
Sebelum Andrew benar benar pergi, ia mematikan lampu agar Sky bisa beristirahat lebih nyaman.
Setelah kepergian Andrew, tak lama setelah itu seorang wanita mendobrak pintu. Yang tentu saja, membuat mata Sky terpejam kini terjaga kembali.
"Hai siapa kau" kata Sky yang masih terpengaruh akohol. Namun bedanya, jika tadi ia sempoyongan dan hampir jatuh, kini ia memiliki tenaga yang kuat.
Belum sempat wanita itu melarikan diri, aku yang terpengaruh alkohol menutup pintu dengan kencang dan menarik wanita itu keranjang. Dan melakukan hal bodoh, yang selamanya akan ia sesali.
Sky masih ingat jelas kejadian itu, namun sayangnya ia tak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas. Karena lampu sudah dimatikan Andrew tiga puluh menit yang lalu.
...----------------...
Sky menggelengkan kepalanya, mengingat itu membuatnya semakin merasa bersalah.
Ia juga masih ingat, bagai mana dirinya hidup tanpa seorang ayah. Itu terjadi kerena mommynya tak mengingat siapa pria yang menidurinya, karena waktu itu mommynya dalam keadaan mabuk berat. Ia tak mau jika seandainya wanita itu hamil, dan melahirka anaknya, anaknya tumbuh tanpa buaian sosok ayah.
Setidaknya cukup Aku saja yang merasakan tumbuh tanpa kasih sayang sosok ayah, tidak dengan anakku juga. Pikir Sky menatap arah jendela kaca kantornya. Padahal belum tentu juga wanita itu hamil, entah kenapa Sky sudah berpikir demikian.
...----------------...
Setelah beberapa jam perjalanan, Amanda menginjakkan kakinya kembali di paris. Sebelumnya ia sudah bersumpah untuk tidak akan menginjakkan kakinya lagi di kota ini. Namun siapa sangka gadis cantik dan berbakat ini justru menelan liur, yang telah ia buang.
Ada trauma didalam hatinya, tapi sekuat tenaga ia meyakinkan, jika hal buruk itu tidak akan terulang lagi. Lagi pula kota ini cukup luas, untuk bertemu dengan penjahat itu. Yang tak ia ketahui siapa pelakunya.
"Man lu kok diam aja si, lu mau disitu sampai pagi"
"Ah, iya" Amanda yang tersadar dari lamunannya segera menyusul Axe yang sudah berada didalam mobil. Mobil yang ia tumpangi berwarna hitam, yang segaja digunakan untuk menjemput Amanda dab Axe, menuju hotel.
Sesampainya dihotel, Amanda meletakkan semua barang barangnya dan membersihkan diri.
Ia menatap begitu megahnya menara eiffel yang berdiri dengan kukuh lewat balkon kamarnya. Ya, hotel yang ia tempati sangat dekat menara eiffel. Bahkan Tempat Studio yang digunakan untuk Fashion show tak jauh dari sini.
Cahaya lampu yang nenerangi kota ini dimalam hari, menambah keindahan yang memikat mata memandang. Namum sayangnya, meskipun tiga bulan telah berlalu, trauma dihatinya masih tersisa.
'tok...tok...tok' terdengar suara pintu yang membuay lamunannya buyar. Amanda menghapus air matanya sebelum membuka pintu.
"Matamu sembab, kau habis menangis" tanya Axe setelah pintu Amanda buka.
Amanda menggelengkan kepala sebagai jawabannya. "Ada apa" tanya Amanda to the poin, yang membuat Axe teringat tujuan awalnya menemui Amanda.
"Manager dan Presdir, mengajak kita makan malam, sekaligus membicarakan mengenai acara besok"
"Benarkah, kenapa mereka tidak memberi tahu langsung"
"Mereka sudah mengirim pesan, bahkan menelfonmu, tapi kau sepertinya terlalu sibuk sampai tak sempat mengangkat telfon dari manager dan dariku juga"
"Baiklah, kalau begitu aku akan bersiap"
"Aku akan menunggumu disini"
"Tidak perlu, aku bisa...."
