One Night in Paris

One Night in Paris
Bab 12 - Jogging bersama



"Emm... Dari dokter Diana, dia menanyakan padaku siapa pasanganmu. Katanya ia sangat penasaran" Jawab Sky dilebih lebihkan. "Mampus kau Sky, bagai mana jika dia tak percaya dan langsung menghubungi Diana. Tamatlah riwayatmu" kata Sky dalam hati.


"Saya mohon pak, tolong jangan beri tahu siapapun. Saya tidak ingin orang tua saya membenci saya" kata Amanda seraya menggenggam erat tangan Sky.


"Orang tuamu belum tau" tanya Sky yang dijawab anggukan kepala oleh Amanda.


"Lalu bagai mana dengan janin diperutmu? Apa kau ingin aborsi" tanya Sky lagi yang kini dijawab gelengan kepala oleh Amanda.


"Lalu... "


"Karena janin ini tak punya ayah, aku terpaksa akan menyembunyikan keberadaannya dari dunia. Aku akan membesarkannya sendiri tanpa orang lain tahu"


Sky terdiam mendengar penuturan Amanda. Jika ditanya bagai mana perasaannya saat ini? Maka jawabannya hati Sky terasa tercubit, sungguh ia menyesali perbuatannya.


"Saya mohon pak, tolong jangan beri tau siapapun" kata Amanda mempererat genggaman tangannya dengan air mata yang sudah membanjiri pipi.


"Emm.... Ya, saya berjanji" jawab Sky, dan sepontan Amanda langsung memeluk erat tubuh Sky.


"Terima kasih pak" kata Amanda terisak dipelukan Sky.


Sky yang dipeluk begini menjadi bimbang, akankah membalas pelukan Amanda atau tidak.


Jack yang menyaksikan dari kejauhan adegan keduanya, memberikan kode untuk membalas pelukan Amanda.


Dengan sedikit keraguan, Sky membalas pelukan Amanda. "Menangislah.... Menangis selagi kau bisa. Karena kau akan mendapatkan kebahagiaan setelah air matamu" kata Sky dengan tangan kanannya mengelus lembut helaian rambut Amanda.


Dari kejauhan Jack memberikan kode untuk menyandarkan kepala Amanda kepundak Sky.


Sky meletakkan kepala Amanda kepundaknya, berusaha menenangkan wanita rapuh yang berada dipelukannya.


Jack memfoto keduanya, barang kali itu dibutuhkan suatu hari nanti. Jack memang hebat soal cinta. Tapi kisah cintanya sendiri harus kandas, karena tak direstui. Orang tuanya sudah menyiapkan jodoh, yang lebih kaya dari mantannya. Apakah Jack menerima perjodohan itu?


...----------------...


Ottawa, 03.00 PM


"Ibu, tolong maafkan anakmu yang tak berguna ini" kata Belle memeluk nisan ibunya.


"Belle, aku tahu kau sangat sedih akan meninggalnya ibumu. Tapi ayo kita pulang, apa kau tidak kasihan dengan anak yanga ada dikandunganmu" tanya Sofie membujuk Belle untuk yang kesekian kali, seraya memayungi Belle. Hari ini ibu kota diguyur hujan deras, padahal ini masih musim panas.


"Pulang? Pulang kemana? Aku tidak punya tempat yang disebut rumah. Rumahku sudah kugadaikan untuk membiaya pengobatan ibuku. Dan uang yang iblis itu berikan sudah kugunakan untuk menutupi hutang hutangku pada rentenir.


Hati Sofie terasa teriris mendengarnya, sungguh miris nasib wanita didepannya. Sofie tersadar, selama ini ia salah. Selama ini ia selalu mengeluh akan nasib yang tuhan berikan padanya, dan tak sadar diluar sana ada orang yang lebih menderita dan rapuh darinya.


"Aku akan segera menebus rumahmu. Dan kau bisa bisa meninggalinya lagi"


"Benarkah? tapi kau harus membayar sekitar US$ 324.610 (sekitar 4,9 miliar)"


Sofie menganggukan kepala sebagai jawabannya, meskipun dia harus memberikan sepertiga dari tabungannya.


"Aku tidak tau, kenapa kau begitu baik padaku" kata Belle memeluk erat Sofie.


