One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 21: Hubungan yang Salah



"Kenapa? Bukankah tadi malam kau juga sangat menikmatinya?"


"Itu berbeda! Cepat mandi dan ganti baju!" Seru Mila sembari mendorong Aiden masuk lagi ke kamar.


"Huh! Benar-benar menyebalkan!"


Selesai membuatkan secangkir kopi untuk Aiden dan segelas susu untuk dirinya sendiri, Mila menikmatinya dengan berdiri di balkon tempat mereka menginap. Mila dapat melihat dengan jelas matahari pagi yang mulai menyinari dunia, matahari yang nampak baru saja terbangun dari tidurnya di balik gunung. Mila dapat melihatnya dengan jelas, bayangannya yang terpantulkan di sebuah genangan air yang nampak seperti pantai itu. Mila menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan dengan perlahan. Mila menikmati pagi ini dan tanpa sadar, seorang pria dengan pakaian rapi dan wangi badan yang mampu membuat setiap orang didekatnya terhipnotis itu datang menghampirinya.


Aiden memeluk Mila dari belakang. Mila dapat merasakan kehangatannya, mencium aroma wangi dari tubuh kekarnya. Dia membenamkan wajahnya pada pundak Mila dan melingkarkan tangannya pada pinggang kekasihnya.


Mila berbalik menghadapnya. Dia kalungkan tangannya pada leher Aiden. Jarak kami begitu dekat, Mila benar-benar tak sanggup menahan dirinya sendiri untuk tidak menc**bu bibir yang seksi dan merah milik Aiden itu. Mila nampak meneguk air liurnya berkali-kali. Tentu saja, Mila harus menahannya sebagai seorang wanita. Jika tidak, dia akan benar-benar terlihat seperti wanita jal*ng yang bahkan bermain gila dengan Pamannya sendiri. Tidak, Mila tidak ingin terlihat agresif. Gadis itu tidak ingin lagi.


Aiden yang sebenarnya mengetahui,jika Mila benar-benar ingin mencu**unya, dia menyeringai girang. Pria itu mulai memiringkan kepalanya dan mulai mendekatkan wajahnya kepada Mila. Aiden mengu**m bibirnya dengan nikmat, memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya. Mila bukanlah wanita munafik. Tentu saja dengan senang hati Mila mulai merespon kecupannya.


"Morning kiss for u." Aiden melepaskan kecupannya tiba-tiba dan tentu saja hal itu berhasil membuat Mila mengeluarkan ekspresi kecewa.


"Jika kamu masih menginginkannya, mengapa tidak lanjutkan?" Tanya Aiden begitu seksi. Pria itu benar-benar sedang menggoda Mila-nya.


Iman Mila yang memang sedari awal sudah setipis kertas itu pun akhirnya membuat gadis cantik itu mengambil inisiatif sendiri. Mila mulai mendekatkan wajahnya ke arah dirinya. Gadis berusia kurang lebih dua puluhan itu, sedikit berjinjit dan mulai mengecupnya berulang kali. Aiden terlihat begitu menikmatinya sama halnya dengan Mila. Mereka melakukannya begitu lama hingga tanpa sadar, seseorang melihatnya dari kejauhan.


Disisi lain...


Cindy baru saja kembali dari rutinitas paginya, yaitu mandi dan membersihkan badannya. Dia telah berpakaian rapi dengan rambut yang masih tergulung oleh handuk dan masih tahap pengeringan. Cindy melihat salah seorang rekannya yang satu kamar dengannya itu seperti heboh akan apa yang dilihatnya.


"Cin, Cindy!" Panggil gadis itu yang diduga bernama Christina.


"Hum? Ada apa?" Tanya Cindy sembari melihat Tina yang berdiri di jendela miliknya.


Ya, kamar biasa pada hotel ini pada dasarnya tidak memiliki balkon seperti ruangan yang Mila dan Pamannya tempati saat ini. Kala itu, Tina baru saja selesai mandi dan berniat untuk membuka jendela dan menatap pemandangan yang indah. Namun, saat dia membuka jendela, pandangannya langsung tertuju pada kamar Ma dan Aiden. Dia melihat salah satu rekannya sedang berc**bu mesra dengan Pamannya sendiri di atas sana.


