One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 24: Sifat Kekanak-kanakannya.



Kami bermain air disana. Tak lupa kami pun bermain pasir pula disana. Aku menuliskan namaku dan tanpa sadar, aku juga menulis nama Paman disana.


"Ohh Astaga. Kenapa aku harus menulis nama Paman, Aiden Zhao. Bagaimana jika dilihat oleh Cindy?" Batinku.


Aku melirik ke arah tulisan yang dibuat oleh Cindy. Aku mendapati dia menuliskan sebuah nama disana.


"Marcel Laverda... " Aku mengeja, membaca nama yang sahabatku tuliskan di atas pasir tersebut.


"wow, Cindy. Aku tidak pernah tahu kalau kau suka Marcel, si playboy kakak tingkat kita itu," bisikku menggoda Cindy.


Hal tersebut berhasil membuatnya terkejut. Tulisan itu dia hapus dengan tergesa-gesa. Dia menoleh ke arahku di sana dan wajahnya pun kini memerah.


"Ahhh, Mila! Aku jadi malu!" Seru Cindy sembari menutupi wajahnya.


Aku melirik lagi ke arah tulisan yang baru saja kutulis. Aku bersyukur sebuah ombak datang dan menghapuskan segalanya. Namun, aku tidak pernah berharap kenanganku bersama Paman tersapu oleh debur ombak kehidupan.


"Huftt. Untung saja sudah hilang. Jika tidak, aku tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana pada Cindy," Batinku.


"Cin, ga mau cerita sama gue nih? Gue udah sering cerita panjang lebar lho ke lu," ucapku sedikit menggodanya.


"Gimana ya, Mil. Aku bingung. Hari itu, saat aku baru saja pulang dari ekstra mat kala itu, banku bocor. Sepertinya, aku sudah cerita sama kamu," ucap Cindy.


"Iya. Lu udah cerita dan seorang pria tampan datang dan membantu lu kan?" Tanyaku.


"Heem. Dia memberiku nomornya juga. Dia juga ku beri nomorku. Sejak hari itu, kami dekat. Namun, dia masih saja tidak memberiku kepastian. Mila, aku takut dia tidak menyukai ku kembali," ucap Cindy mencurahkan isi hatinya padaku.


"Cin, lihatlah sekelilingmu!" Aku menitahkan pada Cindy untuk melihat orang-orang di sekitar kami, "Banyak sekali pria tampan disini. Orang lokal maupun manca negara. Ada yang keturunan tiongkok, Korea, Jepang, bahkan bule asli disini pun banyak."


"Kalau Pamanmu boleh ga sih? Dia kan juga berwajah china. Dia juga tampan hehe," ucapnya.


Aku terdiam. Jika Cindy serius dengan ucapannya, apakah aku bisa menolak? Namun, aku juga tidak bisa mengajukan Paman kepada wanita lain. Aku ingin menjadi egois. Aku ingin Paman menjadi milikku seutuhnya. Cindy mulai sadar saat melihatku terdiam. Dia pun menepuk pundakku, "Aku hanya bercanda."


"Kalau begitu, jangan khawatir. Daripada kau galau terus mikirin dia yang ga pasti, gimana kalau kita bikin challenge?" Tanyaku.


"Challenge?" Tanya Cindy.


"Iya. Siapa yang bisa mendapatkan nomor kontak pengunjung paling banyak, dia yang menang," ucapku.


"Humm. Kedengarannya menarik."


"Tapi, akan lebih menarik lagi kalau hanya meminta kontak para pria saja," ucap Cindy.


"Pria saja? Apa aku harus menolaknya? Kalau aku menerimanya, aku tidak sanggup membayangkan asam cuka yang begitu pekat dari pria itu," Batinku sembari menatap Paman.


"Harus cowok ya? Ga boleh cewek gitu?" Tanyaku mencoba bernegosiasi.


"Aku sepertinya tahu alasan mengapa dia yang awalnya mengusulkan, namun dia sendiri yang tidak semangat. Maaf, Mila. Tapi, aku tidak bisa membiarkanmu semakin tersesat," Batin Cindy.


