
"Baiklah baiklah. Aku terima. Jangan terus berlutut." Aku mengambil sebucket bunga tersebut dari tangannya. Mana tega aku membiarkannya berlutut seperti itu, apalagi dia adalah seorang CEO yang terkenal dingin dan kejam. Jika sampai ada yang melihatnya, bukankah reputasinya akan buruk? Tentu saja hal itu akan berdampak buruk padaku dan calon bayiku.
Kryuukkk..
Suara perut keroncongan yang memenuhi keheningan sesaat diantara kami sangat mengggelikan, keluar begitu saja dari perutku. Aku tersipu malu, menutup wajahku dan membalikkan badan.
"Pfttt.. Haaha."
Pria itu menertawaiku disana, membuatku semakin malu. "Paman, jangan ketawa ihh!"
"Baiklah baiklah. Ayo kita makan," ajak paman.
Paman menarik tanganku menuju ruangan lainnya yang berada disana. Suasana yang begitu indah dalam remangnya malam, menghadirkan suasana hangat sekaligus nyaman yang ditemani temaramnya lilin kecil dalam gelas. Mataku menatap ke arah sekitar, sungguh memukau. Sebuah meja di tengah-tengah lilin berbentuh hati terlihat disana. Mataku berbinar seiring semakin terangnya suasana di dalam.
Paman menarikkan kursi itu untukku. "Thank u." Setelahnya, dia duduk tepat di depanku.
Plak plakkk...
Paman menepuk tangannya sebagai simbol untuk para pelayan.
Tak berselang lama, mereka datang dengan berbagai jenis makanan disana.
"Wow, paman. Anda memesan ini semua?" Tanyaku.
Pria itu mengangguk. "Bisakah kau memanggil namaku? Atau setidaknya jangan terlalu formal saat kita berdua lah."
"Ok ok. Tapi, memanggil nama? Bukankah tidak sopan?"
"Hummm. Panggil aku paman saja tak apa. Sepertinya, itu lebih menarik," jawabnya.
Selesai makan malam, kami pergi menonton bioskop seperti yang telah kami rencanakan. Entah sekaya apa pria yang baru saja ku kenal itu, namun dia selalu dapat memberiku kejutan yang tak ku sangka-sangka.
Kami telah tiba di sebuah bioskop. Paman mengajakku untuk memilih film manapun yang ingin aku tonton. Baru-baru ini, aku melihat trailer film yang sangat ku nanti-nanti.
"Uhmm. Film ini sepertinya bagus," ucapku sambil menunjuk ke sebuah film yang berada di daftar film disana.
"Baiklah. Mari kita tonton."
Paman merangkulku dan menuntunku menuju bangku kami. Suasana mewah tercipta. Tak ada seorang pun disana selayaknya bioskop tersebut adalah milik kami berdua.
"Paman, kenapa sepi?" Tanyaku yang sedikit curiga.
"Ahem. Mungkin yang lain masih pada sibuk. Lagipula, saat ini adalah jam penayangan terakhir. Satu lagi, kan ini bukan weekend. Kalau weekend, mana ada sepi," jawabnya.
"Benar juga sih. Tapi, gapapa lah. Begini juga enak." Haha, aku mungkin terlalu bodoh atau naif. Aku dengan mudahnya memercayainya. Bukankah ini adegan yang sering dilakukan seorang presdir di drama korea untuk kekasihnya? Ahh sudahlah, itu tidak penting. Ini bahkan lebih baik, jadi aku tidak perlu repot-repot dengar Isaac Newton, ehh isak tangis dari para penonton.
Aku membenarkan posisi dudukku saat ini. Sebuah sofa layaknya kursi, membuatku begitu nyaman. Beberapa saat kemudian, film pun akhirnya di putarkan. Film bertemakan horror itu nampak semakin mencekam. Ditambah lagi kacamara tiga dimensi yang membuat efeknya seakan-akan menjadi nyata.
"Ahhh..." jeritan ketakutanku memenuhi ruangan. Tanpa sadar, aku selalu memeluknya. Dia hanya terdiam dan fokus melihat ekspresiku, bukan filmnya.
"Paman, takut..." suaraku mulau gemetar. Samar aku mendengar suara kekehannya lirih.
"Kan ada aku. Lagipula, kamu udah besar. Udah mau punya anak pula. Satu lagi, kamu juga yang memulihnya kan? Suruh siapa milih horror. Kalau milih romance kan enak," ucapnya yang malah balik menyalahkanku.
