One Night in Paris

One Night in Paris
Bab 16 - Jawaban



"Miss... Are you okay" tanya Sky karena Amanda diam saja, tak ada pergerakan. Tubuh Amanda hampir saja tumbang, namun Sky dengan sigap menahannya.


"Miss" Sky berusaha membangunkan Amanda, tapi tak adabpergerakan sama sekali. "Astaga, aku tidak membawa Handphone" kata Sky setelah meraih saku celananya.


Tanpa pikir panjang, Sky langsung menggendong Amanda menjauh dari makam. Karena sebelumnya ia sudah menyuruh Jack untuk menunggu dimobil.


...----------------...


Seorang wanita yang baru saja turu dari taksi segera memasuki halaman rumah yang bisa dibilang luas. Rumah bercat putih dan memiliki dua lantai ini cukup layak untuk dibilang mewah.


Langkah wanita yang setengah berlari itu terhenti, kala seorang pria paruh baya melemparkan dua buah koper berukuran sedang keluar rumah.


"Daddy" Sofie menatap Arden dan dua buah koper yang dilemparkan Arden bergantian.


"Mulai sekarang jangan pernah injakkan kakimu lagi ditempat ini. Dan kau bukan bagian dari keluarga ini"


"Apa maksutmu dad? Apa kau marah, aku terlambat? Aku baru mengetahuinya tadi pagi... Aku langsung terbang dari luar kota... Bahkan kau tidak memberitahuku jika mommy...."


"hentikan omong kosongmu dan segera tinggalkan tempat ini"


"Apa maksutmu? Kau mengusirku? Lalu apa salahku? Aku juga sedih mommy pergi"


"kau bicara seolah kau adalah wanita suci yang tidak tau apa apa. Padahal kau sudah membuat keluarga ini tercemar dengan perbuatan dan kehadiran anak itu" kata Arden yang membuat Sofie menutup mulutnya. Barulah ia mengerti, akan kemarahan Arden yang tertuju padanya.


"Aku bisa jelaskan, ini semua tidak seperti...."


"Pergi... Aku tidak ingin mendengar sepatah katapun darimu. Dan jangan pernah kau tampakkan dirimu lagi ditempat ini" kata Arden sebelum membanting pintu, meninggalkan Sofie yang masih diluar berdiri mematung.


Sofie mengusap kasar air matanya, dan mengambil dua buah koper berwarna hitam dilantai.


Ia sudah tahu kosekuensinya, tapi apapun yang terjadi ia akan tetap mempertahankan anak ini, anak ini tidak bersalah. Sekalipun kehadiran anak ini tidak diinginkan sebelunya.


Sofie menatap rumah dihadapannya sekilas, "Maafkan aku dad, aku telah mengecewakan kalian semua" kata Sofie dalam hati, sebelum menyeret dua kopernya menuju gerbang yang cukup tinggi.


...----------------...


...Ottawa, 12.00 PM...


Amanda membuka matanya perlahan, terlihat sebuah ruangan mewah dengan segala fasilitasnya didepan mata.


Amanda bangun dari posisi tidurnya, ia menatap sekitar. Ruangan bercatkan perpaduan gold dan silfer tampak asing baginya.


"Kau sudah sadar" tanya Sky yang entah sejak kapan duduk disofa, dikamar yang sama.


"Pak Sky" kata Amanda, bukannya menjawab pertanyaan Sky, justru menatap pria itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


Sky berjalan menuju ranjang, tangannya terulur mengembil sebuah mangkuk diatas meja dekat ranjang.


"Buka mulutmu" kata Sky setelah duduk disamping Amanda.


"Maaf saya membawa anda keapertemen tanpa ijin, karena anda tiba tiba pingsan. Sebentar lagi dokter akan datang" kata Sky kembali menyuapkan sup kemulut Amanda.


"Apa itu artinya anda menolak saya" tanya Sky menatap Amanda serius setelah mendengar kata kata bukan siapa siapa keluar dari mulut wanita cantik didepannya.


"Bukan tidak mau, tapi...."


