One Night Stand With My Step Uncle

One Night Stand With My Step Uncle
Part 3: Hasil yang tak Kuinginkan



Aku telah tiba di kediamanku. Suasananya masih nampak sama seperti sebelum aku meninggalkan rumah. Sepi layaknya tidak ada seorang pun yang beraktivitas.


"Mila, keknya aku ga mampir deh. Aku kasihan sama kamu. Mukamu sampe pucet gitu. Kamu yakin ga perlu ke dokter?" Tanya Cindy khawatir.


"Gapapa kok. Nanti kan kalau ada sesuatu, keluargaku pasti bakalan sigap wkwk."


"Udah ya. Aku pulang dulu. Kamu masuk ke dalam biar ga masuk angin," ucapnya menasehatiku.


"Siap bosssque!"


Cindy melajukan mobilnya. Aku pun masuk seiring menjauhnya Cindy dari rumahku. Aku berlari kecil, tak sabar untuk segera mengecek apa yang terjadi padaku.


"Hufttt. Semoga negatif," gumamku harap-harap cemas.


Aku membuka barang putih kecil yang berada di tas kresek itu. Aku membacanya dengan saksama dan mempraktekkan sesuai petunjuk yang telah tertera. Sesekali aku meneguk air liurku sendiri, mondar mandir bak setrika seraya komat-kamit layaknya dukun yang sedang membaca mantera.


Beberapa menit kemudian...


Alarm yang sengaja ku pasang pun telah berbunyi. Kini saatnya aku mengecek benda kecil tersebut. Jantungku berdegup kencang. Aku melangkahkan kaki perlahan menuju benda tersebut. Dengan mata setengah tertutup, aku mengambil benda itu. Aku membuka mataku perlahan sambil memantapkan hatiku. Lalu, aku melihat sesuatu yang sama sekali tak ku harapkan. Garis dua bewarna merah terpampang nyata di alat kecil itu. Aku mengambil beberapa lainnya yang memang sengaja aku beli untuk membandingkan dan hasilnya pun sama.


Aku telah hamil anak dari pria yang malam itu telah merenggut kesucianku.


Aku kebingungan. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bayi ini, dia sama sekali tidak berdosa dan aku tidak memiliki keberanian untuk menggugurkannya. Namun, usiaku masih terbilang muda dan masa depanku pun masih begitu cerah. Bagaimana dengan studiku jika aku harus mempertahankan anak ini?


Oh tuhan, berilah aku petunjuk, ~Batinku.


Tok tok tok...


Seseorang mengetuk pintuku. Aku menyeka air mataku dan menaruh benda kecil itu di dalam lemariku yang paling dalam hingga tak seorang pun dapat menemukannya.


"Sayang, sudah waktunya makan siang," ucap ibundaku dari depan.


"Baik,ma. Mila akan keluar sebentar lagi," jawabku.


Aku kembali menuju kamar mandi dan membasuh mukaku, berdandan cantik lagi seolah tak ada apapun yang terjadi kali ini.


...*...*...


Di lantai bawah...


Aku turun selangkah demi selangkah. Entah mengapa, aku menjadi protektif kali ini. Aku takut terjatuh dan menyebabkan hal fatal pada benih yang ada pada rahimku. Jujur saja, aku sungguh bahagia sekaligus bingung bagaimana aku harus bertindak selanjutnya.


"Tch, kamu kayak putri solo aja. Tumbenan jalan pelan-pelan. Biasanya dong lari kayak dikejar anjing!" Celetuk ayahku.


"Sudah sudah. Mungkin karena Mila baru bangun dan takut jatuh," ucap ibunda membelaku.


Aku tersenyum kik kuk pada mereka. Rasa bersalah memenuhi hatiku. Aku telah menghilangkan kepercayaan mereka padaku hanya dalam kesalahan semalam.


"Siang kek, nek ayahanda, ibunda," sapaku.


"Btw, nenek lihat kamu makin gendut saja. Benar kan Laras?" Tanya nenekku pada ibuku.


Laras Zhao adalah ibundaku. Beliau sangat baik terhadapku dan selalu berdiri dipihakku. Selain menjadi ibu, beliau juga merupakan teman bagiku. Aku menceritakan segalanya padanya, kecuali hal-hal rahasia yang menurutku tak perlu ku adukan. Walau ibunda sangat sibuk, namun beliau masih menyempatkan waktunya untukku walau hanya beberapa menit saja, mendengarkanku berkeluh kesah, hingga menemaniku sebelum aku tidur.


"Iya. Kamu makan terlalu banyak ya akhir-akhir ini?" Tanya ibuku.


