One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 12: Bisnis yang Menguntungkan



"Bali?" Tanya Mila.


"Ya. Hanya sekelas saja. Rencana anak-anak sih. Kamu ikut ya?" Pinta Cindy memohon.


"Aku harus izin mama dulu."


"Ya udah, nanti aku bantu izinin," ucap Cindy.


Beberapa jam kemudian...


Sesuai dengan ucapan Cindy tadi, Cindy mengantarku pulang kali ini. "Mila, kamu ga bawa mobil?"


Aku menggelengkan kepala. "Aku kan sekarang bareng paman terus."


"Hummm. Terus, paman lu tau kalau lu pulang bareng gue?" Tanya Cindy.


"Tau lah. Btw, yuk masuk."


Cindy memarkirkan mobilnya di depan rumahku. Aku masuk ke dalam. Suasana begitu ramai, sepertinya mereka tengah makan siang karena memang saat ini adalah waktunya makan siang.


"Aku pulang," ucapku seperti biasa.


"Mila, ehh ada Cindy juga. Mari makan. Kalian pasti belum makan,bukan?" Tanya Ibunda yang melihat kami masuk.


Aku dan Cindy saling menatap. Cindy pun setuju untuk makan bersama dengan kami kali ini.


Selesai makan...


"Tante, aku kesini ada tujuan khusus," ucap Cindy membuka obrolan.


"Hum? Ucapkan saja," timpal ibunda.


"Tante, izinkan Mila ikut rekreasi ke Bali ya," pinta Cindy sambil membulatkan matanya dengan sempurna.


Ibunda menatap kearahku saat ini. Aku berusaha untuk tetap tenang, namun juga berharap.


"Tidak. Kalau masalah ke Bali, Tante ga izinkan. Tante..."


"Kakak ipar khawatir,bukan?" Paman Aiden datang entah darimana. Dia langsung memotong ucapan Ibunda.


"Bagaimana jika kakak serahkan Mia kepada Aiden? Kebetulan Aidem lagi ada tugas ke Bali. Ke Bali kan, Mia?" Tanya Paman.


"Iya paman."


"Baiklah, aku mengizinkanmu. Tapi, kamu jangan nakal. Paman Aiden tidak akan bisa terus menjagamu,ok?" Ucap Ibunda yang akhirnya menyetujui permintaan kami.


"Benarkah? Wahh terimakasih mama," ucapku sambil memeluk mama.


Seminggu kemudian...


Hari ini adalah hari dimana kami akan berangkat ke Bali. Semua rekan-rekanku telah berkumpul di titik kumpul yang telah ditentukan. Paman Aiden dengan mengenakan mobil sport mewahnya dengan kacamata hitam serta baju santai dengan kancing bagian atas yang sengaja tidak ia tautkan,membuatnya dilirik oleh semua mahasiswa yang ada disana.


"Emilia, dia paman lu?" Tanya seorang wanita yang merupakan teman sekelasku.


"Iya. Kenapa?" Tanyaku terlihat arogan.


"Ganteng banget sumpah. Keknya aku pernah lihat dia di kampus deh. Kenalin aku ke dia dong," bisiknya.


"Kalau mau kenalan, kenalan aja sendiri. Lagian, paman bukan type pria yang suka di dekati wanita."


Aku pergi meninggalkan wanita itu sendirian. Entah mengapa aku merasa sensitif sekali hari ini, apalagi saat melihat tatapan-tatapan lapar dari mahasiswi yang selalu menatap ke arah paman disana.


"Permisi tuan, apakah boleh aku berkenalan?" Seorang mahasiswi memberanikan diri untuk berkenalan dengan paman.


Beberapa wanita lainnya pun turut mengerubuti paman disana. Kali ini, Paman memang terlihat maskulin, namun juga santai. Berbeda dengan dirinya saat mengerjakan proyek di kampusku, sangat dingin dan arogan.


Paman terlihat tak menggubris mereka. Dia masih tetap pada tempatnya, tak bersuara sedikit pun seakan dia tengah menikmati momen "pangeran tampan dirubungi oleh para selir cantik."


"Dasar pria brengsek! Dia bahkan tidak menolak mereka menempel pada tubuhnya?!" Protesku dalam hati.


Entah apa yang merasukiku. Aku pergi ke arahnya dan membubarkan barisan yang berada disana. "Minggir, minggir. Jangan ganggu pamanku!"


