak kambuh. Kau sungguh hebat," gumamnya.


Pria itu bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Aroma wanita ini masih tertinggal. Walau dalam keadaan mabuk, tapi aku masih mengingat jelas wajahmu. Kau harus menjadi wanitaku," gumamnya pada dirinya sendiri. Pria itu menyeringai dan senyum-senyum sendiri bak orang gila.


Setelah selesai membersihkan dirinya, pria itu dengan dibalut handuk yang hanya menutupi bagian intimnya, berjalan menuju meja yang terdapat disana. Dia menggambar wajah seorang wanita pada kertas yang tersedia. Sangat bagus dan menawan.


"Mike, bawakan satu stel pakaian untukku dan aku ingin kau mencari tahu tentang seseorang."


Belum sempat ajudannya menjawabnya, dia langsung menutup teleponnya. Sungguh tidak sopan.


Satu stel? Memangnya kemana pakaian si aneh itu?~Batin Mike, ajudan pria itu.


...*...*...


Mike telah tiba di tempat yang telah dikirimkan oleh pria itu.


Tok tok...


Pria itu berdiri dan membukakan pintu untuknya.


"Permisi tuan muda..."


Kata-katanya tertahan saat dia melihat pria itu tanpa busana. Hanya sebuah handuk kecil yang ia gunakan untuk menutupi senjatanya, membuat Mike harus menahan tawa dengan susah payah.


"Ma-maaf tuan muda... pfftt... Kemana pakaian anda?" Tanya Mike


Dia memang benar-benar pria aneh. Kemana pakaiannya? Mengapa dia hanya memakai handuk kecil itu?~Batin Mike.


"Tidak usah banyak cakap. Apa kamu sudah menemukan identitas tentangnya?" Tanya pria itu.


"Tentu saja sudah. Dia adalah Emilia Zhao, seorang wanita cantik berusia 19 tahun yang sedang menjalani studi S1 nya di universitas ternama. Seharusnya, dia adalah keponakan anda," ucap Mike.


"Keponakan? Mana mungkin? Apa kamu sudah memeriksanya dengan jelas?" Tanya Pria itu tidak percaya.


Keponakan? Sial! Apakah takdir sedang mempermainkanku?~Batin Pria itu.


"Tidak ada lagi di negeri ini yang bermarga Zhao selain keluarga anda,tuan muda," jawab Mike setengah geram.


Gimana sih dia? Keponakan sendiri bahkan tidak hafal? Tapi, mengapa dia tiba-tiba ingin tau tentang gadis ini?~Batin Mike bertanya-tanya.


"Baiklah. Kau keluar dan tunggu aku diluar. Kita seharusnya memiliki jadwal meeting pada pagi hari ini." Pria itu mengusir Mike pergi. Mike masih bergeming dan tak sadar akan ucapan pria itu.


...*..*...


Pria itu diketahui bernama Aiden Zhao. Pria hebat yang terkenal dan memiliki posisi penting di negeri ini, bahkan di seluruh negeri. Pria yang terkenal dingin dan mematikan, seorang CEO dari PT. Zhaohan Karya yang saat ini menguasai pasar di bidang properti. Pria inilah yang membuat nama keluarga Zhao menjadi sangat terkenal juga sangat ditakuti oleh semua orang dimanapun kami berada. Namun, seumur hidupku, aku belum pernah bertemu dengannya.


Mike dan Aiden telah tiba di kantor mereka. Semua orang sudah berjajar rapi, menanti kedatangan sang CEO untuk rapat besar kali ini.


"Permisi tuan muda, rapat akan segera dimulai. Silahkan anda bersiap ke ruang rapat," ucap seorang sekretaris Aiden.


"Baik. Nanti saya yang akan menemani tua muda. Kamu tolong siapkan berkas yang diperkukan," jawab Mike.


"Baik tuan Mike. Jika begitu, saya permisi dulu."


Mike mengangguk kepadanya.


"Dengan siapa kita bertemu hari ini?" Bisik Aiden.


"Orang dari PT. Sanjaya Karya pak dan nanti siang kita juga ada acara ke pelelangan untuk gedung universitas Sriyanka," jawab Mike.


"Universitas Sriyanka," Tanya Aiden.


Mike hanya mengangguk menyetujui.


Itu adalah gedung universitas dimana wanita itu kuliah. Aku harus memenangkan proyek kali ini, ~Batin Aiden.


"Siapkan penawaran terbaik untuk memenangkan proyek itu," ucap Aiden sambil tersenyum dan pergi meninggalkan Mike disana sendiri.


Mike hanya menggelengkan kepala sambil mengikuti langkah kemana Aiden pergi.