"Aku juga punya nasib yang hampir sama, dan mungkin aku akan diusir setelah orang tuaku mengetahui kehamilanku"


"Kenapa kau tidak tinggal bersamaku"


"Bolehkah"


"Tentu, lagi pula kau yang membayar uang gadai itu. Dan kau juga bebas untuk tidur dirumahku"


"Ayo, aku akan menebus rumahmu sekarang juga" kata Sofie mengajak Belle pergi. Entah kenapa mereka bisa sangat akrab, padahal baru tadi pagi mereka berkenalan.


...----------------...


Paris 09.00 Am


Kembali keparis, dimana dua insan itu tengah berpelukan ditempat umum. Dan yang lebih mengejutkan lagi, bukan hanya Jack yang mengabadikan kebersamaan mereka, tapi juga warganet yang diam diam mengambil foto mereka.


Lama mereka berdua berpelukan, hingga tak sadar kamera mengintainya. "Ahh maaf" Kata Amanda melepaskan pelukannya.


"Sekali lagi saya minta maaf, tak seharusnya saya memeluk anda seperti barusan. Saya sadar saya bukan siapa siapa tuan, saya bukan orang yang spasial bagi tuan Sky. Saya minta maaf"


"Tiga kali" kata Sky menunjukkan angka tiga lewat jarinya. "Hahh, maksud anda?" tanya Amanda tak mengerti maksud Sky.


"Tapi tadi saya.... "


"Stttt.... Sekarang sudah pukul sembilan" kata Sky menunjukkan arlojinya.


"Ahh... Maaf, gara gara saya anda jadi terlambat. Sekali lagi saya minta maaf, saya berjanji saya tidak akan...."


"Hei... Bukan itu maksutku"


"La.... lalu" tanya Amanda mengerutkan dahinya.


Sky berdiri dari posisi duduknya, dan mengulurkan tangan kanannya kearah Arabella.


Amanda menatap tangan Sky yang terlulur kearahnya, sungguh tak mengerti akan arti uluran tangan itu.


"Mau jogging denganku"


Amanda bimbang, ia berfikir sejenak... Apakah itu baik?.


"Ayo, jogging dipukul sembilan pagi sangat baik untuk pertumbuhan tulang"


Setelah menimbang nimbang Amanda menerima uluran tangan itu.


Sky jogging bersama Amanda disampingnya, "Apa kau lelah" tanya Sky padahal baru lima menit yang lalu jogging dimulai.


"Emm.... Sedikit"


"kita bisa istirahat disana" kata Sky menunjuk sebuah bangku taman bercat putih mirip yang tadi, hanya saja letaknya berbeda.


"Tidak aku masih kuat"


"Kau yakin? keringatmu berlebih. Lebih baik kita istirahat terlebih dahulu" kata Sky yang dijawab anggukan kepala oleh Amanda.


"Maaf"


"Untuk"


"Karena aku, jogingmu terganggu. Sekali lagi aku minta maaf"


"Enam kali, enam kai kau meminta maaf. Apa kau tidak lelah mengatakannya" tanya Sky dengan nada candaan.


"Astaga, apa kau haus? Minumku tertinggal dimobil"


"Tidak, aku tidak ingin minum saat ini"


"Lalu" tanya Sky yang tak dijawab. Sky mengikuti arah pandangan Amanda.


"Kau ingin ice cream?" tanya Sky yang dijawab anggukan oleh Amanda.


"Tapi aku lupa tidak membawa dompetku"


"Tidak masalah, aku yang akan membayarnya"


"Tidak us..." Amanda hendak melarang Sky, tapi sayangnya laki laki bertubuh atletis itu sudah terlanjur pergi.


"Bagai mana kau tau aku sedang ingin ice cream Coklat?" tanya Amanda setelah Sky datang dengan dua buah ice cream ditangannya.


"Sungguh, aku bahkan tidak tau kalau kau suka ice cream coklat"


"Sebenarnya aku lebih suka rasa Strawbery, tapi untuk kali ini aku ingin memakan rasa coklat"


"Apa mungkin itu karena..."


"Karena?"


"Akhh lupakan saja"


"Kau memakan ice creammu terlalu lahap" kata Sky menghapus noda ice cream dibibir Amanda dengan jarinya.


Amanda menatap jari Sky dibibirnya, kenapa ia tak menolak. Kenapa ia merasa nyaman dengan semua ini? Apakah ia menaruh hati pada Sky Louis, bosnya sendiri?