"Hehe, sekalian bisa melaksanakan praktek yang ada di film,bukan?" Batin Paman.
"Ya kan punya anak ga jamin merubah seseorang menjadi tidak penakut."
Aku menjauh darinya dan fokus pada film di depanku. Adegan itu terjadi berulang kali. Aku memeluknya, mencengkeram erat tangan di sampingku , hingga membenamkan wajahku di dada bidang kesayanga semua kaum hawa. Aromanya begitu wangi, sangat nyaman.
Karena ketakutan, aku pun tertidur di lengannya. Lengan yang begitu kekar, membuatku terasa nyaman. Paman tidak bergerak sama sekali hingga aku terjaga.
"Udah habis ya?" Aku melihat sekeliling. Suasananya masih tetap sama. Sepi dan senyap, hanya ada kami berdua disana. Bedanya, film tersebut telah usai saat ini.
Aku mengusap mataku dan melirik ke arah jam yang ada di tanganku. "Jam sepuluh?!" Aku terpelonjak kaget saat melihatnya. Seharusnya, sebentar lagi adalah waktu tutup dari mall ini.
"Paman, mengapa kau tidak membangunkanku? Bagaimana jika kita terkunci?" Tanyaku.
"Bukankah bagus? Aku bisa tidur bersamamu lagi," jawabnya santai.
"Tch. Ribet emang kalau ngomong sama pria otak mesum kayak paman!"
Aku menggaet tasku dan meninggalkannya sendirian disana. Paman menggelengkan kepalanya sebelum berdiri untuk mengejarku.
"Hei. Jangan marah dong," teriaknya.
Beberapa saat kemudian...
Malam pun semakin larut. Aku dan Paman akhirnya pulang ke rumah. Entah bagaimana ekspresi orang rumah saat melihatku pulang dengan Paman hingga semalam ini.
Sesampainya di rumah...
Aku melirik ke sekitar dan suasana rumah sudah sangat sepi. "Paman, sepertinya semua sudah tidur." Aku mengendap-endap menuju kamarku, namun berbeda dengan Paman. Pria sedingin kulkas itu berjalan biasa seperti tak terjadi apa-apa. Namun, saat aku mulai menginjak anak tangga pertama, lampu rumah tiba-tiba menyala.
"AHEM." Suara deheman seorang wanita terdengar disana. Aku menghentikan langkahku sembari harap-harap cemas, tak berani menatap.
"Darimana saja kalian?" Tanya ibunda.
"Ehhh mama. Kami hanya... makan," ucapku gugup.
"Apa kalian tahu jika pria dan wanita pergi bersama dan pulang sangat malam?" Tanya ibunda.
Aku mengangguk. "Aku tahu,ma. Tapi kan dia pamanku."
Aku menggunakan seribu satu alasan agar tidak disalahkan.
"Huh..." Ibunda menghela nafas kasar.
"Baiklah, lain kali jangan diulangi lagi."
"Baik bunda."
Aku dan Paman pun naik ke lantai dua bersama. Paman menjadi semakin berani saat ini. Sebelum memasuki kamar, dia selalu meminta kecupan dariku. Anehnya, aku sama sekali tak dapat menolaknya.
"Sleep well, Miaomiaoku" Dia melambaikan tangan kepadaku.
Lima Bulan Kemudian...
Hari ini aku berangkat ke kampus seperti biasanya. Tak ada yang berbeda, hanya perutku saja yang semakin membesar. Demi menutupinya, aku bahkan ekstra memakai pakaian besar selayaknya daster bagiku. Tak jarang pula aku meminjam baju Paman hanya untuk penyamaran. Bisa saja aku memakai korset, namun aku tak menginginkan sesuatu terjadi pada bayi kecilku.
"Hai,Mila," sapa Cindy yang telah menungguku disana.
"Hai, bestie. Ada apa? Mengapa wajahmu begitu cerah?" Tanyaku.
"Kau tahu, minggu depan kita akan ke bali tau. Ahh senangnya," ucap Cindy yang terlihat begitu bersemangat.
"Bali?" Tanya Mila.
...****************...
Setelah ini, ada episode spesial untuk visualisasi mereka sesuai dengan beberapa penjelasan karakteristik mereka, rupa dan hal lainnya. Biar halunya makin lancar.🤫🤫