
"Bagai mana keadaannya dok" tanya Sky setelah dokter Anna selesai memeriksa.
"Pasien mengalami stres, dan itu sangat tidak baik untuk kandungannya. Jika begini terus, bukan tidak mungkin anda akan kehilangan anak anda" kata Dokter Anna menatap Sky.
"Saya akan menuliskan resep obat penguat kandungan, anda bisa membelinya di Apotek"
"Biar saya yang membelinya" kata Jack, karena masih merasa bersalah.
"Mari saya antar" Jack mengantar Dokter Anna setelah menerima catatan kertas dari dokter Anna.
Jack dan Dokter Anna pergi, menyisakan sepasang kekasih dikamar mewah itu.
"Emm maaf... Saya benar benar terbawa suasana, saya janji tidak akan mengulangnya" kata Sky membuka pembicaraan.
"Emmm... Iya" jawab Amanda singkat, karena sebenarnya tadi ia juga menikmati.
"Ini makanlah" kata Sky menyerahkan mangkuk sup yang belum habis.
"Saya akan mengambilkan minum, anda tunggu saja disini"
"Tidak, tidak perlu. Saya bisa mengambilnya sendiri"
"Kau lupa? Aku bukan hanya bosmu, tapi aku juga kekasihmu. Tidak masalah aku mengambilkan minum untuk kekasihku. Lagi pula kau pasti tidak tahu dimana dapurnya"
Sky melangkahkan kakinya menuju dapur, menadah air dari wastafel dan mencuci mukanya kasar. "Astaga, bagai mana bisa aku kelepasan? Bodoh, kau bodoh Sky. Kau hampir saya mengulangi kejadian itu" Sky mengacak acak rambutnya dengan kasar, merutuki kebodohannya.
Sky menuangkan air pada gelas, lalu meneguknya. "Bagai mana jika Amanda tahu akulah pria yang telah memaksanya malam itu? Apakah dia bisa menerimanya? Tidak, sepertinya lebih baik ini menjadi rahasiaku dengan Jack. Aku tidak ingin ambil resiko"
Setelah menarik napas dalam, Sky langsung membuatkan susu coklat khusu ibu hamil dan membawanya ke kamar.
"Saya tidak tahu apakah anda masih menginginkan rasa coklat atau tidak. Tapi jika anda tidak suka, saya bisa membuatkan rasa lain"
"Saya sangat suka rasa coklat. Tepatnya saat saya hamil, mungkin karena bayinya yang menginginkan" kata Amanda mengelus perut ratanya.
"Apa jangan jangan kesukaan rasa coklat itu menurun dariku" gumam Sky lirih.
"Apa anda mengatakan sesuatu"
"Emm ya... Saya akan mengatakan nanti"
"Sekarang saja, saya baik baik saja. Apakah ada sesuatu"
"Sebelumnya saya ingin bertanya...."
"Apakah Anda masih menyimpan berita kehamilan anda pada orang tua anda" tanya Sky hati hati.
Amanda meletakkan gelas yang masih tersisa sepertiga susu diatas meja sebelum menjawab pertanyaan Sky. "Seperti yang sebelumnya saya katakan. Saya akan menyimpan rahasia ini pada siapapun, termasuk orang tua saya" kata Amanda Sendu.
"Lagi pula, mommy pergi setelah mendengar kabar kehamilan Sofie yang diluar nikah. Daddy mengusir Sofie dan tak menganggapnya bagian dari keluarga Jenner, karena tidak bisa menerima kehadiran anak tanpa ayah dari hasil hubungan gelap"
"Aku.... Aku tidak mau mengalami hal yang sama seperti Sofie" kata Amanda dengan suara bergetar dan tangis yang mulai pecah.
Sky memeluk Amanda, berusaha menenangkan wanita rapuh dipelukannya. "Saya tahu ini terlalu berat untuk anda tanggung sendirian miss. Saya yang akan menjamin kebahagian miss Amanda dan anak yang ada dikandungan ini"
"Maksut Pak Sky" tanya Amanda setelah melepaskan pelukan.
"Sudah berapa minggu, kandungan Miss Amanda" tanya Sky, bukannya menjawab pertanyaan Amanda sebelumnya.
"Sepuluh minggu"
"Tidak akan ada yang menyadari kejanggalan ini" kata Sky yang membuat Amanda mengkerutkan dahi samar.