Mereka semua menatapku tajam, seakan ingin menerkamku kapan saja. Aku tak peduli, yang aku pikirkan saat ini hanyalah aku ingin mereka menyingkir dari pria bajingan itu.


Paman membuka kaca matanya. Mata indah bewarna coklat yang berpadu dengan warna hanzel yang begitu indah. Hal itu menambah kesan tampannya disana. Tatapan dingin, namun sangat mempesona membuat setiap pasang mata tak mampu menahan debaran hati yang seakan akan melompat.


"Enak dong. Memangnya kenapa? Cemburu?" Bisik Paman di telingaku.


Sedangkan itu, disisi lain...


"Duhh, kemana si Mila? Gue udah muter balik sini berapa kali? Ditinggal ke kamar mandi sebentaran aja sudah ilang," gumam Cindy kesal.


Cindy menengok ke kanan dan ke kiri hingga akhirnya dia menemukan segerombol mahasiswi wanita yang entah apa yang mereka lakukan didepannya.


"Itu kenapa? Rame banget," gumam Cindy penasaran.


"Dahlah. Aku kesana aja. Mana tau Mila ada disana." Cindy memutuskan untuk menghampiri segerombol wanita tersebut.


"Mila, please lah. Izinin kami buat foto," ucap beberapa orang disana bersamaan.


"Benar. Pamanmu itu tidak mau foto kalau kamu tidak mengizinkannya. Ayolah. Setidaknya buat koleksi," timpal seorang wanita lainnya.


"Boleh sih boleh. Tapi, harus ada cuannya dong. Masa gratis? Di dunia ini, mana ada gratisan," ucapku.


"Yee. Pelit lu!" Seru mereka bersamaan.


"Gue ga peduli kalian mau bilang gue apa. Nyatanya, kalian bahkan tidak terlalu memedulikan gue. Kalian hanya datang disaat butuh doang." Aku memutar kedua bola mataku dan menatap mereka malas, tanganku bersendekap di bawah buah dada.


"Jadi, apa salahnya jika gue meminta sedikit imbalan?"


"Tch, lu mau berapa?" Tanya wanita itu.


"5k setiap fotonya. Kalau mau sentuh tangan tambah 5k lagi. Kalau mau paket lengkap sentuh tangan dan peluk mesra 20k," ucapku. Mataku berbinar saat membicarakan tentang uang


"Hahaha. Membawa paman memang tidak ada ruginya," batinku.


"Korting lah. Harga teman," ucap mereka menawar.


"Gak boleh kurang seribupun. Kalau ga mau, ya udah," ucapku sombong.


"Tch. Kalah mau foto sama artis," cibir wanita itu.


"Ya kalau mau kalian foto sana sama artis idola kalian. Paman gue bahkan jauh lebih tampan daripada cowok-cowok yang ada di wallpaper ponsel kalian tau," sahutku.


"Tapi, yang dikatakan Mila ada benarnya. Pamannya memang sungguh terlalu tampan. Apa jangan-jangan pamannya Mila adalah si tuan muda Zhao yang misterius itu? Marga Emilia kan juga Zhao?" Batin gadis itu.


"Gue mau tanya, boleh ga?" Tanya wanita itu.


"Tanya? Tambah lagi lah. Satu pertanyaan 1k," jawabku.


"Tch. Ya udah ga usah. Gue mau paket lengkap. Tapi, awas aja ya lu sampai bohong," ancam gadis tersebut.


"Gue juga mau."


"Gue juga."


Semua orang akhirnya setuju dengan keputusanku. Mataku semakin berbinar. Aku melihat tumpukan uang di depan sana. Setidaknya, aku dapat menambah uang sakuku kali ini.


"Antri, antri. Satu-satu ya guys. Paman, baik-baik ya. Mila hitung uang dulu."


Aku meninggalkan paman sendirian disana masih dengan segerombolan para mahasiswi bodoh yang fanatik dan tergila-gila pada ketampanan. Hingga suara teriakan Cindy membuyarkan pikiranku yang sedang menghitung uang di tanganku.


"Mila!" Teriaknya membuatku terkejut.


"Cin! Bisa ga sih kamu ga ngagetin aku?" Protesku.


"Lagian lu gue panggilin ga denger-denger. Habis darimana aja sih lu? Gue cariin keliling ga ada. Padahal, gue udah bilang tunggu disini!" Protes Cindy panjang kali lebar.


"Ya maaf, aku kelupaaan," jawabku.


"Tch, kebiasaan deh. Lagian lu darimana sih?" Tanyanya.


"Aku..."