One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 7: Mengapa Sesakit Ini?



"Hanya menebak. Tapi, bagaimanapun rupanya, jika kamu bisa mendapatkannya, nenek yakin hidupmu akan terjamin," ucap Alena.


"Tapi... Aku gak mau punya suami jelek. TITIK!" Seru Stefanie.


"Simple aja. Ambil uangnya dan nikmati itu dengan pria pilihanmu. Tapi, jangan lupakan nenek."


Stefanie nampak terdiam. Dia memikirkan ucapan neneknya yang memang terdengar licik dan jahat.


"Kedengarannya bagus juga," Batin Stefanie.


"Tapi, ingat ya Stef. Kalau sampai kamu gagal menggaetnya, kakekmu tidak akan memberikan sepeserpun hartanya untukmu. Semua akan menjadi milik adik lelakimu itu," ucap Alena setengah mengancam.


"Sial! Bahkan nenek pun hingga mengancam. Kakek juga tidak akan memberiku warisan. Apa pria itu benar-benar hebat? Tapi, tak apa lah. Sejauh ini, masih belum ada yang bisa menolakku," Batin Stefanie.


(Flashback off)


Mereka semua telah berkumpul disana, Namun Aiden masih belum menampakkan batang hidungnya. Hingga beberapa saat kemudian, seorang pria tampan terlihat tengah menuruni anak tangga dengan menggandeng wanita cantik yang tingginya sebahu pria tersebut dan berparaskan sangat cantik, bahkan melebihi wanita di bawahnya. Semua pandangan tertuju kepada mereka. Jika orang yang baru kenal atau mungkin baru melihat mereka pasti akan salah paham tentang hubungan mereka. Senyum Emilia merekah, sama halnya dengan Aiden. Pria itu tak pernah melepaskan pandangannya terhadap gadis di sampingnya.


"Malam semuanya," sapaku sembari membungkukkan badan dengan sopan.


"Siapa ini,Yin?" Tanya Alena.


"Oh. Dia adalah cucuku. Namanya Emilia Zhao," ucap nenek memperkenalkanku kepada mereka.


Aku hanya tersenyum menatap mereka. Terlebih kini fokusku ada pada wanita cantik yang berdiri tepat disamping teman nenek.


"Perkenalkan ini teman nenek, panggil saja dia Nenek Alena. Kalau yang disebelahnya adalah Stefanie, cucu dari nenek Alena."


"Salam hangat kepada nona Stefanie dan nenek Alena." Sebenarnya, aku terkadang muak dengan harus bersikap anggun di depan semua orang.


"Kalau dia... Dia adalah Aiden Zhao. Dia adalah pria yang aku ingin jodohku dengan Stefanie," ucap nenek memperkenalkan paman tanpa basa basi.


"Tidak menyangka jika Tuan Muda Aiden ini adalah pria yang begitu tampan. Aku harus mendapatkannya tidak peduli bagaimanapun caranya," Batin Stefanie.


"Apa?!" Pekikku terkejut.


"Kenapa Mila?" Tanya nenek dengan wajahnya yang kebingungan.


"Tidak mungkin kan kamu tidak setuju?" Lanjutnya.


"Bagaimana mungkin aku harus setuju? Mungkin jika diriku sendiri, aku membiarkannya. Biarlah cinta ini bertepuk sebelah tangan. Tapi dia? Aku tidak menginginkan dia lahir tanpa ayah apalagi saat melihat Ayahnya bersama wanita lain. Tapi, apakah aku harus berjuang diam-diam untuk menikahinya?" Batinku bingung harus menjawab apa.


Tatapan kejam dan menyelidik itu membuatku mundur beberapa langkah. "Tidak. Aku hanya ikut terkejut. Tidak menyangka saja jika kalian akan mencarikan jodoh untuk paman." Aku beralasan untuk menyelamatkan diriku.


"Lalu, jika pria mesum itu dengan wanita ini, bagaimana dengan dia?" Batinku sambil menatap perutku yang sudah mulai membuncit.


"Ada apa dengan perutmu,Mila? Apakah sakit?" Tanya ibunda.


Aku menggeleng pelan. "Enggak kok bu. Hanya lapar saja." Aku berbohong kepada Ibunda.


"Siapa namamu tadi? Emilia kan ya? Aku merasa sepertinya kamu tidak ikhlas jika aku bersama dengan pria ini," ucap Stefanie.


"Apa sih cewek ini? Aku bahkan tidak memiliki dendam dengannya. Mengapa dia begitu menatapku rendah?" Protesku dalam hati.


"Haha. Nona Stefanie bercanda. Bagaimana mungkin aku yang hanya keponakannya saja bisa menyukai pamanku sendiri," ucapku sedikit keceplosan.


