One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 20: Malam yang Panjang




Hai guys, maaf ya jika update terkadang lama. Oh iya, mendengarkan saran dari kakak editor, mulai bab ini dan seterusnya akan menggunakan POV orang ketiga ya. Jadi, dimohon untuk membiasakan. Aku jamin ini akan menjadi lebih nyaman untuk dibaca dibandingkan dengan POV sebelumnya.


...****************...


"Mia, bolehkah?" Aiden bertanya pada Emilia kali ini. Emilia nampak seperti tidak tahu harus menjawab apa, namun tubuhnya benar-benar tak dapat berbohong, tak dapat diajak bekerja sama. Mila menganggukkan kepalanya tanpa sadar, membiarkan tubuhnya merasakan kenikmatan yang sesungguhnya.


"Ta-tapi, Paman. Jangan keras-keras. Aku tidak ingin mencelakainya," bisik wanita cantik itu lirih pada pria yang saat ini sudah berada di atasnya.


Pria itu hanya merespon Mila dengan anggukan dan senyumnya. Perlahan, Aiden menanggalkan seluruh pakaiannya, juga termasuk milik pasangannya. Perut Mila yang dulunya datar, kini sudah sedikit membuncit akibat buah cinta mereka dalam kesalahan satu malam. Mila mengingatnya dengan jelas, namun rasanya hari ini berbeda. Rasa takutnya seakan telah sirna bak ditelan bumi. Mila bisa dan hanya merasakan kenikmatan yang sesungguhnya. Malam itu, malam dimana awal mula semua ini terjadi, Mila hanya menangis dibawah perlakuan pria tinggi besar yang sebelumnya adalah orang asing baginya dengan sedikit kasar akibat mabuk dan dipengaruhi obat perangsang. Pria itu benar-benar gagah perkasa. Sekali berbuat langsung jadi begitu saja. Entah apa yang dia minum, namun hari ini Mila tidak ingin memedulikan apapun. Mila mengikuti ritme permainannya.


Beberapa menit kemudian...


Semua berlalu begitu cepat. Kini, Tubuh Aiden sudah terlihat polos tanpa sehelai pakaian pun. Walau ini bukan yang pertama kalinya, namun hal itu sanggup membuat Mila tersipu malu melihatnya. Badannya yang kekar, six-pack dan sangat idaman. Dia terlihat begitu tampan. Mila mulai menunjukkan keagresifannya di depan Aiden.


"Ughh paman. Kau sangat seksi," goda Mila dengan suara serak. Mila menggigit bibirnya menahan dirinya sendiri.


"Tenang baby. Kau akan mendapatkan segalanya malam ini. Namun, maafkan aku jika aku harus berhati-hati. Ada dia. Aku tidak ingin dia terluka." Aiden menunjuk ke arah perut Mila yang buncit. Dia pun mengelus pelan hingga mereka dapat merasakan sesuatu bergejolak di dalam. Sosok kecil itu rupanya sedang menendang perut ibundanya.


"Paman. Dia ... Dia nendang tadi." Air mata di pelupuk matanya sungguh tak mampu dia tahan. Aiden pun dapat merasakannya saat ia pertama kali melakukannya. Mereka berdua bersorak kegirangan. Aiden mendekatkan telinganya. Suara detak jantung bayi mereka terdengar semakin jelas dan nampak sehat. Tentu saja, sebagai orang tua itu adalah hal yang utama.


Namun, permainan mereka tidak berakhir sampai disitu saja. Aiden perlahan mulai mengecup dua gundukan sintal milik Mila dan merangsangmya sedikit demi sedikit. Mila merasakan Aiden pun perlahan mulai melakukan aktivitasnya. Gadis itu menunjukkan ekspresi wajah yang sungguh menikmatinya. Mila mengerang, menyebut nama Aiden sembari berharap semua ini tidak akan berakhir begitu cepat. Namun, hubungan yang didasari atas sebuah kesalahan, dapatkah bertahan selamanya?


Aiden mulai menyuruh Mila untuk memuaskannya. Mila membantu Aiden dengan bermain dengan miliknya. Cukup lama. Mila meng*l*mnya dengan sengaja. Mila merasakan tongkat kayu miliknya itu semakin mengeras dan semakin besar di dalam. Mila mempercepat temponya bak pemain profesional. Suara seksi yang berat dan maskulin itu, terdengar seperti sedang memanggil nama kekasihnya. Aiden semakin menggila dan membuatnya bahkan menyemburkan benihnya di dalam mulut mungil Mila.


"Ahh, maaf Mia. Paman tidak dapat dapat menahannya," ucapnya seperti merasa bersalah.


Mila membersihkan mulutnya dengan tisu sebelum menjawab pernyataan bersalahnya. "Hum, aku dapat mengerti itu,paman."


