
"Kau tidak perlu bangun, cukup tiduran saja" kata Sky melihat Jack memaksakan bangun.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau bisa tertabrak mobil?" sebuah pertanyaan yang wajar, tapi Jack dibuat bungkam oleh pertanyaan Sky.
"Tunggu, aku seperti pernah mengenalmu bukan sebagai Manager Jack, apa kita pernah dekat sebelumnya" kata Amanda yang sepertinya baru menyadari sesuatu.
"Mungkin anda salah orang"
"Tidak, aku tidak salah. Kau adalah Jack yang sama dengan Jack yang dulu pernah menjalin hubungan dengan adikku, Sofie! Benarkan?"
"Kau masih mengingatku?" tanya Jack balik.
Meski tidak dekat dengan Jack selama dia masih menjadi kekasih adiknya, tak jarang dulu pria didepannya sering datang kekediaman keluarga Jenner untuk menjembut Sofie.
"Baru saja aku menyadarinya"
"Kau tahu, adikku sering mengurung diri, berubah menjadi murung dan mogok makan setelah kau mengakhiri hubungan kalian" kata Amanda yang membuat hati Jack terasa tercubit.
"Tapi sekarang aku tidak tahu dimana keberadaan anak itu setelah insiden yang terjadi kemaren"
"Tadi dia datang kesini"
"Benarkah?"
"Tentu saja, bahkan Sofie yang memberi informasi mengenai keadaan Jack" bukan Jack menjawab, melainkan Sky.
"Benarkah? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Amanda menatap Sky dan Jack bergantian.
Dua insan itu menatap Jack lekat, seolah memberikan kode agar Jack menjawab rasa penasaran yang menggebu di otak mereka.
Jack menarik napas dalam, sebelum menceritakan kejadian tempo hari.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa, meski kau telah menyelamatkan nyawa adikku, tapi kau yang sebelumnya membuat adikku tidak bersemangat menjalani hidupnya" kata Amaanda menatap Jack dengan tatapan entah.
"Aku tahu aku salah, telah meninggalkan Sofie. Tapi itu semua ada alasan dibaliknya. Orang tuaku tidak menyetujui hubungan kami, dan menjodohkanku dengan wanita lain. Aku tidak bisa menentang orang tuaku"
"Dan membuat adikku menderita" kata Amanda seolah melanjutkan perkataan Jack.
"Amanda..." tegur Sky meminta Amanda untuk tidak melanjutkan kata katanya.
Amanda berlalu pergi dari ruangan Jack.
"Kejar dia Sky"
"Setiap kakak tidak akan terima jika adiknya disakiti, lagi pula dia sedang hamil, perasaannya sangat sensitif. Jadi wajar saja jika dia berkata demikian" kata Jack karena Sky hanya diam ditempat.
"Aku minta maaf atas perkataan Amanda tadi, aku yakin dia tidak bermaksut. Dan kau adalah sahabat terbaik, yang selalu mengerti aku" kata Sky sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat Jack.
Jack yang kini kembali seorang diri di ruangan bernuansa putih ini, kini hendak memejamkan matanya, walau jarum jam masih menunjukan pukul 08.00 PM.
Jack mengurungkan niatnya setelah melihat Handphone yang terletak di atas meja samping brankar.
"Tunggu, ini bukan milikku" kata Jack menyadari Handphone yang ada genggamannya bukanlah miliknya.
"Apa ini milik Sofie? apa dia akan kembali untuk mengambil handphone ini?"
...----------------...
Sofie mendudukkan pantatnya diranjang, tidak seempuk ranjangnya memang, tapi ini lebih baik dari pada tidak punya tempat tinggal.
Ya, saat ini Sofie tinggal di rumah Belle, karena dia sudah tidak di terima dikeluarga Jenner. Bahkan ia harus menghindari media dan kamera untuk sementara waktu. Namanya yang mulai tidak asing ditelinga, membuatnya rawan akan berita miring Bahkan berita kehamilannya diluar nikah bisa saja tercium media dan menjadi bahan gosip warganet tanah air. Tapi untuk saat ini ia masih bisa bernapas lega, karena belum ada berita buruk yang mengintainya.
Sofie membuka tas kecilnya yang selalu ia bawa saat berpergian. "Ini handphone Jack, aku bahkan lupa mengembalikannya" kata Sofie menepuk jidatnya.