"Kamu lihat itu. Bukannya itu sahabatmu si Mila?" Tanya Tina.


"Mil? Memang kenapa dengan Mila?"


Tentu saja nama Mila menarik perhatian Cindy, karena bagaimana pun Cindy adalah sahabat Mila yang bahkan sudah dianggap seperti saudaranya sendiri.


Cindy berdiri tepat disamping Tina. Mila dan Pamannya masih melangsungkan aktivitas mereka, sama sekali tidak menyadarinya.


"Apa? Mila ... Tidak bisa ku biarkan. Ini sudah salah!" Pekik Cindy yang langsung berlalu pergi.


...****************...


"Miao, mengapa perutmu terasa masih begitu kecil? Dia sehat kan?" Tanya Aiden.


"Kapan terakhir kamu periksa?" Lanjutnya.


"Sebelum berangkat ke Bali. Aku tentu saja tidak ingin membahayakan nyawaya. Namun, dokter mengatakan dia benar-benar sehat dan tumbuh dengan normal. Aku juga merasa aneh," jawab Mila.


"Baiklah. Nanti kita periksa saat longgar. Jadi, tidak akan ada orang yang curiga," Ucap Aiden.


Mila mengangguk menyetujuinya,karena memang ini adalah saatnya untuk memeriksakan kandungan. Saat mereka sedang asyik menikmati waktu mereka bersama, Mila mendengar seseorang mengetuk pintu mereka sangat keras seakan sedang akan melahap mereka kapan saja.


"Mila, Buka!" Seru Cindy yang terus menggedor pintu mereka tanpa henti. Mila menatap Aiden heran dan begitupun sebaliknya. Pria tampan dihadapannya itu hanya menggidikkan bahunya tanda tak tahu.


"Tch." Mila berdecit,lalu berlalu pergi meninggalkan Aiden sendiri. Mila berjalan perlahan menuju pintu itu,karena memang sangat tidak nyaman baginya untuk berjalan dengan keadaan seperti ini.


Kriekkk...


Mila membuka pintu kamar mereka dan mendapati Cindy yang sudah berdiri disana dengan tatapan jijik pada Mila. Tentu saja gadis yang kini hanya mengenakan mantel mandi bergaris-garis hadiah dari Aiden pun bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan Cindy, namun mulut merah merekah bekas ciuman itu hanya bungkam. Dia ingin mendengarkan apa yang sahabatnya akan ucapkan.



"Lu bener-bener gila ya, Mila!" Umpatan itu adalah kalimat pertama yang Cindy lontarkan pada Mila pagi ini. Terlihat jelas disana sorot mata kekecewaan yang ada di matanya. Mila sepertinya sedikit mengerti dengan apa yang terjadi padanya.


"Gue ga nyangka lu... " Dia menghentikan ucapannya. Dia memalingkan wajahnya sejenak, menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya kasar.


"..., Lu ada hubungan apa sama Paman lu?" Tanya Cindy.


Sontak, pertanyaan tersebut membuat Mila terkejut.


"Bagaimana dia bisa mengetahuinya? Apa jangan-jangan... "


...****************...


Hai semuanya. Bagaimana kabarnya? Terimakasih untuk semua yang telah mendukung karyaku dan dengan setianya masih membacanya. Maaf, aku masih belum bisa kasih apapun atau mengadakan giveaway apapun itu. Jika suatu hari nanti ada salah satu novelku yang laris, aku bakalan selalu ingat kalian.


Btw, bagaimana setelah perubahan pov ini? Lebih nyaman pakai POV orang pertama(aku) atau POV orang ketiga(dia/dari authornya). Komen ya biar nanti aku perbaiki alurnya ke depannya🤭🤭 Oh ya, jangan lupa kasih like, komen, vote, dan gift atau segala macam dukungan apapun. Masukin juga ke list buku kalian biar ga ketinggalan update😘😘


Salam hangat,


Ajeng Rizqita.