One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 25: Bullying



"Paman, ayolah. Jika Cindy tersesat, apa Paman mau bertanggung jawab?"


"Untuk apa aku bertanggung jawab atas dirinya? Dia bukan siapa-siapaku!" Jawabnya begitu tegas.


"Baiklah kalau Paman tidak mau bantu aku cari. Aku aja cari sendiri," ucapku setengah merajuk.


Aku meninggalkan pria itu yang masih berdiri disana. Tentu saja, aku tidak ragu sama sekali hingga akhirnya dua orang pria yang tadinya ingin aku mintai nomor ponsel menatapku dan menghampiriku. Aku tidak berpikir macam-macam dan masih melanjutkan pencarianku pada Cindy.


"Cin! Cindy!" Teriakku sembari menatap sekitarku, namun aku masih saja tidak menemukannya. Sebuah fakta yang malah kutemukan. Kedua pria itu masih saja mengikutiku. Aku mulai gusar terlebih lagi aku telah berjalan sedikit menjauh dari lokasi Paman. Aku berlari sedikit kembali padanya, namun kedua pria itu buru-buru menghadangku disana.


"Hai cantik. Kita bertemu lagi disini," ucap mereka berdua dengan nada genit.


"Maaf, apakah kita saling kenal? Kupikir bahkan saya tidak pernah melihat kalian," jawabku dengan bahasa inggris.


Mereka berdua saling menatap, lalu tertawa tiba-tiba. "Bukankah kau tadi ingin meminta nomor ponsel kami?"


"Bagaimana mereka bisa tahu? Tidak, aku tidak boleh memperlihatkan pada mereka," batinku dalam hati.


"Haha. Kalian salah mengira. Bagaimana mungkin aku meminta nomor kalian?" Aku melirik ke arah Paman. Aku melihatnya sedang berjalan ke arah kemari dengan cepat, penuh amarah.


"Aku sudah memiliki suami dan kami sebentar lagi akan memiliki buah hati. Ya kan sayang?"


Kedua pria itu membalikkan badannya. Paman Aiden tersenyum mengisyaratkan sesuatu pada bibirnya. Kedua pria itu nampak sedikit ketakutan. Bagaimana tidak, Paman bahkan beberapa kali lebih tinggi dari pada mereka.


"A-ampun om. Ka-kami tidak bermaksud begitu. Ka-kami permisi dulu," ucap mereka sembari gemetar ketakutan.


"Haha, dasar kedua bocah payah! Gitu mau mencoba menggoda wanitaku?" Paman merangkul tubuhku tanpa sadar. Beberapa temanku seolah telah menatap ke arahku. Aku baru sadar bila mereka sedari tadi memperhatikanku. Ingin sekali rasanya aku menenggelamkan kepalaku terlebih saat aku mengatakan aku memiliki suami dan kami akan segera memiliki buah hati. Sungguh, mungkin seumur hidup pun aku tidak dapat melupakannya.


"Mila ... Apa maksudmu?" Tanya seseorang yang suaranya tak asing di telingaku.


"Cindy? Lu kemana aja sih? Gue nyariin lu kesana kemari tapi ga ketemu!" Protesku.


"Mil, jangan alihkan pembicaraan. Apa maksud perkataanmu tadi?" Tanyanya mempertegas.


"Tidak ada maksud. Aku hanya sembarangan berbicara. Aku ketakutan. Apa kau tahu itu?" Tanyaku tentu saja dengan dibumbui sedikit air mata agar dia memercayai perkataanku.


"Hufftt ... baiklah kalau itu kenyataannya. Maafkan aku yang tidak langsung menolongmu. Ini, aku belikan es krim untukmu. Kamu pasti lelah kan?" Tanya Cindy yang begitu perhatian. Melihat sorot mata bersalahnya membuatku ikut merasa bersalah telah membohonginya. Namun, aku tidak memiliki pilihan lain selain itu.


"Paman, apa kamu mau juga? Jika iya, aku akan membelikannya untukmu," ucapku.


Paman hanya mengangguk menandakan dia setuju. Aku langsung menarik tangan Cindy begitu antusias untuk membelikan sebuah es krim rasa ketan hitam kesukaan Paman. Entah sejak kapan aku mengetahuinya, namun seiring berjalannya waktu, aku dapat mengerti apapun yang disukai oleh Paman dan dibenci olehnya. Makanan yang bisa dimakan ataupun tidak bisa. Aku mencatatnya secara otomatis dalam benakku.


