One Night in Paris

One Night in Paris
Bab 24 - Milikku



Deg


Sky terdiam mendengar penuturan supir pribadi keluarga Jenner barusan. Apa itu artinya Amanda hilang? Tidak, Amanda tidak boleh hilang. Bukan karena esok adalah hari pernikahannya, dan dia akan menanggung malu. Tapi karena wanita itu membawa calon keturunan dan separuh jiwaku bersamanya.


Sky buru buru menghubungi nomor seseorang untuk melacak keberadaan Amanda. "Hallo, cepat cari tahu keberadaan Amanda, dan kabari aku secepatnya. Bawa Amanda dalam keadaan baik baik saja sebelum besok siang"


kata Sky dengan orang disebrang telfon.


"Emm, maaf tuan. Apa itu artinya nona Amanda hilang?" tanya supir itu hati hati, setelah Sky memutus panggilannya.


Sky beralih mentap supir itu setelah memasukkan handphonenya kesaku. "Aku minta padamu, tolong katakan pada om Arden kalau Amanda menginap di Apertemanku malam ini"


"Tapi..."


"Aku sudah menyuruh orang untuk melacak keberadaan Amanda. Dan akanku usahakan untuk membawa Amanda sebelum acara dimulai" kata Sky yang dijawab anggukan kepala.


...----------------...


"Lepaskan" teriak Amanda seraya meronta ronta.


"Diam" Gertak Andreas terus menarik Amanda menaiki tangga.


"Kau gila Andreas... Kau gila... Kau tau esok adalah hari pernikahanku, tapi kau malah menculikku. Kau benar benar tidak waras"


"Ya aku gila, aku gila karenamu. Dan kau tau? Aku tidak akan membiarkan satu orangpun memilikimu! Hanya aku yang boleh memilikimu" Andreas terus menarik Amanda masuk kesebuah kamar bernuansa hitam.


"Lepaskan! Kau tidak bisa menculikku begini"


"Tentu saja aku bisa honey, dan satu.... Aku tidak menculikmu honey, tapi aku haya mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku"


"Mimpi, apa kau tidak sadar juga? Kau tidak pantas untukku, dan lebih baik kau terima saja, aku adalah milik Sky Louis"


Plakkkk


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Amanda.


"Laki laki itu belum menikahimu, dan akanku pastikan... aku yang akan lebih dulu menikahimu" Andreas menghempaskan tubuh Amanda di ranjang dan tak lupa mengunci kamar.


"Andreas, buka pintunya" Amanda menggedor gedor pintu dan berusaha membukanya. Dan tentu saja hasilnya nihil, bukannya terbuka justru lelah sendiri.


"Anda ingin menikah tuan?"


"Kau tidak perlu banyak tanya. Lakukan saja apa yang kuperintahkan barusan. Aku mau dalam waktu dekat, aku bisa menikahi wanitaku"


"Baik tuan, sesuai perintah"


"Tunggu, satu lagi. Siapkan pakaian pengantin juga keamanan. Aku mau terima bersih, dan tidak ada kendala dihari pernikahanku"


"Beres tuan, ini terlalu mudah untukku"


"Hmm" Jawab Andreas singkat, hendak mengakhiri panggilan.


"Tunggu tuan"


"Apa?"


"Jangan lupa bayarannya"


"Tentu saja, kau tinggal sebutkan berapa upah yang kau inginkan. Aku akan mentransfernya jika pekerjaanmu berhasil"


"Kau meremehkan kemampuanku?"


"Tentu saja tidak, tapi aku takut kau akan meminta upah lagi setelah bayaranmu habis" kata Andreas yang membuatnya dan orang disebrang panggilan tertawa bersamaan.


"Tak akanku biarkan pria itu mendahuluiku honey" ucap Andreas tersenyum miring, setelah menekan ikon merah.


...----------------...


"Come on, angkat telfonnya Amanda" Sky terus menghubungi kontak Amanda seraya menyetir mobil. Terlihat jelas, gurat kecemasan menghiasi wajah tampannya.


Ditempat lain


"Jack, kenapa kau memalingkan wajahmu? Apa kau tidak rindu pada mommy" tanya Miranda pada putra semata wayangnya.


Jack tidak menjawab, dan tetap memalingkan wajahnya.


"Huffff, baiklah. Sekarang kau harus makan, sebelum kita kembali ke Lyon"