
Pada suatu malam yang dingin, Aku berjalan sendirian di tengah hujan lebat yang mengguyurku begitu saja, ditemani temaram lampu remang di sepanjang boulevard. Tak ada seorang pun yang lewat. Hanya suara binatang nokturnal yang menemaniku berjalan sepanjang waktu, mengusir rasa takutku.
Namaku Emilia Zhao, seorang wanita dengan kulit putih keturunan tiongkok yang baru saja pulang dari kampus menuju rumah. Betapa sialnya nasibku hari ini, aku harus berjalan kaki sejauh hampir lima kilometer dari kampus menuju rumah. Tak ada satupun taksi atau bemo yang lewat. Baterai ponsel pun sudah habis sejak tadi. Aku hanya dapat berharap ada seseorang lewat dan menawariku tumpangan, setidaknya hingga pertigaan menuju pasar di depan sana.
Jangan tanya kemanakah kendaraanku. Mereka semua menyita aset pribadiku, mulai dari mobil, sepeda motor bahkan ATMku, semua ludes mereka ambil akibat kesalahanku kala itu.
Yap, seperti biasa, aku melanggar peraturan keluarga yang melarangku untuk berpacaran. Apalagi hingga sampai berkencan dengan orang biasa. Aku berasal dari keluarga terpandang, bisa dikatakan sebagai salah satu keluarga sultan di negeri ini. Negeri dengan sejuta keanehan penduduk dan peraturan yang hanya dibuat untuk dilanggar. Aku bahkan sudah muak mendengarnya.
"Hshhh... Dingin sekali..."
Hawa dingin mulai menusuk hingga ke tulang. Ku hanya dapat memeluk diriku sambil masih berjalan menerjang hujan. Ingin ku menepi, namun tak ada satupun rumah disana. Hanya ada hamparan sawah luas yang membentang sepanjang jalan. Entah akupun merasa heran. Bagaimana bisa masih ada tanah seluas ini yang menganggur begitu saja.
Beberapa saat kemudian...
Saat aku hampir sampai di pertigaan menuju pasar, beberapa preman mencegatku disana.
"Hai nona cantik, sendirian aja," ucap salah seorang preman disana.
Aku memang berharap ada seseorang yang menemaniku berjalan, namun bukan mereka. Aku tak menggubrisnya. Aku mempercepat langkahku kali ini sambil setengah berlari.
"Hey, jangan kabur nona cantik. Abang tidak akan menyakitimu kok," ucapnya yang penuh dusta.
Aku masih tak berani menoleh ke belakang. Sekarang aku berlari sekencang yang aku bisa. Tak ku sangka, mereka pun ikut berlari dibelakangku.
"TOLONG! TOLONG!" jeritku saat aku mengetahui diriku dalam bahaya.
Aku benar-benar menyesal telah melanggar peraturan keluarga yang begitu sakral. Jika kala itu aku tidak melanggar, apakah aku harus berjalan dibawah hujan seperti ini? Haruskah aku berlari ketakutan akibat kejaran dari beberapa preman itu?
Mulai hari itu, aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak berhubungan dengan lawan jenis, apalagi hingga berpacaran.
"Hahaha.. mau lari kemana lagi kamu?" Tanya para preman itu bersamaan.
Sial! Mereka telah mengepungku. Apa yang harus aku lakukan? Menjerit pun percuma. Apakah aku akan mati disini kali ini?~Batinku kebingungan.
Mereka melingkariku. Aku tidak akan bisa lolos, tidak peduli seberapa susahnya aku mencoba untuk lari dari mereka.
"Ja-jangan mendekat. Ka-kalian tau siapa aku?" Tanyaku sedikit mengancam kepada mereka saat mereka semakin dekat.
"Memangnya siapa kamu? Mau ancam kami? Lagipula, disini tak ada satu orang pun yang lewat. Percuma saja kamu berteriak," ucap salah satu diantara mereka.
Aku tidak menyerah begitu saja. Aku meronta tak karuan. Aku bahkan menggigit tangan preman yang menyekapku dengan tangannya, menginjak kakinya, bahkan menyikut perutnya. Namun, tenaga mereka seratus kali lebih besar dibandingkan denganku. Aku benar-benar tak dapat menghindar lagi.