"Mbak, es krim rasa ketan hitam 1 dan matcha 1," ucapku memesan es krim untuk diriku sendiri dan Paman.


"Ehh tunggu tunggu. Dua buat siapa?" Tanya Cindy yang terkejut mendengarnya.


"Seriusan lu makan dua?" Tanya Cindy.


"Perasaan dulu lu bahkan makan aja lebih banyak gue. Kok sekarang kayak dua sampai tiga kali lipat?"


"Hehe. Gapapa. Panas. Capek aku diet," jawabku dengan kekehan kecil. Cindy hanya menepuk jidatnya saat mendengarnya, dia menggelengkan kepala setelahnya dan tak berselang lama es krim kami pun telah jadi. Aku membawa dua buah es krim tersebut dengan tanganku setelah es krim yang dibelikan oleh Cindy tadi telah raib ku makan. Aku pun sesegera mungkin kembali ke tempat Paman berada dan memberikan es krimnya sebelum mencair seratus persen.


Saat di tengah perjalanan, aku dan Cindy melihat seorang teman kami yang biasanya terdiam, ditindas oleh beberapa orang disana. Mereka adalah Tamara dan teman-temannya. Memang tiga bocah yang biasa disebut gangsternya kampus Sriyanka itu, selalu menindas dan memalak kaum-kaum lemah seperti gadis yang bersimpuh di tanah sembari memohon pada mereka.


Bughhh...


Tamara, si bos geng itu melemparkan sebuah bola volly yang tadinya mereka mainkan bersama tepat pada wajah gadis malang itu. Aku meringis melihatnya dan mendengarkan apa yang terjadi disana.


"Heh cupu! Serahin duit lu atau gue lempar lagi bola ini!" Seru salah seorang teman sekaligus bawahan Tamara pada gadis malang itu.


"Ma-maaf, Vanice. A-aku... aku tidak punya uang. Ibu tidak memberikan uang saku banyak padaku. Hanya ada untuk membelikan oleh-oleh untuk tetang...."


Bughhh...


Kali ini Vanice lah yang melemparnya dengan kejam. "Gak ada yang butuh kata maaf lo! Gue butuhnya cuan!"


Aku mulai merasa iba dengan gadis itu dan saat aku mulai mendekat, aku mulai mengenalinya. Dia adalah Amelia, teman sekamar Cindy yang begitu pendiam.


"Cin, bukankah itu Amelia temen sekamar kamu?" Tanyaku.


"Mereka benar-benar deh. Ga bisa dibiarkan. Ayo kita kesana!" Seruku dengan amarah memuncak. Cindy hanya tertegun melihatku mulai membrutal, bar-bar, tidak seperti aku yang biasanya. Aku menyaut bola yang ada di tangan Vanice dan melempar balik ke mukanya.


"Auhhh! Apa-apaan sih lu?!" Seru Vanice merintih kesakitan.


"Pakai tanya? Lu lihat wajahnya? Kalian benar-benar kejam ya." Aku memicingkan mataku, menatap mereka sinis. Aku benar-benar tak habis pikir dengan apa yang mereka perbuat. Bisa-bisanya mereka menindas seorang gadis mungil yang menggemaskan itu. Aku benar-benar muak dengan semua bullying yang terjadi di negara ini.


"Dia duluan yang memulai. Dia lewat tanpa permisi disini saat kami bermain volly. Apa salahnya kami menghukumnya?" Tanya Cindy dengan gaya bos geng miliknya.


..."Otak kalian rusak atau gimana sih? Masih tanya apa salahnya. Hei monyet, ini bukan pantai kalian. Semua orang bebas berlalu lalang dong!" Seruku protes....


"Apa kata lu? Monyet? Lu yang monyet, seluruh keluarga lu monyet!" Umpat Cindy padaku.


"Selain itu, gara-gara dia, kita jadi ga fokus main dan akhirnya malah kena kepala gue," lanjut gadis tak tahu malu itu.


"Tch, alasan. Kalau memang ga jago. Ya ngomong aja ga jago. Ga usah nyalahin orang."


"Mil, sudah sudah. Jangan terlalu terbawa emosi," ucap Cindy menasehatiku.


"Amel, bagaimana kronologinya memang? Apa seperti yang mereka katakan?"