One Night in Paris

One Night in Paris
Bab 27 - Bandara



"Kenapa? Kenapa harus Jack Addhison. Apa tidak ada laki laki lain didunia ini? Sampai samapi hati dan pikianku selalu terbayang pria itu" teriak Sofie meremas rambutnya sendiri. Sakit memang, tapi tidak sesakit hatinya. Tak bisa dipungkiri, sekalipun ia menolak, hati kecilnya tak terima dan menginginkan pria itu.


Tok... Tok...


"ini aku, boleh aku masuk"


Sofie yang mendengar Belle mengetuk pintu, langsung menghapus buliran bening dipipinya, juga menata rambutnya.


"Iya"


Ceklek


"Aku mendengar kau berteriak tadi, apa ada sesuatu?"


"Tidak, tidak ada apapun"


"Aku tahu kau sedang memiliki masalah, katakan saja padaku. Ya, belum tentu aku bisa membantumu. Tapi setidaknya kau bisa membagi apa yang kau rasakan, dan perasaanmu lebih tenang"


"Aku..."


"Katakanlah Sofie, aku akan menjadi pendengar yang baik"


*


*


"Menurutmu apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Sofie setelah menceritakan semuamya.


"Untuk itu aku tidak bisa memberikan jawaban, semuanya bergantung pada dirimu sendiri. Bagai mana dengan hatimu? Apakah hati kecilmu menginginkannya atau tidak?" sebuah pertanyaan sepele, tapi sulit untuk dijawab, bahkan lebih sulit dari pertanyaan ujian PNS.


"Dengar Sofie, kalau kau mencintainya... Maka jangan bohongi hatimu. Karena kesempatan tidak datang untuk yang kedua kalinya. Jangan siakan kesempatan ini. Atau kau akan menyesal seumur hidupmu"


"Tapi... Bagai mana dengan anak ini? Apakah dia akan menerimanya?" tanya Sofie, sungguh ia tak pernah sebimbang ini sebelumnya.


"Kau tidak akan tahu jika kau tidak menanyakannya. Kau terlalu terburu buru, untuk menyimpulkan sesuatu. Siapa tahu dia mau menerima segala kekuranganmu?"


"Apa menurutmu lebih baik aku kembali dengannya?" tanya Sofie yang dijawab anggukan oleh Belle.


Sofie memutuskan untuk kembali pada Jack dan melupakan segalanya. Ya, karena siapa saja mungkin akan melakukan hal yang sama seperti Jack. Mungkin saja, Jack meninggalkannya waktu itu karena benar benar tidak ingin mengecewakan orang tuanya.


Sofie membuka kamar rawat nomor 26 di rumah sakit ini. Dan terlihat seorang perawat sedang membersihkan brankar, yang sebelumnya ditempati Jack Addhison.


"Permisi, pasien atas nama Jack Addhison yang dirawat diruang ini dimana? Apakah dipindahkan diruangan lain?"


"Pasien atas nama tuan Jack Addhison sudah keluar sejak tadi pagi nona"


"Emm baiklah, terima kasih" ucap Sofie dan mengulas senyim tipis.


"Apa dia di apertemen?" gumam Sofie pada dirinya sendiri.


...----------------...


Sekarang Sofie sedang berada di lift, ia sudah berusaha menghubungi nomor pria itu, dan lagi lagi hasilnya nihil.


Ting


Pintu lift terbuka, Sofie melangkahkan kakinya keluar, menuju ruang apertemen yang pernah ia tempati waktu itu. Kalau tidak salah nomor 467.


"Maaf, apakah pemilik apertemen ini masih tinggal?" tanya Sofie, melihat seorang petugas apertemen, baru saja keluar dari apertemen tersebut.


"Maaf, pemilik apertemen ini baru saja meninggalkannya. Apakah anda ingin membelinya?"


"Emm tidak" jawab Sofie cepat. Apakah aanda tahu, dimana pemiknya sekarang?"


"Saya tidak tahu, tapi tadi ada seseorang yang mengemasi barang barang dan menjatuhkan sebuah tiket pesawat"


"Tiket pesawat"


...----------------...


Setelah membayar taksi, Sofie buru buru turun dan masuk ke bandara Internasional. Meski tak yakin, kalau orang yang ia cari pergi kebandara ini. Tapi ini adalah bandara terbaik di kanada dan terdekat dari apertemen maupun rumah sakit Jack dirawat.


Sofie melangkahkan kakinya tak menentu, pandangannya sibuk mencari cari sosok pria berahang tegas itu.