
Sofie yang geram langsung menginjak kaki Jack dengan heelsnya sekuat tenaga.
"Awwww" Jack yang merasakan sakit dikakinya melepaskan pelukannya dan memegangi kakinya yang tersa sakit.
Merasa mendapatkan celah, Sofie buru buru keluar dari apertemen dengan menarik kopernya.
Sofie yang sudah didalam lift buru buru menekan angka satu pada tombol.
"Sofie" panggil Jack yang menyadari Sofie tidak ada.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan cinta kembali menyiksaku" Jack segera berlari kearah lift.
Sofie yang sudah berada dipinggir jalan melambaikan tangan untuk menghentikan taksi. Terpihat taksi dengan plat nomor 4348 XX berhenti disebrang jalan.
"Sofie" teriak Jack dari belakang.
Sofie yang takut Jack akan menhentikannya, buru buru menyebrang jalan tanpa menengok kearah samping.
'Tinnnnnnnnnnnn'
Terdengar suara klakson mobil yang menyuruh Sofie untuk minggir.
"Akhhhh" Sofie berteriak kencang dan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, terlalu takut untuk melihat tragedi ini.
'Brakkkkkkk'
Sebuah mobil berwarna kuning menabrak seseorang. Dan semua orang yang melihat kejadian itu langsung datang mengerumuni korban.
Sofie memegangi perutnya, syukurlah perutnya tidak membentur aspal. Walau kakinya terkilir, setidaknya nyawanya selamat.
Sofie memegangi kepalanya, masih teringat jelas di kepala Sofie, kejadian barusan.
Dimana sebuah mobil kuning melaju dengan cepat kearahnya, dan saat mobil itu mendekat, terasa sepasang tangan yang mendorongnya.
Sofie menoleh kebelakang, terlihat orang orang berkerumun mengelilingi korban, yang telah menggantikan posisinya.
Dengan perlahan Sofie melangkahkan kakinya mendekat kearah kerumunan. Walau sakit akibat terkilir, itu tidak membuat rasa penasarannya luntur. Ia ingin melihat, siapa sosok yang telah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya.
"Permisi" Sofie menyibak beberapa orang yang berkerumun. Sofie menatap seorang pria yang mengenakan setelan kemeja hitam tak sadarkan diri dengan darah yang membanjiri tubuhnya.
"Jack" kata Sofie tak percaya, orang yang telah menyelamatkannya adalah mantan kekasihnya.
...----------------...
...Keesokannya...
"Amanda, dari mana saja kau. Kau tau daddy sangat khawatir" kata Arden, tak menyadari kalau putrinya datang dengan orang lain.
"Selamat pagi om" sapa Sky.
Arden yang tadinya memeluk putri sulungnya, kini menoleh kesumber suara.
Arden menatap pria didepannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Arden mengkerutkan dahinya yang mulai berkeriput, mencoba mengingat ingat pria didepannya.
Pria yang memakai setelan jas hitam mahal, hidung mancung, mata hazel, rahang yang tegas, alis hitam tebal, serta rambut sedikit gondrong dan jam tangan dari brand terkenal, seperti tak asing dimata Arden.
"Dad, dia menyapamu" kata Amanda menyenggol lengan Arden pelan.
"Emm... Pagi. Apa kita pernah bertemu sebelumnya. Aku seperti tidak asing dengan wajahmu"
"Sepertinya tidak. Ini pertama kali saya bertemu dengan anda"
"Kalau boleh tau anda siapa? Dan ada perlu apa anda kemari" tanya Arden tanpa basa basi. Jujur ia masih berduka atas meninggalnya istrinya, ia tak ingin menerima tamu untuk saat ini.
"Perkenalkan saya Sky Louis, saya datang kesini untuk meminang putri anda. Amanda Jenner" kata Sky. Sebuah ucapan yang klasik, namun kata kata itu mampu membuat Arden kaget setengah mati.
Sky Louis? Apa ini mimpi? Selama ini ia tak pernah membayangkan seorang Sky Louis, pengusaha kelas dunia mau menginjakkan kakinya dirumah ini, bahkan meminang putrinya. Sungguh mengejutkan, tapi ini bukan mimpi yang akan sirna jika seseorang membangunkannya.
...Beberapa saat kemudian...
"Bagai mana? Apa daddy menyetujui" tanya Amanda yang kini berada di balkon kamarnya.