"Masa sih? Perasaan, kemarin aku nimbang beratku sama saja," jawabku.


"Coba deh kamu lihat ke kaca itu. Kamu tambah lebar 3-5 cm tau," sahut ayah.


"Kamu besok masuk siang kan? Ajak Cindy olahraga," ucap ibu.


"Nanti Mila akan memberitahukan kepada Cindy."


Usia kandunganku kurang lebih baru menginjak dua bulanan. Apakah terlihat sangat?~Batinku.


...*...*...


Kami telah menyelesaikan makan siang kami. Selanjutnya adalah sesi memakan dessert atau makanan penutup lainnya. Yap, inilah keluargaku. Bahkan cara makan dan urutan memakan makanan saja diatur. Memakai baju, bertingkah laku, duduk dan berjalan, semuanya tertulis jelas pada peraturan rumah yang tebalnya melebihi buku sejarah. Aku tidak dapat menghafal semuanya, namun aku mengambil beberapa poin penting dari sana.


Saat suapan terakhir, ibunda mendapatkan telepon dari seseorang. Raut wajahnya yang awalnya biasa saja, kini terlukis jelas aura bahagia di wajahnya.


"Halo adik, apa kabar?" Tanya ibunda begitu antusias.


"Hai kak. Maaf, Aiden sudah lama tidak menelepon kakak," ucap seorang pria dari penghujung sana.


"Ya, ya. Kau melupakan keluargamu begitu saja. Aku mendengar berita kau sudah pulang dari USA sejak dua bulan lalu. Kenapa kau tidak langsung berkunjung mhh? Mau kakak coret dari silsilah keluarga?!" Ancam ibunda.


"Hahaha. Aiden tau Aiden salah. Ada beberapa masalah yang terjadi di perusahaan akhir-akhir ini. Makanya Aiden kembali dan belum sempat berkunjung," ucap Aiden.


"Terus gimana? Perusahaan Zhaohan kita aman kan? Ga bangkrut kan?"


"Tenang saja. Semuanya sudah terkendali. Omong-omong, Aiden akan berkunjung ke rumah kakak besok malam. Apakah boleh?" Tanyanya lebih lanjut.


"Tentu saja boleh. Adik kesayangan kakak ini, bagaimana tidak boleh berkunjung," jawab ibunda.


"Baiklah kak. Sampai jumpa besok malam."


Pria itu menutup teleponnya.


"Siapa?" Tanya nenek.


"Aiden katanya akan kemari. Dia sudah pulang sejak dua bulan lalu," jawab ibunda.


"Aiden? Dia siapa ma?" Tanyaku.


"Dia adalah pamanmu. Anak dari kakek bersama selingkuhan kakek dulu. Ya, Kakek akui kakek salah waktu itu. Namun, kakek sekarang sudah 100% bertobat."


Aku hanya pernah mendengar mereka menyebut nama Aiden samar-samar saat mereka berbincang. Walau aku tidak mengetahui banyak, namun aku tahu bila pria itu adalah pria yang hebat. Dia hanyalah anak hasil hubungan haram, namun dialah orang yang membuat keluarga ini berjaya dan membuatnya menjadi salah satu keluarga berpengaruh di dunia.


Aiden Zhao, pamanku itu memang tidak pernah pulang sekalipun selama belasan tahun ini. Mungkin, dulu saat aku kecil dia masih sering pulang disini. Namun, tentu saja aku sudah melupakannya. Dia bersekolah di luar negeri sejak dia menginjak usia belasan tahun sesuai dengan keinginannya. Jika menilik pada usianya, seharusnya dia saat ini berusia sekitar tiga puluh tahunan. Aku tidak tahu angin apa yang membuatnya datang kemari saat ini.


...*...*...


Keesokan harinya..


"Ayah, sampai kapan mobil Mila ayah sita? Apakah Mila harus pergi dengan taksi terus menerus?" Protes Mila.


"Hummm. Harusnya lusa adalah hari ayah mengembalikannya. Tapi, ayah melihat kau berperilaku baik akhir-akhir ini juga menurut, maka Ayah akan mengembalikannya saat ini."


Ayah pergi meninggalkanku sendirian di ruang tamu untuk mengambil kunci mobilku. Aku bersiap untuk pergi ke kampus saat ini. Aku sengaja mengenakan pakaian yang sedikit longgar agar lingkar pinggangku dan perutku tak nampak makin melebar.


"Nih kuncinya." Ayah melemparkan kuncinya kepadaku dan aku menangkapnya dengan sempurna.


"Sip. Makasih ayah. Kalau begitu, Mila pergi dulu sekarang. Bye bye." Aku berpamitan pergi ke kampus pada Ayah.