Paman tidak menjawabnya lagi. Dia melanjutkan aktivitasnya. Kini, dia berfokus pada milik Mila yang bawah. Tentu saja, inilah kenikmatan yang sesungguhnya bagi seorang wanita. Dia mulai memasukkan tongkat kayu tersebut secara perlahan namun pasti.


"Ughh..." Mila nampak mulai merasakan miliknya mulai mengeras lagi. Harus dia akui, dia memang orang pertama yang dapat membuat Mila sangat menikmatinya. Namun faktanya, dialah orang pertama yang berhubungan dengan Mila sama halnya seperti Mila bagi Aiden.


"Ahhh. Paman, lebih cepat lagi." Suara seksi itu membuatnya semakin bersemangat, namun dalam beberapa tempo, dia mulai meredakan lagi hentakannya.


"Tidak, Mia. Masih ada dia," timpalnya sambil mengecup perut kekasihnya lagi. Mila memasang raut wajah kesal, namun dengan sigap, pria itu langsung mencumbu gadisnya dengan dahsyat. Aiden membuat Mila semakin terlena, membuatnya melupakan semua beban yang ada. Dia mampu membuat Mila melupakan status mereka sebagai paman dan keponakan.


"Paman, sepertinya ada yang mau keluar..." Aku sudah menuju tingkatnya. Sebuah cairan putih mengalir begitu saja menghangatkan milik pria yang berada di atasnya ini.


Paman mulai memposisikan dirinya dengan spot ternyaman. Dia memulainya dengan perlahan,namun dengan ritme yang seiras. Butuh sekitar tiga puluh menit baginya untuk mencapai kepuasannya.


"Eghh..." Aiden melenguh pelan. Dia mengecup Mila setelah itu. Lalu, menjatuhkan dirinya tepat di samping Mila sembari memeluknya erat.


"Terimakasih, Miaomiaku," ucapnya dengan masih memeluk Mia-nya erat.


Setelah puas mengecup punggung Mila, Aiden menarik kekasihnya dan menghadapkan Mila padanya.


"Mia, apakah kamu bersedia menjadi istriku?" Tanya Aiden.


Mila tentu saja terkejut mendengarkan pernyataannya. Baiklah, ini bukan pertama kali dia membicarakan untuk bertanggung jawab,namun baru kali ini Mila mendengarkan dia memperjelas maksudnya, menanyai pendapatnya sebelum melakukan sesuatu dan memutuskannya sendiri.


"Jujur, Paman. Aku bingung. Aku sungguh nyaman padamu,tapi bagaimana jika mereka tidak setuju? Bagaimana pun kita masih satu keluarga," jawab Mila bimbang.


"Masalah izin dan restu, kamu jangan pikirkan. Jawab saja pertanyaanku," tutur Aiden.


"Baiklah. Aku setuju. Aku mencintaimu, Paman. Aku sangat mencintaimu," ucap Mila sembari mengeratkan pelukannya pada Aiden.


Keesokan paginya...


Seperti biasa, Mila bangun lebih pagi dibandingkan dengan Aiden. Mila melihat Aiden masih tertidur pulas. Mila menatap wajahnya lekat. Wajah yang sangat tampan dan sempurna. Menurutnya, Aiden adalah ciptaan tuhan yang paling sempurna jika kewarasannya dalam mencintai seseorang dapat diubah. Namun, Mila sekarang benar-benar berharap Aiden hanya mencintainya seorang. Sama halnya dengan Mila yang hanya mencintainya. Mila tersenyum manis padanya. Tanpa sadar, Mila mengecup pipinya. Setelah itu, Mila pergi dari sana untuk membersihkan dirinya dari sisa-sisa permainan gila semalam.


Beberapa saat kemudian...


Mila keluar dari kamar mandi masih dengan bathrobe berwarna pink kesayangannya. Tentu saja, bathrobe itu masih dapat mengekspose sedikit belahan dada Mila. Mila berjalan menuju ruang tengah kamar VVIP itu. Mila menyediakan dua cangkir yang berisikan susu hamil coklat hangat yang baru saja dia beli semalam dengan sebuah kopi segar untuk Aiden.


"Ughh, wangi sekali." Aiden telah terbangun dari tidurnya yang begitu pulas. Mila melihat Aiden berjalan menuju ke arah kekasihnya masih dengan tubuh polos tanpa sehelai pakaian pun. Sambil mengerjapkan mata, Aiden memeluknya dari belakang dan mengucapkan selamat pagi untuk Mila.


"Selamat pagi kesayangan Paman," bisiknya di telinga Mila. Hembusan napas Aiden mampu membuat wajah seorang Emilia Zhao memerah. Mila pun tak sengaja berbalik badan dan melihat tubuhnya yang masih tanpa busana.


"Paman!" Pekik Mila terkejut melihatnya.


"Bisakah anda memakai pakaian anda dulu?" Tanya Mila.


"Kenapa? Bukankah tadi malam kau juga sangat menikmatinya?"