
"Apa yang kau inginkan, aku tidak punya banyak waktu" kata wanita itu to the poin.
"Ini handphonemu, tadi jatuh"
"Terima kasih" jawab wanita itu hendak pergi.
"Tunggu dulu" kata Sofie menahan tangan wanita dihadapannya.
"Apa lagi, aku tidak punya waktu lagi. Aku harus mengurus pemakaman ibuku" kata wanita itu yang sepertinya sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"Duduklah dulu, aku ingin bicara empat mata padamu"
"Apa kau mengenal laki laki ini" tanya Sofie basa basi, padahal ia sudah tau apa jawabannya.
"Tidak, aku tidak mengenal laki laki itu"
"Kau jangan bohong, aku sempat melihatmu bersamanya di cafe. Jadi tidak mungkin jika kau tidak mengenalnya"
"Kau sudah tak jawabannya? Lalu kenapa masih bertanya"
"Aki ingin tau ada hubungan apa kau dengannya"
"Itu bukan urusanmu"
"Tentu saja itu urusanku"
"Kenapa? apa kau juga dihamili oleh Andreas? Lebih baik kau jangan berharap lebih! Karena bukan hanya kau wanita yang akan dicampakan oleh iblis tak berhati itu. Dan satu.... Hanya kekasihnya Amanda Jennerlah yang akan ia nikahi"
"Jadi kau jangan berharap lebih, atau nasipmu sama sepertiku, yang disanjung kelangit, namun dihempaskan ke bumi. Memang benar aku diberikan sejumlah uang, tapi jika boleh memilih, aku akan mengembalikan uang itu dari pada harus merelakan ibuku"
"merelakan ibumu" ulang Sofie bukannya tak mendengar perkataan wanita dihadapannya.
"Ya, ibuku kritis setelah mendengarku hamil. Aku sudah beberapa kali kerumah iblis itu untuk meminta pertanggung jawaban. Namun selalu saja iblis itu mengusirku, dan tak memperdulikan anak yang kukandung.
"Hingga aku mendapatkan kabar, jika ibuku menghembuskan nafas terakhirnya. Dan yang lebih menyedihkan lagi, ibuku menutup mata terakhirnya dengan menyimpan kebencian padaku. Bahkan tak menganggapku anaknya lagi... Aku sudah meminta maaf padanya, tapi ia tetap kukuh dalam pendiriannya". Kata wanita itu dengan suara yang bergetar menahan tangis.
"Menangislah, menangis jika itu membuatmu lebih tenang" kata Sofie, memeluk wanita dihadapannya.
"Aku tidak tau siapa kau, tapi kenapa kau begitu baik" kata wanita itu dengan air mata yang berlinang.
"Aku adik dari Amanda Jenner, kakakku sangat dipuja oleh iblis itu. Tapi aku.... "
"Apa kau mengalami hal yang sama, seperti yang aku rasakan" tanya wanita itu yang dijawab anggukan oleh Sofie.
"Ya, kita mengandung anak dari pria yang sama. Tapi kisah kita berbeda, kau melakukannya dengan sadar. Sedangkan aku... " Sofie tak bisa melanjutkan kata katanya, semua ini sangat menyakitkan. Bagai mana bisa, ada seseorang yang tak bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat, hanya memikirkan kesenangannya?
"Oh ya, aku belum tahu siapa namamu" tanya Sofie setelah menghapus air matanya.
"Aku Belle Alexandra, kau bisa memanggiku Belle"
"Belle, dimana rumahmu?" pertanyaan yang klasik, namun sangat sulit dijawab oleh Belle.
"Entahlah, aku sendiri bingung mau mengatakan apa" jawab Belle, yang membuat Sofie mengerutkan dahinya samar.
...----------------...
Paris, 07.00 AM
Amanda menatap kearah layar, terlihat bukan hanya dua janin disana, melainkan tiga.
"Dok, apa aku hamil anak kembar?"
"Iya nyonya, anda mengandung janin kembar tiga identik, selamat ya"
"Kalau boleh tau, apa jenis kelaminnya"
"Untuk sekarang, jenis kelaminnya belum terlihat jelas, dan baru bisa dilihat dengan jelas sekitar tujuh minggu lagi"
Amanda memegangi perutnya yang masih rata. "Kasihan sekali kau nak, kalian bertiga akan terlahir tanpa sosok ayah. Ya tuhan, apakah aku bisa membesarkan mereka sendirian?" tanya Amanda dalam hati. Jujur semua ini begitu rumit, sekadar membayangkannya saja tak sanggup.
