
"Saya tidak tahu pasti alasan apa yang membuat Miss Amanda kembali ke Kanada, tapi Aperteman yang ia sewa, sudah ditinggalkan beberapa saat lalu" Jack bicara dengan nada panik, tapi lawan bicaranya jauh dari kata panik.
"Baiklah, kalau begitu siapkan jet pribadiku dan suruh seseorang untuk mengemasi barang barangku. Kau juga ikut bersamaku ke Kanada" kata Sky sebelum memutus panggilan.
...Bandara...
Amanda kini sudah berada didalam pesawat, ia menghubungi kontak Sofie, untuk yang kesekian kalinya. Entah kenapa kontak Sofie sangat sulit dihubungi. Ia bingung, kenapa Mommynya bisa koma, saat menanyakan alasannya pada Daddy, daddy tak menjawab dan hanya meminta untuk segera kembali.
"Hahh" Amanda mengembuskan napas kasar, ia sendiri merasa bersalah karenanya telah membuat Pak Sky menunggu di restoran.Tapi ia punya alasan untuk itu.
Amanda memegangi perutnya yang masih rata, syukurlah kali ini tidak ada insiden mual seperti sebelumnya, bahkan tidak ada muntah setelah mencium bau menyengat setelah ia berkerja di Louis Fashion. Entahlah ia sendiri tak tahu mengapa itu bisa terjadi. Tapi yang jelas ia harus berterima kasih pada Samuel, karena sarannya ia bisa dekat dengan Sky Louis. Seseorang yang namanya sangat ingin ia dengar, tidak bukan karena kesuksesan dan ketenarannya, melainkan karena perasaan yang ada dilubuk hatinya.
Jika ditanya kenapa ia mempunyai rasa pada seorang Pengusaha Sukses itu, jawabannya Amanda sendiri tidak tahu, tapi yang pasti satu, bukan karena harta dan kekuasaannya.
Amanda menatap keluar jendela, bangunan bangunan yang menjulang tinggi di kota paris masih bisa dilihat. Tak disangka ia akan menginjakkan kakinya lagi dikota ini. Padahal sebelumnya ia sudah bersumpah untuk tidak akan menginjakkan kakinya dikota ini lagi. Tapi siapa sangka, kejadian kelam dan momen indah yang akan selalu ia kenang terjadi dikota ini.
...Ottawa, 07.00 PM...
Sesampainya di Kanada, Amanda langsung menumpangi taksi menuju rumah sakit xxxx. Sementara barang bawaannya sudah dibawa pulang oleh orang rumah.
Suasana lalu lintas tidak terlalu padat dengan hujan yang mengguyur ibu kota.
Amanda berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Dengan pakaiannya yang cukup tertutup tidak membuat kerumunan, bahkan tidak sedikit orang yang tidak mengenalinya sebagai model papan atas yang namanya mulai meladak dikawasan internasional.
"Permisi, Saya ingin bertanya, pasien atas nama Jenifer Jenner dirawat dimana"
"Sebentar ya, Pasien atas nama Jenifer Jenner sedang dirawat diruang ICU" jawab Reception setelah membaca data dikomputer.
"Okay, thank you" kata Amanda sebelum berlalu menuju ruangan yang dimaksut.
"Daddy" sapa Amanda kala melihat pria paruh baya itu tengah duduk dikursi tunggu besi didepan ruang ICU.
"Amanda" pria paruh baya itu memeluk putri sulungnya dengan tangis yang kembali pecah.
"Dad... Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mommy bisa kritis? Dimana Sofie? Kenapa aku tidak melihatnya? Dan kenapa kontaknya sulit dihubungi?" tanya Amanda yang menumpahkan segala pertanyaan yang mengganggu pikirannya.
"Jangan membahas anak itu, dan mulai sekarang dia bukan bagian dari keluarga Jenner" kata Daddy setelah melepaskan pelukannya dari Amanda.
Amanda menatap daddynya lekat lekat, sungguh tak mengerti akan apa kata kata yang keluar dari mulut daddynya.
Belum sempat menanyakan maksut dari ucapan daddynya, seorang dokter keluar dengan dua suster yang mendorong brankar seorang wanita yang ditutupi kain.