"Aku tidak mengatakan bila kamu menyukainya lho."


Aiden yang melihat hal tersebut tersenyum senang, namun masih saja mengerikan.


"Sudah sudah. Stefanie, kamu jangan banyak berpikir."


"Bagaimana Aiden? Stefanie cantik kan?" Tanya nenek.


"Cihh. Menurutku, Miaku yang tercantik. Tapi, apa salahnya sesekali menggodanya. Salah sendiri tidak mau mengakui," Batin Aiden.


"Cantik," jawab Aiden dingin.


Aiden mengubah pandangan matanya dengan sempurna, menyorotkan perasaan tertarik kepadanya. Ya, menurutku, paman memang sangat sempurna jika harus menjadi aktor.


"Lalu, apakah kamu setuju tentang perjodohan ini? Kami mengumpulkan kalian kesini hanya untuk ini. Ibu tau kamu sangat sibuk, makanya hanya dapat mengatakan acara keluarga," ucap nenek.


"Hum. Namun ingat, jangan paksakan aku untuk menikah. Aku masih ingin melajang," ucap Aiden tegas.


Hal tersebut tentu saja membuatku terkejut. Hampir saja aku tak kuasa menahan air mataku yang hampir turun. Rasanya bak ditancapkan pedang begitu dalam. Sakit dan perih. Aku menahan diriku untuk tetap berada disana.


...*...*...


Waktu terasa berputar begitu cepat. Aku masih berada disana dengan rasa sakit yang sama sekali tidak mereda. Wanita itu menempel pada paman begitu mendengar paman menyetujui maksud hati mereka.


Semua orang nampak bahagia malam ini, berdansa dengan pasangan mereka. Hanya aku, nenek dan teman nenek saja yang duduk. Mereka berdua berbincang, sedangkan aku hanya dapat meratapi nasibku sendiri. Aku menatap lurus, pandanganku menuju kepada mereka. Aku akui mereka terlihat serasi, jika dibandingkan denganku. Hingga ibunda tiba dan membuyarkan semuanya.


"Mila, kamu tak apa? Mama lihat kamu kok daritadi bengong terus. Sini gabung," ajak ibunda kepadaku.


Hal tersebut tentu saja membuyarkan lamunanku. Sedikit terkejut, namun aku menoleh ke arah ibunda dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.


"Mila gapapa kok,ma. Emilia hanya kelelahan," ucapku berbohong.


"Mila izin duduk disini ya ma. Mila sungguh lelah," lanjutku.


"Ohh baiklah. Kalau kamu butuh apapun, ucapkan saja pada mama," ucap ibunda.


Aku hanya mengangguk pada ibunda. Aku masih terus memandangi mereka. Paman menyuapinya dengan begitu mesra. Mereka nampak sudah sangat akrab, akupun penasaran dan coba untuk mendekat.


"Ga nyangka ya, kamu sudah sebesar ini," ucap Aiden berpura-pura seperti mengenal Stefanie. Pasalnya, mereka pernah bertemu sewaktu kecil. Sayangnya, Aiden benar-benar melupakan masa itu.


Paman sesekali melirikku dalam diam. Dia sangat pandai bersandiwara saat aku mendekat ke arah mereka.


"Apakah kau pernah melihatku sebelumnya?" Tanya Stefanie.


"Bukankah keluarga kita sudah saling mengenal sejak dulu? Jangan lupa aku dan kamu berjarak 5-6 tahunan, bukan?" Ucap Aiden.


Stefanie mengangguk. "Ya, kau benar. Aku tidak menyangka. Kau yang begitu misterius itu sungguh tampan. Sepertinya, aku adalah wanita paling beruntung di dunia." Stefanie menyandarkan kepalanya pada bahu milik paman.


"Cukup, Mila. Cukup! Aku sudah tidak kuat disini. Jika aku terus disini, sama saja dengan aku membunuh diriku sendiri dengan rasa sakit yang dibawa olehnya," Batinku.


Aku berbalik badan dengan air mata yang mengalir deras. Jujur saja, hal yang paling menyakitkan bagiku adalah menahan rasa sakit sendirian, menahan rasa kecewa dan ingin menangis. Pedih, sesak, sakit, aku sudah tidak mampu.


Ibunda dan Ayahanda menatap kepergianku secara mendadak. Tak lupa pula dengan Paman yang berada disana. Aku berlari sedikit cepat, melupakan masih ada nyawa yang harus aku jaga.


Paman meninggalkan pasangan dansanya begitu saja.


"Lho, tuan muda. Anda mau kemana?" Tanya Stefanie yang sama sekali tak dihiraukan oleh Paman. Dengan sigap, paman mengejarku hingga keatas, tidak memedulikan pandangan orang.