"Tidak masalah, saya mengerti. Mungkin saya bukan orang yang tepat untuk mendampingi anda" kata Sky menatap Amanda sendu.


"Saya tidak mengatakan demikian"


"Maksut Anda..."


Amanda merubah posisi duduknya menghadap Sky, mengambil posisi nyaman untuk bicara.


"Saya juga memiliki perasaan yang sama dengan anda. Awalnya saya kira saya hanya kagum, tapi tidak... Rasa ini lebih dari sekadar kagum" Sky menatap manik coklat Amanda, berusaha mencari kebohongan disana. Sky tidak salah dengarkan?


Amanda menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. "Saya juga mengira ini bawaan kandungan saya. Saya selalu merasa tenang didekat anda. Bahkan hati kecil saya ingin memiliki anda seutuhnya" kata Amanda dengan suara parau.


"Meski saya tahu, itu tidak mungkin. Saya yang tidak pantas untuk laki laki sempurna seperti anda. Apalagi setatus saya yang...." Sky menempelkan jarinya dibibir Amanda, untuk menghentikan perkataan wanita itu.


"Cukup, saya tidak ingin mendengar kata kata itu. Saya tulus mencintai anda miss, saya tidak mempermasalahkan kehadiran anak ini. Dan anak ini adalah alasan kita berdua samapi dititik ini." Sky mengesuap perut rata Amanda dengan lembut.


Amanda yang tidak mengerti akan maksut kalimat terakhir Sky hendak menanyakan. Namun belum sempat membuka mulutnya, Sky sudah membekap mulut Amanda dengan bibirnya. Sky menikmati bibir manis itu, bibir yang ia ingin sejak lusa lalu. Tak ada penolakan ataupun respon yang Amanda berikan.


"Balas jika kau menginginkannya juga" kata Sky parau. Amanda memegang rahang keras Sky, mengusap rahang itu dan membalas Sky perlahan.


Lidah Sky diam diam masuk kedalam mulut Amanda, dan menari nari disana. Sementara tangan Sky menggenggam erat tangan Amanda, berusaha menahan diri, karena tubuhnya menginginkan lebih dari sekadar ciuman. Untuk saat ini ia tak ingin membuat kebodohan baru, yang memperumit permasalahan.


Sky menatap bola mata Amanda, dengan bibir yang masih berpaut. Entah kenapa udara semakin panas, padahal diluar hujan belum juga reda. Manik itu, menatap manik itu membuat membuat Sky ingin melakukan lebih.


Tangan Sky sudah gatal untuk memegang dada Amanda yang berisi. Dengan perlahan Sky mendorong Amanda keranjang. Saat ini tak ada alkohol yang mempengaruhinya, tapi akal sehat Sky benar benar berkabut dan tak bisa berpikir jernih.


Amanda menatap manik coklat Sky, entah kenapa ia tak menolak setiap sentuhan Sky.


Sky kini berada diatas Amanda dengan pakaian yang masih lengkap. Sama sekali belum melakukan hal yang nantinya akan ia sesali.


'Ceklek'


Terdengar suara pintu terbuaka, terlihat dua insan yang berdiri depintu kamar. Dan tentu saja dua insan itu membuat dua orang manusia menghentikan kegiatannya.


Sky buru buru turun dari atas Amanda, sementara Amanda buru buru bangun dari posisi sebelumnya.


"Emmm... Maaf tuan, saya langsung membuka pintu kamar anda. Seharusnya saya mengetuk pintu terlebih dahulu" kata Jack menunduk.


"Tidak, kau tidak salah. Dan saya minta maaf atas apa yang anda lihat barusan" kata Sky menatap Jack dan dokter wanita yang Jack bawa bersamanya.


Dokter itu mengeluarkan alat pemeriksaan dari kotak, dan segera memeriksa Amanda.


Jujur Sky tak punya cukup kebranian untuk menatap wanita itu. Didalam hati ia merutuki kebodohannya, bagai mana bisa ia melakukan hal sebodoh itu?