"Apakah kalian keluarga pasien" tanya seorang dokter menatap kearah Amanda dan Arden.
"Ya, kami keluarga pasien. Tolong katakan apa yang terjadi" jawab Amanda dengan kepanikan yang menghiasi wajahnya.
"Maaf, kami sudah berusaha. Tapi tuhan berkata lain. Pasien telah mengembuskan napas terakhirnya" Jawab Dokter yang membuat Arden tak sadarkan diri.
...----------------...
...Ottawa, 09.00 AM...
Semua orang yang datang melayat sudah pergi, hanya tersisa dua orang, ayah dan anak yang masih menangis tersedu sedu meratapi kepergian orang yang dikasihnya didekat nisan.
"Mom, mommy... Kenapa mommy meninggalkan Manda. Apa mommy tidak ingin melihat Manada sukses dipuncak karier Manda" kata Amanda seraya memeluk nisan.
"Ini semua karena anak biadab itu. Dia bukan hanya mencoreng nama baik keluarga Jenner, tapi ia juga membuat istriku pergi" kata Arden dengan amarah yang tertahan.
"Maksud daddy?" tanya Amanda menatap wajah paruh baya yang matanya mengeluarkan buliran bening tapi raut wajahnya menampakkan ekspresi kemarahan yang tertahan.
"Waktu itu...."
...Beberapa hari lalu...
"Dimana sih Sofie nyimpen perhiasannya. Aku mau pinjem buat pamer perhiasan baru diarisan. Udah kirim pesan tapi handphonenya off. Terpaksa cari sendiri" kata Jenifer mencari cari perhiasan dikamar Sofie.
"Dilemari ngak ada, apa jangan hangan dilaci ya" Jenifer membuka satu persatu laci meja samping tempat tidur. Tangannya terulur mengambil sebuah plastik bening yang membungkus suatu benda yang hanya akan digunakan untuk mengetahui kehamilan seseorang.
Matanya membulat sempurna kala mengetahui benda pipih itu menunjukan dua garis merah. Dan bukan hanya itu, dilaci yang sama juga terdapat foto USG dan surat keterangan hamil atas nama Nyonya Sofie Jenner.
"Sayang" teriak Jenifer tertahan seraya memegang dadanya yang terasa sakit luar biasa.
"Ada ap..." kata kata Arden tertahan kala melihat Jenifer sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan tespek, foto USG dan sebuah surat resmi yang juga terjatuh disampingnya.
Amanda menutup mulutnya yang terbuka, karena mendengar penuturan Arden barusan.
"Lalu dimana Sofie sekarang"
"Aku tidak tahu, tapi aku tidak akan memiarkannya menginjakkan kakinya kembali kerumah" kata Arden sebelum melangkahkan kakinya menjauh dengan langkah besarnya.
Sementara Amanda lebih memilih tinggal ditempat. Meski hujan mulai mengguyur, ia tetap tak perduli dan memilih untuk menumpahkan seluruh kesedihannya ditempat peristirahatan terakhir mommynya.
Air hujan yang turun membasah bumi tak terasa diatas kepalanya, sontak Amanda langsung menoleh kebelakang. Terlihat seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam, kacamata hitam, dan membawa sebuah payung hitam, tengah berdiri dihadapannya.
"Pak Sky" sapa Amanda melihat perawakan laki laki bertubuh kekar nan tampan tengah memayunginya. Tidak, tidak mungkin ia salah lihat. Meski dalam keadaan terpuruk sekalipun, ia masih bisa mengenali jika laki laki dihadapannya adalah pria yang sedang ia rindukan.
"Sorry miss, saya terlambat" kata Sky seraya tersenyum Sendu.
Bukannya menanggapi perkataan Sky, Amanda justru bangkit dan memeluk erat erat tubuh kekar nan kukuh itu. Pakaiannya yang sudah terlanjur basah dan air mata yang terus mengalir, membuat setelan kemeja hitam Sky ikut basah.
"Menangislah, menangis jika itu membuatmu tenang. Aku janji, didepan makam ibumu... Setelah ini aku tidak akan membiarkan setetes air matapun menetes dari kelopak matamu" kata Sky seraya memeluk dan menenangkan wanita rapuh dipelukannya.