One Night in Paris

One Night in Paris
Bab 19 - Foto Pre Wedding



"Lalu bagai mana keadaannya sekarang? Apa dia baik baik saja?"


"Saat ini Jack baik baik saja. Oprasi berjalan lancar dan beberapa jam lagi Jack akan siuman"


"Syukurlah" kata Sky yang baru bisa bernapas lega.


"Emm... Aku minta tolong, jaga Jack untuk sementara waktu, karena keluarganya masih diluar negeri dan sepertinya belum tahu akan kabar ini. Aku akan menjenguknya nanti"


Sky memutuskan panggilan suara setelah Sofie mengiyakan perkataannya.


"Maaf, kalau boleh tahu tadi siapa yang di operasi?" tanya Amanda yang tak bisa menahan jiwa keponya.


"Jack, dia tertabrak mobil kemarin"


"Astaga, apa lebih baik kita menjenguknya sekarang?"


"Tidak, nanti saja setelah kita selesai memilih gaun dan foto pre wedding di studio. Lagi pula Jack belum siuman" jawab Sky yang diangguki oleh Amanda.


Meski sedikit khawatir akan keadaan Jack, Sky tetap menjalankan mobil ke butik terkenal di Kanada. Bukan tanpa alasan Sky khawatir, selain manager yang sangat profesional, Jack adalah sahabat dan orang kepercayaannya sejak SMA.


...Butik XXXXXXX...


"Selamat datang tuan Sky, nona Amanda. Sudah lama sekali anda tidak berkunjung" sapa Emma orang yang Sky percaya untuk mengelola butik.


Ya, butik ini adalah milik perusahaan Sky. Sebagian produk dari Louis Fashion dipajang di butik milik perusahaan, yang telah berdiri disetiap negara bahkan kota kota terkenal yang sering dikunjungi di dunia, sebut saja Bangkok, Paris, London, Dubai, Kuala Lumpur, New York dan masih banyak lagi.


"Apa kau sudah menyiapkan gaun yang aku pesan untuk calon istriku"


"Sudah tuan, anda bahkan bisa melihatnya"


"Semua gaun ini indah dengan kelebihannya masing masing, aku bingung harus pilih yang mana" kata Amanda menatap sepuluh gaun dihadapannya bergantian.


"Anda bingung? Lau kenapa tidak memilih semuanya saja"


"Semuanya? Anda serius? Gaun ini terlalu banyak"


"Tidak masalah, sekalipun bidadari menginginkan semua gaun disini, juga tidak masalah"


Amanda tersenyum kecil, "Sejak kapan anda pandai merayu".


"Entahlah.... Bakat ini muncul tiba tiba setelah aku mengenalmu"


"Anda mulai lagi, pernikahan masih dua hari lagi, tapi anda sudah berhasil membuat saya berdebar"


"Apapun, apapun untuk bidadari yang telah tuhan kirimkan untukku" kata Sky yang membuat senyuman Amanda semakin terlihat jelas.


"Tersenyumlah, karena aku juga akan bahagia saat melihatmu bahagia" kata Sky dalam hati seraya memandangi Amanda yang salah tingkah akan perkataan Sky.


...----------------...


...Rumah Sakit...


Jack perlahan membuka matanya, terlihat sebuah ruangan bercat putih yang diisi berbagai alat medis didepan matanya.


"Kau sudah bangun"


Jack memutar pandangan kesumber suara, "Sofie" ucap Jack menatap sosok wanita yang ia rindukan tengah duduk dikursi sampingnya.


Meski susah, Jack berusaha untuk bangun dari posisi rebahannya.


"Tidak, kau masih lemah, lebih baik kau merebahkan tubuhmu terlebih dahulu"


"Bagai mana keadaanmu? Apa kau baik baik saja? Tidak ada yang luka?"


