
...Visual...
amanda Jenner
Andreas Bieber
Sky Louis
...----------------...
Paris, 06.00 PM
bangunan dan arsitec yang indah, dilengkapi dengan gemerlapnya lampu membuat siapa saja terpesona akan keindahan kota ini.
Namun tidak dengan Amanda, Seorang model yang jauh jauh dari Kanada, datang kekota ini bukan untuk menikmati indahnya Menara eiffel atau Musèe du louvre. Namun ada alasan lain yang membuatnya tiba tiba mengambil cuti, ditengah kariernya sebagai model sedang meroket.
Angin sore yang hangat, terasa menyentuh kulit. Pemandangan yang indah dari bangunan bangunan ini membuat suasana semakin romantis, berbanding terbalik dengan perasaan Amanda.
Amanda mengalihkan pandangannya keluar jendela, mencoba menghilangkan kejenuhannya. Ditatapnya Menara Eiffel yang berdiri kokoh, menjulang tinggi disana. Suasana sore hari, burung burung yang berterbangan dan lampu yang gemerlap, sepertinya cocok jika ia berfoto didepan Menara Eiffel. Tapi ia tak punya waktu untuk itu. Ia harus membuktikan kebenaran, kekasihnya itu berpaling darinya atau tidak.
"Apa perjalanannya masih jauh" tanya Amanda yang sudah merasa bosan.
"Sekitar 1 jam lagi, sampai ketempat tujuan nona" kata supir taksi itu yang sedang fokus mengemudi.
Mendengar jawaban supir taksi itu, ia hanya bisa menarik napasnya kasar. Amanda memejamkan matanya, berharap satu jam segera berlalu.
Amanda membaringkan tubuhnya dikasur dengan posisi terlentang. Perjalanan dari Kanada ke Prancis sangat melelahkan, mungkin ia akan tidur lebih awal kali ini.
Belum sempat terlelap dalam alam mimpi, suara dering Handphone mengusiknya.
Sekali, dukali suara dering Handphone masih berbunyi, Jujur Amanda malas mengangkatnya.
Namun bukannya berhenti, suara dering itu malah terus berbunyi, membuat kepala Amanda sakit, dan akhirnya Amnda menyerah.
"Hallo, ada apa Amber" tanya Amanda ketika sambungan telphone tersambung.
"Man lu dimana"
"Gue di hotel, lo sendiri dimana berisik banget si" kata Amanda, karena mendengar suara Musik yang sangat kencang dari sebrang telphon.
"Gue dimana itu ngak penting, yang terpenting sekarang lo datang ke club, mereka menuju kamar tiga ratus empat puluh delapan"
"Lo ngak bohongkan?"
"ya elah, buat apa juga gue bohong, udah cepetan lu kesini"
"Oke gue kesana" Amanda mematikan sambungan telphonnya dengan tangan gemetar.
Setelah menyambar tasnya, ia bergegas pergi dan tak lupa memesan taksi online.
Selama di dalam taksi ia terus menghubungi nomor Andreas namun percuma.
Amanda terus menghampus buliran bening yang membasahi pipi, bukan kemauannya air matanya terus turun. Bahkan satu box tisu hampir habis, hanya untuk menghapus air matanya.
"Nona, apa kau tidak papa" tanya supir taksi yang melihat amanda terus menangis, bahkan rambutnya sedikit berantakan dan make up nya luntur. Amanda hanya menggelengkan kepala samar, sebagai jawaban.
Entahlah kenapa perasaannya campur aduk begini, padahal ia sudah berusaha menyakinkan dirinya sendiri. Mungkin saja Amber salah melihat? Tapi melihat foto yang dikirimkan Amber, tidak mungkin jika sahabatnya itu salah melihat.
Lalu lintas nampak ramai, untungnya tak terjadi kemacatan. Banyak mobil mobil yang berlalu lalang disini. Dan entah kenapa perjalanan menuju club seolah lama sekali.
Amanda yang sudah berada di club, mencari kamar yang dimaksut. Ia menatap kamar tiga ratus empat puluh sembilan sesaat. Ia masih ingat, sahabatnya mengatakan nomor itu, dan lagi pula tak ada waktu untuk memastikannya.