"baiklah" kata Amanda sebelum menutup pintu.
Dengan gerakan cepat, Amanda mengganti baju dan memoles tipis wajahnya dengan make up. Meski tidak seprofesional MUA yang biasa memoles wajahnya, Namun hasil riasannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Ditambah wajahnya yang memang sudah cantik sejak lahir, tak membutuhkan sentuhan make up tebal untuk membuat para lelaki yang memandangnya tiba tiba terkena diabetes.
Setelah menyambar tas dan Handphonenya diatas kasur, ia segera membuka pintu dan mendapati Axe masih berdiri ditempat semula.
"Ayo Axe, aku sudah siap" kata Amanda yang membuat pria bertubuh tak terlalu besar namun gagah, yang mengenakan setelan jas Putih itu menoleh kearah Amanda.
Bukannya menjawab, Axe justru terdiam melihat Amanda.
"Kau bukan hanya cantik Amanda, tapi sangat cantik. Andai saja kau tau perasaanku kepadamu. Apakah kau akan menerimanya? Atau justru menjauhiku? Yang jelas aku belum siap menerima kemungkinan terburuk yang akan terjadi" ucap Axe dalam hati.
"Axe, hallo" kata Amanda mengibaskan tangannya didepan Axe untuk menyadarkannya.
"Kau melamun? Memangnya apa yang kau pikirkan? Apa ada yang salah dengan pakaianku? Atau justru make up ku?"
Axe menggeleng sebagai jawannya, "Tidak ada yang salah denganmu, aku hanya sedang mengamati dua cicak yang sedang bermesraan dipintu"
"Cicak" pekik Amanda, jujur hanya mendengar kata itu sudah membuatnya geli. Bahkan sampai lompat memeluk Axe.
"Apa aku tidak sedang bemimpi? Manda memelukku?" kata Axe dalam hati, jujur ia masih tak percaya dengan yang ia rasakan sekarang.
Tangannya terulur untuk membalas pelukan Amanda, namun sejurus kemudian ada pengganggu yang merusak momen langka ini.
"Ehemm" terdengar suara orang terbatuk yang membuat keduanya nenoleh.
"Tuan Max sudah menunggu kalian sejak tadi, dan kalian malah bermesraan disini? Apa kalian tidak malu dilihat orang lain? Oh astaga, sepertinya kalian sudah siap gaji kalian dipotong bulan ini" kata Samuel manger JJ modeling yang usianya tak jauh dari mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai pada restoran yang dimasut. Terlihat seorang pria sedang menunggu seseorang dengan ekspresi yang tak bersahabat.
"Duduklah" perintah Max, setelah mereka bertiga datang.
"maaf tuan kita...." kata kata Axe terpotong oleh ucapan max
"Makan malam sudah datang, kita lanjutkan nanti pembicaraannya"
Rupanya Axe sudah memesan makanan sebelum mereka tiba. Pelayan yang memakai seragam hitam itu, meletakkan satu persatu makanan keatas meja. Dan bau Spageti yang menyengat dihidung Amanda membuatnya merasa mual.
Dengan segera Amanda berlari kearah kamar mandi, dan memutahkan seisi perutnya, yang dari tadi bergejolak.
Axe yang tadinya hendak menyusul Amanda, terhenti beberapa langkah dari pintu toilet wanita.
Lama ia menunggu, rasanya ia ingin masuk dan memastikan keadaan Amanda. Tapi itu sama saja dengan bunuh diri. Kalau tidak dihajar para wanita, pasti ia akan dibuat babak belur oleh penjaga keamanan.
Axe menghentikan salah satu wanita yang keluar dari toilet, "maaf nona, apa kau melihat wanita yang mengenakan dres berwarna kuning, Rambutnya panjang, kira kira tingginya segini (setinggi pelipis matanya)"
"Dari ciri ciri yang kau katakan, sepertinya mirip dengan wanita yang tengah terduduk lemas disamping wastafel" jawab wanita pirang, yang mengenakan midi dres berwarna biru muda.