"Maafkan aku miss, aku benar benar tidak sengaja. Aku tulus untuk bertanggung jawab, tapi memberitahumu sekarang, itu sama saja bunuh diri".
"Kau tau miss, pertemuan kita memang bisa dibilang cukup singkat. Dan pertemuan pertama kita terjadi sangat kelam. Namun saat ini aku ingin menjadi tempat bersandar yang nyaman untukmu. Aku ingin menjadi tempat dimana kau bisa melepaskan segala keluk kesah dan kesedihanmu" kata Sky dalam hati, yang kini tengah mengamati Amanda dari jauh.
"Tuan, dari pada anda hanya melihatnya dari sini, kenapa anda tidak menghampirinya saja" kata Jack memberikan sebuah saran.
"Apa itu bagus?"
"Saya rasa begitu, sepertinya dengan begitu anda memiliki kesempatan lebih besar untuk meraih hati nona Amanda"
"Apa maksutmu? Aku mencintai Amanda?"
"Sepertinya begitu, sekalipun mulut anda mengelak. Tapi mata anda tak bisa berbohong"
"Apa begitu?" kata Sky yang belum mengerti dengan perasaannya sendiri. Sejak awal ia sudah memutuskan untuk bertanggung jawab atas anak itu, tanpa memberi tahu Amanda ayah dari anaknya. Sedikit kejam memang, tapi jikalau harus memberi tahu yang sebenarnya, mungkin saat ini bukanlah waktu yang tepat.
Setelah nenimbang nimbang, Sky memutuskan joging dari arah berlawanan. Untuk apa? Tentu saja agar Amanda tidak curiga jika ia menguntitnya dari tadi.
"Hai" sapa Sky, membuyarkan lamunan Amanda.
"Tuan Sky" kata Amanda agak terkejut, setelah sadar dari lamunannya.
"Emm, Boleh saya duduk disamping anda, saya sangat lelah"
"Oh, silakan" jawab Amanda setelah mengambil tasnya, agar bisa diduduki.
"Ini, saya belum memakainya" kata Amanda lagi, menyerahkan handuknya, karena melihat Sky menghapus keringatnya dengan tangan.
"Èè, Terima kasih, saya akan menggantinya esok"
"Tidak perlu, saya punya handuk lain"
"Baiklah, bagai mana jika aku ganti dengan makan siang besok"
"Makan siang" bukannya tak mendengar perkataan Sky, atau minta diulang. Tapi makan siang dengan Sky, adalah hal yang diimpikan oleh orang orang. Tapi tak ada hujan tak ada angin, tiba tiba Sky menawarinya makan siang. Sungguh sulit dipercaya, bagaikan bintang yang hadir di siang bolong.
"Ya, makan siang. Emm, apa anda keberatan"
"Emm, tidak. Saya tidak keberatan"
"Terima kasih"
"Terima kasih?" ulang Amanda, kenapa jadi pria itu yang berterima kasih?
"Ee... Ya, terima kasih karena telah meminjamkan handuk ini" kata Sky, padahal didalam hatinya ia merutuki dirinya sendiri. Bagai mana bisa ia salah bicara begitu?
"Ohh, tidak masalah. Lagi pula aku tidak jadi joging"
"Kenapa?"
"Tidak, aku berubah pikiran" jawab Amanda seraya menggelengkan kepala pelan.
"Hari ini cuacanya sangat cerah, sangat pas untuk berjoging. Lagi pula itu juga baik untuk kandunganmu" kata Sky yang tak sadar, kelepasan bicara.
"Kandungan?" Amanda mengerutkan dahinya, bagai mana bisa dia tau soal ini.
"Emm..." Sky memikirkan kata kata yang tepat untuk Amanda. Jujur dalam hati ia merutuki kebodohannya, untuk yang kedua kalinya.
"Bagai mana anda bisa tahu saya sedang hamil?" tanya Amanda menatap lekat lekat wajah Sky.
"Emm... Dari dokter Diana, dia menanyakan padaku siapa pasanganmu. Katanya ia sangat penasaran" Jawab Sky dilebih lebihkan. "Mampus kau Sky, bagai mana jika dia tak percaya dan langsung menghubungi Diana. Tamatlah riwayatmu" kata Sky dalam hati.