One Night in Paris

One Night in Paris
Bab 9 - Bukan Sekedar Mimpi Buruk



"Terserah kau mau mengatakan apa. Tapi yang jelas satu... " Andreas mengangkat dagu Sofie agar manik coklat itu saling bertemu.


"Kau harus membuatku bersatu kembali dengan Amanda, bagai manapun caranya"


"Cih, aku tidak sudi, lebih baik kau berikan rekaman itu pada Kakakku, daripada aku harus memberikan kakakku pada iblis sepertimu" kata Sofie menyingkirkan tangangan Andreas dari dagunya dan berlalu meninggalkan Andreas.


"Baiklah jika itu yang kau mau"


Sofie yang masih bisa mendengar itu dari sisi lain pintu hanya bisa berharap jika laki laki itu hanya menakut nakutinya.


...----------------...


Ottawa, 07.00 PM


Andreas berjalan menaiki satu persatu anak tangga. Benar kata penjaga keamanan barusan, rumah ini sepi. Amanda masih ada pemotretan, Sedangkan tuan dan nyonya Jenner sedang menghadiri acara pernikahan kerabat, diluar kota.


Tapi meskipun tau akan hal itu, Andreas memutuskan untuk menunggu dikamar Amanda. Ia melewati sebuah kamar dengan pencahayaan redup, namun terdengar suara wanita meracau, menangis dan tertawa hampir bersamaan.


Andreas yang penasaran memuka pintu itu perlahan, terlihat wanita tengah mabuk berat, namun masih meneguk wine yang entah sudah berapa botol.


"Untuk apa kau datang Jack" kata Sofie mengira Andreas adalah Jack mantan kekasihnya.


"Aku, aku bukan..."


"Kau jahat, jahat Jack" kata Sofie memukul mukul dada Andeas tapi tak terasa efek apa pun.


"Kau mengatakan jika orang tuamu tak merestui hubungan kita. Tapi sebenarnya kau berpaling dariku kan? Jawab jack"


Andreas hendak pergi karena tak ada gunanya ia melayani wanita mabuk seperti Sofie. Belum juga melangkah pergi, niatnya terhenti ketika tali yang menggaitkan jubah mandi yang Sofie kenakan terlepas.


Andreas yang tergiur akan keindahan didepan matanya langsung mendorong tubuh Sofie, dan seketika tubuh Sofie terlentang dikasur dengan Andreas diatasnya.


"Kau...."


"Sttt... Diam dan rasakanlah"


"Tidak, kau mau menyakitiku"


"Aku tidak akan menyakitimu, bukankah kau sedang bersedih" kata Andreas yang dijawab anggukan kepala oleh sofie.


"Maka biarkan aku menghapus kesedihanmu, dan memberikanmu kebahagiaan yang tiada tara"


"Kebahagiaan? Apakah kita akan bersenang senang"


"Lebih dari bersenang senang, kita akan melakukan sesuatau yang belum pernah kita lakukan"


"Sesuatu"


"Ya sesuatu, kau mau mencobanya" kata Andreas yang diangguki kepala oleh Sofie.


Andreas tersenyum dan melucuti semua pakaiannya.


"Apa kau siap untuk bersenag senag dan menjelajahi hal baru"


"Aku siap"


"Buka kakimu lebar lebar" Andreas tersenyum ketiaka melihat milik wanita ini masih bersegel. Karena memang hobinya membuka setiap segel wanita.


"Sekarang bersiaplah, akan ada sensasi yang belum pernah kau rasakan. Aku sendiri yang akan menjamin kau akan berteriak penuh kenikmatan. Bahkan kau bisa menilainya sendiri sayang" kata Andreas sebelum membenamkan miliknya kedalam tubuh Sofie.


"Tidak" teriak Sofie, untunglah ruang kamar ini kedap suara. Kalau tidak seisi rumah akan terkejut mendengar teriakannya yang melengking.


Nafas Sofie memburu, dia menatap sekeliling. "Mimpi itu lagi" Sofie menggelengkan kepalanya. Tangannya terulur menuangkan air kegelas dan meneguknya. "Kenapa mimpi itu datang lagi" kata Sofie setelah merasa lebih tenang.


Tangannya terulur membuka laci disamping ranjangnya dengan kunci. Diambilnya sebuah plastik transparan yang berisi tespek. Ditatapnya benda itu, "Bagai mana ini, kehamilanku sudah memasuki sepuluh minggu, bagai mana jika mom end dad tau, dan aku..."