Amanda mengusap air matanya kasar, sebelum mendobrak pintu kamar itu. Dalam hitungan ketiga, ia sudah siap dan....
'brakkkk' pintu kamar terbuka. Terlihat kegelapan didalanya.
"Hei, siapa kau" terdengar suara berat seorang pria menyambutnya, sebelum sebuah tangan kekar menariknya kedalam.
Amanda berusaha memberontak, tapi sepertinya itu percuma. Tenaga pria itu begitu kuat, dangan waktu yang sangat singkat Manda sudah berada dibawah kungkungan pria itu, yang entah siapa namanya.
...Dan pada malam ini, sebuah kejadian tak terduga akan merubah segalanya....
......................
Setelah kejadian waktu itu, ia tampak pendiam dan tak jarang terlihat murung. Bukan karena alasan, jujur dia masih trauma akan kejadian triwulan yang lalu.
"Man, sejak lu balik dari paris lu jadi pendiam. Lu ngak papa kan?" tanya Alic, yang menyadari perubahan sahabatnya.
"I'm fine" jawab Amanda, ia tak ingin orang lain tau akan kejadian malam itu, termasuk sahabat dekatnya.
Alice ragu akan ucapan manda, mulutnya mungkin bisa berbohong, namun tidak dengan matanya.
Terlihat jelas dari sorot matanya, Amanda sedang berbohong. namun Alic tak bisa memaksa Amanda untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Man, giliran lu tuh" kata seorang peragawan yang menghampirinya.
"Oke"
"Lic, tolong jagain tas gue ya"
"Oke" balas Alic, ia menatap tas Amanda berwarna emas itu. Ia yakin didalam tas itu ada sesuatu, yang bisa menjawab penasarannya.
Kali ini Amanda memperagakan beberapa gaun keluaran terbaru RR Fashion. Gaun yang kena terlihad modis dan elegan, sangat cocok ia kenakan.
"Amanda, ayo senyumnya" kata seorang fotografer yang tengah memegang kameranya.
Dengan ia paksakan, ia menuruti keinginan fotografer itu.
"Cukup, sekarang ganti gaun yang lain" perintah Fotografer itu.
Amanda berjalan keruang ganti, dan mengganti gaunnya dengan gaun yang sudah disiapkan. Sangat lelah rasanya jika setiap hari begini. Ya, tapi mau bagai mana lagi.
Amanda menatap pantulan dirinya dicermin, terlihat sangat anggun dan menawan. Namun sayangnya ketika mengingat kejadian waktu itu, moodnya kembali buruk.
Kejadian kelam yang tak sengaja terjadi diparis, benar benar membuat mentalnya kacau. Bahkan ia tak tau siapa pria yang memaksanya waktu itu. Waktu itu kamar bergitu gelap, dan saat pagi tiba ia buru buru keluar dari kamar, agar pria itu tak menangkapnya.
Sungguh menyedihkan nasipnya, tapi tidak. Amanda harus melupakan kejadian itu, kariernya mananti didepan mata.
Amanda menggelengkan kepalanya, dan menghapus buliran bening yang sempat jatuh.
Amanda menambahkan sedikt Blush on berwarna pich ke pipinya sebelum keluar.
Amanda berpose didepan kamera dengan senyum manisnya, yang siapa saja akan luluh melihatnya.
Tak ada gerogi sama sekali, ia sangat lihai berpose didepan kamera, dan itu adalah makanannya setiap hari.
"Wow, Perfek" kata Fotografer. Tak salah ia memuji amanda, bukan hanya karena cantik, namun bakatnya sudah tak diragukan lagi.
"Kalau begini aku yakin, kau yang akan dipilih untuk menjadi model go Internasional"
"Go Internasional"
"Ya, pihak perusahaan sedang memilih siapa yang pantas menjadi model Internasional mewakili perusahaan JJ Modeling di Paris Fashion Week, dan aku rasa kau orang yang tepat manda"
"Aku akan mengusulkan kau, sebagai model internasional mewakili perusahaan, den dengan begitu namamu akan kian meledak seiring berjalannya waktu"
Wajah Amanda yang tadinya menampilkan ekspresi berbinar, kini berubah, ketika mendengar kata paris.