"Aku akan membayar kalian berapapun yang kalian minta!" Seruku berharap mereka akan melepaskanku.
"Hahaha. Dia ngelawak sepertinya. Heh, gadis kecil! Kami ini tidak kekurangan uang. Sudahlah, jangan banyak bac*t lagi. Bawa dia!" Titah seorang preman yang diduga adalah bos geng mereka.
Mereka membawaku pergi dengan sebuah mobil butut entah kemana tujuannya.
"Bos, ayo kita nikmati cewek ini. Lihat tubuhnya, seksi abis boss!" Seru seorang preman yang memegangiku.
"Apa kalian lupa permintaan bos besar? Kita nikmatin dia setelah bos besar puas," ucap bos preman.
"Hahaha. Hampir lupa," Jawab mereka serentak.
"Tch, lumayan kan kita dapat cuan juga dapat cewek mont sepertinya."
Samar aku mendengar mereka berbincang. Bos besar? Apa maksud mereka? Apa seseorang yang kuat menjadi tameng mereka?
...*...*...
Kami tiba di sebuah bar. Bar itu nampak sepi dan kosong, sepertinya memang bar itu hanya dapat disewa oleh para petinggi di negeri ini.
Aku melihat seorang pria hidung belang sedang berdiri di depanku. Aku diikat, dilempar pada sebuah ranjang empuk yang wangi. Pakaianku pun diubah oleh mereka. Bukan ditanggalkan, namun dirombak agar nampak belahan dadaku.
"Bos, kami pergi dulu," pamit mereka.
Pria berbadan buntal dengan bau yang sangat menjijikkan itu mulai meregangkan sabuknya. Dia pun mulai melepas satu persatu kancing di pakaiannya seakan bersiap melakukan sesuatu.
Dia mendekat kearahku. "Hai sayang. Kau sungguh cantik."
Aku hanya menatapnya tajam. Dia tiba-tiba tertawa seakan puas dengan apa yang ia dapatkan.
"Tch, kurang asyik rasanya kalau kita langsung bermain. Mari kita minum," ucapnya.
"Gak, aku ga mau!" Teriakku sekuat tenaga.
Sayangnya, hal itu sia-sia. Pria itu berhasil meminumkan sebotol miras itu kepadaku secara paksa. Air mataku sudah berkucuran deras seiring melemahnya tenagaku. Obat yang anak buahnya letakkan bekerja dengan sempurna. Hanya dalam beberapa menit saja, tubuhku telah kepanasan, aku menggeliat di atas tanah setelah mereka melepaskanku.
Aku berusaha untuk tetap sadar. Menggigit lidahku, bahkan bibirku hingga darah segar keluar sudah aku lakukan. Aku berusaha untuk melarikan diri, namun tangan dan kakiku yang terikat membuat gerakku terbatas.
Perlahan, aku melepaskan tali yang mengikatku dengan menggesekkannya pada ujung ranjang disana. Tuhan berpihak padaku, tak butuh waktu lama, tali yang mengikatku pun terlepas seketika.
Sontak, aku memukulnya menggunakan botol yang berada di atas meja. Dengan sisa tenagaku, aku berlari menuju tepi jalan sambil berteriak sebisaku.
"TOLONG! TOLONG!" Sekali lagi, hening terasa disana.
Aku akhirnya pasrah akan takdirku saat pria itu menangkapku kembali. Beruntung, seorang pria melintasi lorong bar tersebut.
"TO-TOLONG..." Aku berteriak lirih berharap dia mendengarku.
Kali ini, tuhan berpihak lagi padaku. Satu-satunya harapanku itu berbalik untuk menolongku. Aku melihat seorang pria tinggi besar yang gagah dengan brewok tipis menghajar pria itu dengan anak buahnya yang entah muncul darimana hingga babak belur. Dia adalah pria paling tampan yang pernah ku temui.
Setelah memukul para preman itu, dia menggendongku secara paksa tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku baru menyadari satu hal saat aku telah berada pada puncak tubuhnya. Tubuhnya sangat pekat dengan bau alkohol.