Aku dan Cindy pun akhirnya melakukan tantangan tersebut. Tentu saja dengan hati yang begitu was-was sembari terkadang menengok ke arah Paman. Aku berharap semoga pria itu tidak melihatnya. Saat aku menghampiri dua pria korea yang memang terlihat tampan, namun tentu saja tidak dapat dibandingkan dengan Paman, aku melirik lagi ke arah sana dan tidak mendapati Paman disana. Aku mengurungkan niatku untuk bertanya kepada kedua pria tampan tersebut dan memfokuskan mataku untuk menelaah keberadaan Paman saat ini.


"Lho? Paman kemana?" Gumamku.


Saat aku berbalik badan, tubuhku menabrak sebuah badan yang tinggi dan kekar disana. Paman tiba-tiba menghampiriku tanpa sadar. Dia membuka kaca mata hitamnya dan menatapku penuh amarah. Paman menarikku dari sana secara tiba-tiba. Aku meninggalkan Cindy sendirian di sana, tidak mengonfirmasi apapun padanya. Aku tiba-tiba menghilang dari jangkauan penglihatannya begitu saja.


"Mia, apa yang kamu lakukan disini? Apa belum cukup puas kamu dihukum oleh Kakak dan kakak ipar?" Tanya Paman yang terdengar begitu meyeramkan.


"Ehh, paman. Paman, jangan salah paham dulu. Aku hanya melakukan tantangan dari..."


Kini Paman Aiden lebih memilih untuk bersikap secara gamblang dan terbuka. Pria dengan mata bewarna hanzel itu pun tanpa segan menggendongku dipundaknya dan membuatku lebih tinggi darinya. Aku mencengkeram bahunya kuat, karena aku takut jatuh dan berakibat fatal.


"Pa-paman. A-apa yang kau lakukan? Disini banyak o... "


Belum sempat aku merampungkan ucapanku, pria itu sudah membungkam mulutku dengan mulutnya. Ku pikir, dia cemburu hingga membuatnya gila. Namun, aku harus segera menghentikannya sebelum seseorang yang kenal denganku memergokiku.


"Paman, sudah!" Seruku.


"Uhh. Maaf. Salah sendiri kamu begitu suka menggoda pria lain. Kupikir, aku bahkan sudah lebih dari cukup untukmu," ucap Aiden.


"Tapi Paman, kan aku tidak ingin semua orang tahu hubungan kita."


"Aku tidak peduli lagi. Aku lelah selalu dalam bayang-bayang mereka. Aku lelah berhubungan secara diam-diam. Aku ingin kamu, Mia. Hanya kamu," ucap Paman yang menurutku itu adalah pernyataan cintanya.


"Oh. Bagaimana jika begini, kita ambil foto bersama," ucapnya mengusulkan sesuatu yang kupikir memang itu ide yang bagus.


"Humm, boleh juga. Paman sudah banyak foto dengan wanita lain sebelum kita berangkat, sedangkan sama aku belum sama sekali. Tch, sungguh tidak adil!"


Aku dan Paman memutuskan untuk mencari tempat yang tenang dengan pemandangan paling indah disana. Kami pun tak lupa menyewa seseorang untuk mengambil foto kami berdua. Seorang fotografer profesional dia sewa dengan harga yang fantastis. Tentu saja, pria perfeksionis di depanku itu hanya ingin segala sesuatunya juga nampak perfect.


"Mbaknya sedikit lebih dekat. Tangannya dikalungkan di leher tuan terus kalian berdua saling bertatapan. Oh ya, mbaknya agak jinjit sama kakinya sedikit diangkat ya." Fotografer tersebut mengarahkanku dan Paman agar menciptakan hasil yang sempurna.


Kami berfoto begitu lama hingga aku melupakan sesuatu disana. Ya, Cindy pasti tengah mencariku kemana-mana.


"Paman, ayo kita balik. Cindy pasti nyariin kita," ucapku.


"Aku tidakpeduli. Biarkan saja wanita itu sendiri. Dia sudah menyita banyak waktuku bersamamu," ucapnya setengah tidak rela dan cemburu pada Cindy.


Aku dapat menangkap momen tidak sukanya. Dia begitu kekanak-kanakan dan egois saat ini, namun itulah yang membuatku semakin gemas dibuatnya. Ingin sekali aku mencubit dan menciumnya, namun aku masih sadar dimana kami berada.


"Paman, ayolah. Jika Cindy tersesat, apa Paman mau bertanggung jawab?" Tanyaku.