One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 17: Paman Merajuk




"Beruntung? Bukannya biasa aja ya kalau Paman kita itu baik sama kita?" Timpalku.


"Yee. Gak semua paman kali. Pamanku udah jelek, kayak buntelan kentut, mana pelit lagi. Boro-boro mau beliin teh, aku minta uang buat beli sendiri aja dia ga kasih," ucap Cindy.


"Huss. Ga boleh begitu. Bagaimana pun dia juga paman kamu."


"Ya kan cuman sama lu gue bilangnya."


"Semuanya harap berkumpul! Bus akan segera berangkat!" Seru pemandu wisata.


Cindy berlari menuju bus, sedangkan aku buru-buru berlari menuju ke mobil paman. Aku melihatnya sedang terlelap dalam mimpinya. Mulutnya begitu bagus, matanya yang terpejam, badannya, semuanya terlihat sangat indah. Aku bahkan yakin bila semua wanita di bumi ini tidak akan pernah menolak pesonanya, ya aku juga bukanlah wanita munafik. Aku tahu ini salah,tapi jujur saja aku sangat menikmatinya. Ingin sekali rasanya aku melu?*t bibir merah yang seksi itu. Aku bahkan sudah semakin gila, aku meneguk air liurku beberapa kali sebelum akhirnya aku memutuskan untuk mengetuk jendela mobilnya.


Tok tok tok...


Aku terpaksa mengetuk pintu mobil Paman. Pria yang tertidur dengan sedikit mengendurkan kursi mobilnya itu pun terbangun setelah mendengar ketukan pintu dariku.


Tanpa kata, pria itu membukakan pintunya untukku. Dia menatapku sejenak dengan tatapan lelahnya. Aku tahu dia begadang semalam untuk menyelesaikan semua dokumen hanya demi menemaniku kemari. Aku benar-benar berhutang padanya untuk hal ini.


"Paman, jika paman mengantuk, lebih baik kita tukar posisi saja. Aku kan juga bisa nyetir," ucapku menawarkan diri.


"Hoammm..." Pria itu menguap dan menggeliat. Dia melirik ke arahku dengan sebelah mata, sebelahnya lagi masih tertutup sempurna. Terlihat sekali bila dia benar-benar tidak dapat lagi menahan kantuknya.


"Kamu yakin?" Tanyanya.


Aku hanya mengangguk pelan menjawabnya.


"Baiklah. Aku akan melihatmu menyetir. Jika dalam lima puluh meter kamu sudah tidak sanggup, aku akan menggantikannya. Aku tidak akan tidur hingga lima puluh meter ke depan," ucapnya.


"Aku tidak yakin itu," lirihku.


Kami bertukar posisi. Paman benar-benar berusaha untuk tetap terjaga sembari mengawasiku menyetir dengan luwesnya. Paman pun mengangguk dan pria itu akhirnya tak memaksakan dirinya lagi untuk terjaga. Dia memercayaiku sepenuhnya. Aku yang buta map dan tidak hafal jalan terpaksa harus menyetir perlahan di belakang bus kelas. Untuk mengusir rasa kantukku, aku memakan permen rasa kopi favoritku sembari melakukan panggilan video dengan ibundaku. Beliau menelepon duluan dan memang sedari awal aku sudah ada niat untuk itu.


"Hai, Ma. Tumben telepon. Padahal Mila mau telepon juga biar mama temenin Mila," ucapku menyapa ibunda.


"Sayang, kok kamu yang nyetir? Aiden mana?" Tanya ibunda.


Aku menunjukkan Paman yang sudah berada di alam mimpi, mungkin bertemu dengan beberapa bidadari cantik yang mengelilinginya, atau mungkin fans-fans yang siap dimadu olehnya.


"Tch tch tch. Astaga,Aiden. Bagaimana dia bisa membiarkan anak gadisku menyetir sendirian malam-malam begini?" Ucap Ibunda mengomel.


"Udah udah ma. Kasihan paman. Kemarin dia begadang hingga menjelang pagi, sebelum kami berangkat ke bali. Aku yakin pekerjaannya pasti sangat banyak," ucapku membela Paman.


"Btw, kamu kok tahu jadwal tidur pamanmu?" Tanya ibunda menyelidik.


"Ya tau lah kan kamar Paman ada di sebelah kamarku. Apa mama lupa?" Jawabku begitu santai dan memang benar adanya.


