
"Huffff, baiklah. Sekarang kau harus makan, sebelum kita kembali ke Lyon"
Jack memutar pandangannya dan menatap wanita yang telah melahirkannya penuh tanya. Feelingnya mengatakan, bahwa ada sesuatu yang orang tuanya rencanakan.
"kita akan meneruskna perjodohanmu, dan mommy tidak ingin mendengar penolakanmu. Apa lagi didepan Monica dan keluarga Collins.
"Tidak, aku tidak akan melanjutkan perjodohan konyol itu. Lebih baik aku dicoret dari keluarga Addhison dari pada harus menikah dengan wanita yang tak aku cintai"
Plakkkk
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Jack. Membuat pipi itu bersemu merah.
Jack menatap kearah orang yang menamparnya. Laki laki paruh baya itu menatap kearahnya tidak suka, dan entah sejak kapan ia masuk.
"Berani sekali kau berbicara seperti itu. Dengar Jack Collins, jika saja kami memiliki anak selain kau.... Sudah lama kami mencoretmu dari kartu keluarga"
"Lalu kenapa kalian tidak membuat anak lagi dan dijodohkan dengan wanita itu"
"Kau...." Abraham yang yang sudah kehabisan kesabarannya kini mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan.
"Sudah, jangan ribut disini. Apa kalian tidak sadar kita sedang dirumah sakit. Kita bisa mengganggu pasien lain" Ines bicara menengahi keributan ini.
"Katakan saja itu pada putramu Ines" kata Abraham yang kini lebih memilih duduk disofa.
Ines menghela nafas kasar, terkadang ia bingung akan sifat suami dan anaknya. Suaminya yang bersifat tak mau terbantahkan juga pemaksa. Sedangkan putra semata wayangnya yang bersifat keras kebala juga pembangkang.
"Jack, mommy mohon. Menikahlah dengan Monica, ayahnya bersedia membantu keluarga kita yang kesulitan"
"Tidak, aku tidak mau. Aku hanya mau menikah dengan...."
"Entah kenapa dari dulu kau tidak pernah berubah. Selalu mendambakan wanita itu, memangnya apa yang bisa dibanggakan dari wanita itu? Kekayaan? Kecantikan? Kepopuleran? wanita itu kalah dari segi manapun dengan Monica"
"Dan entah apa yang membuat Daddy selalu memaksakan jalan hidupku. Sudah cukup selama ini aku dikekang, sekarang aku ingin menentukan jalan hidupku sendiri"
"Terserah apa katamu, yang jelas satu. Tidak ada menantu lain selain monica, titik" kata Abraham beranjak pergi. Karena jika ia tetap disini, maka pertikaian akan terus berlanjut samapi esok.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menikahi monica atau wanita manapun pilihan daddy. Daddy dengar" teriak Jack, agar suaranya sampai ditelinga laki laki paruh baya tukang pemaksa itu.
"Jack, sudahlah. Jangan membuat masalah ini semakin rumit. Lebih baik kau turuti apa kata Daddymu"
"Tidak mom, akan tetap dalam pendirianku" kata Jack bersikeras, sama persis seperti Abraham, yang tak ingin dikekang oleh keluarganya dan menetukan jalan hidupnya sendiri.
Ines menghela nafas kasar, mungkin sudah takdirnya harus menghadapi pria yang keras kepala.
"Tapi apa kau mau melihat apa yang selama ini daddymu pertahankan hancur?"
"Itu...."
"Kau taukan? Selama ini daddy selalu berusaha mempertahankan perusahaan itu. Daddymu sangat menyayangi perusahaan itu karena perusahaan itu adalah satu satunya peninggalan kakekmu yang tersisa" jelas Ines panjang lebar, membuat Jack bungkam.
Dilema, itulah situasi yang tapat untuk menggambarkan posisinya saat ini.
Jika ia menolak, maka ia yang akan menjadi sumber kehancuran keluarganya. Dan jika ia menerima, maka ia akan kehilangan wanita yang dicintainya.
"Tapi mom..."
"Mommy tau kau tidak mencintai Monica, tapi cinta bisa datang seiring berkembangnya waktu. Contohnya Mommy dan Daddy, kami juga dijodohkan, saling tak mengenal. Tapi karena kami mau saling menerima, dan membuka hati kami masing maaing, cinta mulai tumbuh dalam lubuk hati kami" jelas Ines bercerita panjang lebar, untuk meyakinkan putra semata wayangnya.