"Apa kau sedang menyindirku Jack? Aku baik baik saja, dan aku tahu seharusnya aku menanyakan itu sebelumnya"


"Aku tidak sedang menyindirmu, aku benar benar khawatir kau kenapa napa"


"Sepertinya kepalamu masih sakit, yang tertabrak kau, tapi kau yang bertanya seolah aku yang tertabrak"


"hentikan bualanmu, aku tidak ingin mendengarnya"


"Aku tidak sedang membual" Jack menatap Sofie lekat lekat, berusaha menunjukkan ketulusannya. Tapi Sofie justru memalingkan wajahnya, tak ingin usahanya yang telah susah payah mengubur perasaannya terhadap Jack sia sia"


"Oh ya, lalu kenapa kau tidak pernah menemuiku? bahkan sekadar menghubungiku saja tidak"


"Itu karena...."


"Karena kau sangat sibuk dengan wanita pilihan orang tuamukan?"


"Cih, aku bahkan tidak menyangka kau akan mengatas namakan orang tuamu untuk mengakhiri hubungan ini"


Jack mengempulkan tenaga untuk duduk, meski sakit menggerogotinya itu tak akan menghalanginya.


"Sofie, tatap aku" kata Jack yang menatap Sky.


"Tidak, untuk apa aku menatapmu"


"Aku mohon" kata Jack begitu lirih, nyaris terbawa angin.


Meski ragu, Sofie memutar pandangannya menatap manik biru Jack.


"Aku bersumpah, hanya kau yang ada dilam sini" kata Jack meletakkan tangan Sofie didadanya, tepatnya dibagian hati.


Manik biru itu, manik biru itu begitu tulus, tak ada kebohongan didalamnya. Bahkan Sofie bisa merasakan debaran jantung yang begitu cepat dari dada Jack.


"Apa sekarang kau percaya akan ketulusanku?" tanya Jack menatap manik Coklat Amanda lekat.


Mata Sofie berembun, dadanya bergetar. Rasa yang dulu ia pernah kubur akan bangkit kembali.


Sofie melepaskan tangannya di dada Jack dan langsung berlari pergi, keluar dari kamar Jack.


Sofie membekap mulutnya, terus berlari dengan air mata yang membanjiri pipinya. Tak memperdulikan pandangan orang, yang menatapnya.


Sofie mengunci pintu kamar mandi dan mencuci kasar wajahnya.


"Hiks, tidak... Aku tidak boleh lemah. Perasaan ini sudah mati, tak ada cinta untuk Jack. Tidak, aku hanya kasihan padanya" kata Sofie menatap pantulan wajahnya dicermin.


Sofie menarik napas dalam dalam kemudian mengeluarkannya. Sofie menata kembali rambutnya merantakan, dan menghapus kasar air matanya.


"Aku tidak bisa disini lebih lama, berada didekat Jack hanya akan membuatku kembali menjadi wanita lemah yang mudah disakiti"


"Aku ingat jika dokter mengatakan kondisi Jack sudah mulai membaik, dan orang yang bernama Sky akan menjenguknya nanti"


"Sepertinya aku tidak akan dihantui rasa bersalah jika aku pergi sekarang" kata Sofie berbicara pada dirinya sendiri.


...----------------...


"Kurang dekat" kata Seorang penata gaya.


Sky melangkahkan kakinya lebih dekat, mengikis jarak yang ada, hingga napas hangat Sky mampu Amanda rasakan.


"Nona, kalungkan tanganmu di leher pasanganmu" Kata penata gaya itu lagi memberikan sebuah aba aba.


Meski sedikit ragu, Amanda melakukan apa yang penata gaya itu katakan, kini bukan hanya tangan amanda yang menempel di leher jenjang Sky, bahkan hidung mancung Sky dapat ia rasakan. Bau mint dari napas Amanda bahkan tercium sangat segar dihidung Sky.


"Sebentar, seperti ada yang kurang"


Sky yang tak bisa menahan, langsung menempelkan bibirnya di bibir merah Amanda. Bibir merah itu terlalu menggoda, untuk di biarkan.


"Sempurna" kata penata gaya itu, memberikan kode pada sang fotografer


"Perfect" kata Fotografer setelah mengambil gambar keduanya.


"Tuan, pemotretan terakhir sudah usai. Tidak ada pemotretan lagi" kata fotografer karena bibir Sky masih berpaut dengan bibir Amanda.