"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Meminta pertanggung jawaban iblis itu? Tidak mungkin, iblis itu pasti pernah menghamili wanita lain. Dan pasti aku aka dicampakan juga"


Sofie mengusap wajahnya kasar, sebelum mengambalikan tespek ketempatnya semula. Tangannya terulur mengambil tas diatas meja.


"US$1.000.000 (sekitar Rp 14,76 miliar), padahal aku sudah menyisihkan setengah uang gajiku semenjak sepuluh tahun yang lalu"


"Tapi sepertinya jika aku berhemat, uang ini cukup untuk menunjang hidupku selama tujuh tahun mendatang".


Sofie menatap jam dilayar Handphonenya.


"Udah pukul lima, disana pasti pukul sebelas malam, Telfon ngak ya" setelah menimbang nimbang, akhirnya ia memutuskan untuk memanggil nomor kakaknya.


Terdengar suara Handphone berdering, Amanda yang mengantuk sangat enggan mengangkatnya. Tapi jika ia mendiamkannya, suara Handphonenya akan mengusik tidrnya.


Karena sudah tak tahan dengan suara berisik Handphhonenya Amanda menyerah, dan mengambil Handphonenya diatas meja, samping ranjang.


"Sofie" Amanda membaca nama yang tertera dilayar Handphonenya sebelum mengangkat panggilan.


"Hallo, ada apa" tanya Amanda dengan suara khas bangun tidur.


"Hallo kak Amanda, kak Amanda lagi dimana"


"Aku di kamar Apertemen, emangnya kenapa? serangan jantung Mommy kumat?" tanya Amanda sedikit panik. Sedangkan Sofie sibuk memikirkan kata kata yang tepat untuk kakaknya, agar dia tidak terjebak akan kata katanya sendiri.


"Emm, tidak..."


"Lalu"


"Tadi malam aku bertemu dengan Andreas diacara pesta kantor"


"Apa hanya itu?, kau membuatku terbangun dari tidur indahku hanya untuk membahas monster itu. Benar benar menyebalkan" kata Amanda hendak mematikan sambungan telfonnya.


"Tunggu, tadi iblis itu memaksaku untuk memberi tahu keberadaanmu. Bahkan ia juga memaksaku untuk membuat kalian kembali bersatu" kata Sofie hati hati.


"Lalu apa yang kau katakan" tanya Amanda, mulai tertarik dengan pembicaraan ini.


"Aku hanya mengatakan, kalau aku tidak sudi membuat kalain bersatu" jawab Sofie yang mengurangi fakta.


"Syukurlah"


"Apa iblis itu menghubungimu"


"Tidak, kau tau kan aku telah mengganti nomor. Dan hanya orang orang terdekat yang mengetahui nomorku"


"Lagi pula, jika seandainya monster itu tiba tiba berada didepanku. Aku akan menjauh, dan tak kan mendengarkan satupun kata darinya. Tak ada satupun kata yang bisa aku percaya darinya" kata Amanda lagi, yang membuat Sofie bisa bernapas lega.


"Syukurlah" kata Sofie setelah sambungan telfon terputus.


"Cepat atau lambat pasti mom end dad mengetahui kehamilanku. Apa aku akan diusir? Tapi setidaknya aku punya cukup uang untuk menyewa apertemen. Dan tak ada yang tahu kalau iblis itu adalah ayah anak ini"


"Maaf sayang, kau akan terlahir tanpa sosok ayah disisimu. Tapi itu lebih baik, dari pada kau memiliki ayah iblis seperti dia" kata Sofie mengelus elus perut ratanya.


...Ditempat lain...


Masih di Ottawa, pukul 06.00


Terdengar suara ketukan pintu yang mengusik tidur Andreas. Karena tak tahan akan suara berisik yang membuat telinganya sakit. Akhirnya Andreas memutuskan menyuruh orang itu masuk.


"Ada apa" tanya Andreas dengan mata yang masih terpejam, dan memeluk gulingnya.


"Ada seorang wanita yang datang untuk bertemu tuan, katanya ia ingin meminta pertanggung jawaban tuan" kata seorang ART dengan hati hati. Andreas yang tadinya masih memejamkan matanya, kini melotot, mendengar ucapan ART barusan.