"Jika Miss Amanda bersedia, saya akan menikahi Miss Amanda beberapa hari lagi. Saya sendiri yang akan menjamin, tak akan ada seorangpun yang curiga, jika anak ini bukan anak saya"
"Maksut Pak Sky, Pak Sky ingin menikahi saya dan mengaku ayah dari anak ini"
"Ya, tebakan anda benar"
"Tapi bagai mana jika ada yang curiga jika usia kehamilan saya lebih cepat dari pernikahan"
"Miss Amanda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, serahkan saja semuanya pada saya. Pertanyaannya sekarang, apakah anda mau menjadi teman hidup saya" tanya Sky menatap lekat manik coklat Amanda.
Amanda menatap manik coklat Sky yang memperlihatkan ketulusan disana. "Saya....."
...----------------...
Jack mengemudikan mobilnya dijalan yang lumayan sepi, entah mengapa ia ingin lewat jalan ini.
'Citttttt'
Jack mengerem mobilnya kala melihat sosok wanita tergeletak dijalan dengan dua koper disampingnya.
Tangan Jack terulur membuka pintu mobil dan menghampiri wanita itu setelah mengeluarkan payung hitamnya.
Jack jongkok untuk memeriksa sosok wanita yang terbaring tengkurap di depannya. Ada sedikit keraguan untuk membalikkan tubuh wanita dihadapannya.
Tangannya terulur perlahan dan membalik tubuh wanita di depannya. "Sofie" pekik Jack kala melihat wanita yang selama ini ia rindukan terbaring tak sadarkan diri dihadapannya.
...----------------...
Dengan perlahan Sofie membuka matanya, matanya menatap kesekeliling dan mengingat ingat kejadian sebelumnya.
"Dimana aku" pekik Sofie dan bangun dari posisi tidurnya.
Sebuah kamar yang bercat hitam dengan segala fasilitas didalamnya, sangat asing baginya.
"Kau sudah sadar"
Sofie memutar pandangan kesumber suara. Terlihat seorang pria membawa sebuah nampan yang berisi semangkuk sup dan secangkir teh hangat, datang menghampirinya.
"Jack" pekik Sofie menyadari pria dihadapannya adalah Jack Addison, mantan kekasihnya.
"Aku melihatmu pingsan di jalan, lalu aku membawamu kemari" kata Jack setelah meletakkan nampan di atas meja.
"Terima kasih, tapi aku tidak butuh bantuan darimu" kata Sofie dan turun dari ranjang.
"Kau baru bangun, aku akan mengantarkanmu nanti. Sekarang kau bisa makan terlebih dahulu"
"Terima kasih atas tawarannya, tapi kau tidak perlu berlagak baik seperti itu hanya untuk menunjukkan kalau kau menyesali perbuatanmu"
"Aku melakukan ini karena...."
"Karena kau kasihan padaku. Benarkan?"
"Dengar Jack, sekali lagi terima kasih atas bantuanmu. Dan tolong katakan dimana kau menyimpan koperku"
"Sudah aku katakan, aku akan mengantarmu nanti"
"Baiklah, jika kau bersi keras. Aku bisa mencarinya sendiri"
Sofie mengambil dua koper miliknya yang disimpan di sudut ruangan. "Sofie, tunggu" kata Jack menghentikan langkah Sofie.
"Ada yang ingin kau katakan. Katakanlah, waktuku tidak banyak" kata Sofie tanpa menatap kearah Jack.
Namun bukannya menjawab Jack malah menarik Sofie kepelukannya. Jack memeluk erat tubuh ramping Sofie, menghirup tengkuk Sofie dalam dalam dan memberikan tanda kepemilikan disana.
"Lepaskan, jangan kurang ajar" Sofie mendorong tubuh Jack menjauh.
Jack mundur beberapa langkah untuk menyeimbangkan tubuhnya.
"Jangan coba coba melakukannya atau..."
"Kalau aku mau, aku bisa melakukan lebih saat kau tidak sadarkan diri"
"Kau...."
Jack menurunkan jari Sofie yang menunjuk kearahnya. "Aku sangat merindukanmu, Sangat" kata Jack lirih.
"Diam, aku tidak ingin mendengar bualanmu. Bualanmu membuatku muak Jack. Kau dengar itu?"
Bukannya marah atau emosi, Jack justru kemabali memeluk erat Sofie.
"Lepaskan, kau tuli" Sofie memukul mukul Jack. Sementara Jack yang dipukuli, hanya diam dan terisak dipelukan Sofie.