"Tunggu, dimana handphoneku, seingatku aku taruh disini" Sofie menumpahkan seisi tasnya, namun benda yang ia cari tak terlihat.
"Coba aku panggil" Sofie mengambil handphone Jack dan mendial nomor handphonnya.
Jack yang mulai terlelap kealam mimpi kini kembali membuka matanya setelah suara berisik mengusik tidurnya.
Terlihat nomor handphonnya tertera di layar. Ya ia tidak salah, ia ingat betul nomor handphonnya.
"Hallo, maaf saya mengganggu waktu anda. Sepertinya anda menemukan handphone saya. Bisa saya ambil kembali handphone saya besok?" kata Sofie setelah panggan suara tersambung.
"Emm iya, aku juga ingin mengambil handphoneku yang kau bawa"
"Jack" tidak salah, ini adalah suara Jack, suara pria itu tersimpan jelas di otaknya. Jadi tidak mungkin ia salah.
"Ya tentu saja aku, dan aku juga tidak keberatan kau mau mengambil handphonemu sekarang"
"Tidak, aku akan mengambilnya esok" Sofie hendak menekan ikon berwarna merah. Namun ucapan yang keluar dari mulut Jack menghentikan gerakan jarinya.
"Baiklah, aku menunggumu"
"Ya, kau tenang saja. Aku juga akan mengembalikan handphonemu, aku tidak sengaja membawanya tadi"
"Oh ya?"
"Tentu saja, lagi pula aku punya handphone sendiri. Untuk apa juga aku menyimpan handphonemu?"
"Tentu saja untuk mengetahui nomorku" kata Jack membual, sengaja untuk memperpanjang pembicaraan. Hitung hitung untuk mengkis rasa rindu di hatiya.
"Cih, hanya orang gila yang melakukan itu"
"Jadi kau mengakui kalau dirimu itu gila?"
"Apa maksutmu?"
"Hahaha, tenanglah honey. Aku hanya bercanda"
"Bercandamu tidak asyik. Dan apa tadi? Honey? Apa aku tidak salah dengar?"
"Tidak, karena kau memang semanis madu"
"Bagus, sebenarnya untuk apa semua ini. Kau pergi meninggalkanku, kemudian kembali dengan bualan dan rayuan receh"
"Tentu saja untuk membuatmu mengakui perasaanmu sendiri. Kalau kau masih..."
"Cukup, aku tidak ingin membahasnya lagi. Lebih baik kau istirahat dan setelah kita bertukar handphone aku harap kita tak saling mengenal lagi, layaknya orang asing" potong Sofie sebelum menekan ikon merah di layar.
"Hufff, ternyata tidak mudah mengembalikan keadaan seperti dulu. Dimana aku dan Sofie adalah sepasang kekasih yang saling mencintai"
"Andai saja dulu Mom end Dad tidak memaksaku kembali ke Paris dan menjodohkanku, pasti jadinya tidak akan serumit ini"
"Tidak, sekarang aku tidak akan membiarkan rasa cinta ini terus menyiksaku. Aku tidak akan perduli jika aku dikeluarkan dari keluarga Addison"
"Dan maafkan aku bella, kau memang wanita yang baik dan tulus, tapi aku tidak bisa mencintaimu"
...----------------...
"Anda suka yang mana miss" tanya Sky menunjukkan beberapa model kartu pernikahan.
"Terserah anda saja" jawab Amanda ketus, dengan pandangan yang tertuju dihandphonenya.
Sky meletakkan buku model kartu undangan diatas meja dan menarik napas kasar. "Apa anda masih marah dengan seya" tanya Sky, menatap Amanda lekat.
"Mungkin"
Sky mengambil handphone ditangan Amanda pelan.
"Tolong kembalikan handphone saya" kata Amanda menatap Sky, sedikit kesal.
"Saya akan mengembalikannya, setelah anda mendengarkan saya. Baiklah, saya minta maaf kerena telah membela Jack semalam" kata Sky pada akhirnya mengalalah.
"Saya tidak mau" Amanda bangkit dari duduknya dan hendak mengayunkan kakinya menjauh.
Tapi Ski justru menarik tangan Amanda, sehingga jatuh terduduk di pangkuan Sky.