"Ya, om Arden menyetujuinya. Bahkan ia tak keberatan jika pernikahan kita dilangsungkan tiga hati lagi"
"Tiga hari" ulang Amanda tak percaya.
"Kenapa? apa anda keberatan miss?"
"Tidak" seraya menggelengkan kepala.
"Lalu?" tanya Sky meneguk ice tea digelasnya.
"Kau tidak perlu khawatir, semuanya sudah siap. Gedung, dekorasi, foto grafer, penghulu, pelayan, keamanan, MC, MUA, tata busana, daftar tamu yang akan diundang, hotel, tiket bulan madu, dan rumah, semuanya sudah beres."
"Kita tinggal memilih gaun yang cocok, foto pre wedding, dan memilih kartu undangan"
"Benarkah?"
"Tentu saja benar, jika kita segera kebutik sekarang"
...----------------...
...Rumah Sakit ...
"Bagai mana operasinya" tanya Sofie pada dokter yang menangani oprasi Jack.
"Operasi berjalan lancar, beberapa jam lagi pasien akan sadar"
"Apa saya boleh menjenguknya"
"Tunggu beberapa saat lagi, sampai kondisinya stabil. Baru anda bisa menjenguknya" kata dokter sebelum melangkahkan kakinya pergi.
Sofie menyandarkan tubuhnya dikursi tunggu besi depan ruang oprasi. Jujur, ada rasa bersalah didalam hatinya.
"Permisi, dengan keluarga korban" tanya seorang pria berseragam coklat.
"Emm... I-ya. Ada apa ya?"
"Kami dari pihak kepolisian ingin menyerahkan barang milik korban yang ditemukan ditempat kejadian" kata seorang petugas kepolisian menyerahkan sebuah Handphone yang dibalut plasti klib.
"Ya, terima kasih"
"Sama sama, itu memang sudah tugas kami" jawab seorang petugas kepolisian sebelum beranjak pergi.
Sofie membuka plastik klib bening, dan mengeluarkan handphone dari dalamnya.
Hendphone itu nampak sedikit retak di bagian samping kiri atas. Sofie mencoba menghidupkannya, dan terlihat sosok wanita yang tengah tersenyum di layar.
"Kau masih menyimpan fotoku" gumam Sofie dan mencoba membuka Handphone.
"Pin salah" Meski tak mungkin Sofie mencoba memasukan tanggal lahirnya. Dan tak terduga, pin benar dan terbuka.
Sofie sedikit terkejut, tapi keterkejutannya ia sibak setelah melihat banyak pesan dan panggilan masuk dari WhatsApp.
Terlihat tiga kontak yang mengirimkan pesan, tapi mayoritas dari kontak yang bernama Tuan Sky.
π¬ Jack kau dimana?
π¬ Sejak kemarin sore aku tidak melihatmu
π¬ Disaat seperti ini kau malah menghilang
π¬ Apa kau sudah bosan berkerja?
π¬ Jika kau membaca pesan dariku segera hubungi aku, kau harus membantu mempersiapkan pernikahanku dengan Amanda.
π 24 panggilan tak terjawab
Tulis kontak bernama Tuan Sky.
"Apa Amanda yang dimaksud adalah Amanda kakakku?" tanya Sofie dalam hati sebelum menekan ikon panggilan suara, seperti pesan Sky.
"Dari siapa" tanya Amanda yang melihat Sky mengangkat panggilan suara yang masuk.
"Dari Jack" jawab Sky setelah memasang earbuds ditelinganya.
"Hallo Jack, kau dimana? Kenapa handphonemu tidak aktif sejak kemaren sore" tanya Sky seraya mengemudikan mobil.
"Emm maaf, saya Sofie teman Jack"
"Sofie? Bukankah ini nomor Jack" kata Sky memeriksa kembali nama kontak yang tertera dilayar.
"Emm iya, Jack baru selesai di operasi, dan belum sadarkan diri" jawab Sofie yang membuat Sky menghentikan mobil setelah menepikannya.
"Ada apa" tanya Amanda melihat ada sedikit kepanikan di wajah tampan Sky.
"Operasi" ulang Sky bukannya menjawab pertanyaan Amanda.
"Emm iya, kemarin Jack tertabrak mobil dan tulang kakinya patah"
"Lalu bagai mana keadaannya sekarang? Apa dia baik baik saja?"