"Hummm. Baiklah."


Aku melanjutkan obrolanku hingga kami tiba di sebuah hotel bintang 3 yang dekat dari pantai yang kami tuju. Aku memarkirkan kendaraanku sebelum akhirnya aku membangunkan Paman yang nampak sangat nyaman dalam tidurnya.


"Ma, aku sudah sampai nih. Aku mau bangunkan Paman dulu ya. Nanti kita lanjut lagi," Pamitku kepada Ibunda sebelum memutus telepon kami hari ini.


"Paman, bangun. Kita sudah sampai," ucapku membangunkan dia perlahan.


Dia membuka matanya perlahan, mengerjapkannya berulang kali sebelum sepenuhnya tersadar.


"Ehh. Sudah sampai ya. Omong-omong, Paman sudah memesan kamar untuk kita. Satu kamar VIP di lantai teratas," ucap Paman saat nyawanya telah terkumpul dengan sempurna.


"Ha? Satu kamar? Bagaimana pendapat teman-temanku?" Tanyaku.


"Sudah. Jangan khawatir. Dalam ruangan tersebut terdapat dua kamar tidur yang berbeda juga setiap kamarnya terdiri dari kamar mandi. Kita berpura-pura saja tidur secara terpisah," ucap Paman.


"Wait, berpura-pura? Mengapa harus berpura pu..." Aku belum sempat menyelesaikan kata-kataku, tapi pria mesum disampingku itu langsung mel?*at bibirku tanpa permisi. Dia mencoba mendorong masuk lidahnya, aku pun terlena, namun aku buru-buru sadar setelah mendengar hiruk pikuk dari teman-temanku saat mereka turun dari bus. Aku mendorong tubuh paman secara tiba-tiba, lalu mengusap bibirku agar tak ada bekas apapun disana. Tentu saja, ibunda telah mengakhiri panggilannya saat aku tiba di parkiran hotel, setelah salam perpisahan di ponsel itu. Aku tak ingin siapapun tahu tentang hubungan tak logis ini.


"Paman, kumohon jaga sikapmu. Aku benar-benar belum menginginkan hubungan ini di publikasikan di khalayak umum, ya?" Ucapku meminta kepadanya. Tentu saja, dengan wajah sedikit memelas tentunya.


"Humph. Baiklah. Maaf." Dia turun tanpa mengatakan apapun lagi. Entah mengapa rasa bersalah tiba-tiba terbesit dalam hati. Aku khawatir dia marah padaku. Dia masih bungkam dengan menurunkan semua barang kami dari bagasi mobilnya. Dia pun membawa semuanya masuk ke dalam hotel tanpa menungguku yang masih termenung menatap ke pergiannya. Sorot mataku tak mampu lepas darinya, aku menelan ludahku dengan susah payah sebelum pada akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti langkahnya.


"Mila!" Panggil Cindy saat aku melangkahkan kakiku tanpa membawa barang apapun kecuali boneka kesayanganku.


"Hum? Ada apa Cin?" Tanyaku.


"Lu tidur di kamar sebelah mana?"


"Aku tidur di kamar VIP lantai paling atas," jawabku.


"Ohh baiklah. Aku ada di lantai dua tepatnya di kamar 202." Aku tersenyum kik kuk kepada Cindy. Pikiranku masih penuh dengan bayang-bayang Paman yang merajuk kali ini.


"Mila, ada apa? kenapa sepertinya kau berpikir sesuatu?" Tanya Cindy.


Aku tidak memedulikan apa yang dia ucapkan, Pikiranku benar-benar telah dipenuhi oleh pria tampan yang baru saja berlalu pergi tanpa kata itu hingga pekikan Cindy membuatku sadar begitu cepat.


"MILA!" Teriak Cindy di telingaku.


"Ha? ehh? ada apa?" Tanyaku tidak fokus.


"Gue nanya ke lu tadi woyy!" protesnya.


"Oh hum ... Kamu tadi tanya apa?"


"Dahlah, pikir saja sendiri!" Cindy merajuk dan meninggalkan aku sendirian disana. Aku masih terperangah disana, bergeming dan tidak bisa bergerak.


"Ehh, Cin. Tungguin aku lah!" Teriakku sembari setengah berlari mengikutinya.