
"Dari ciri ciri yang kau katakan, sepertinya mirip dengan wanita yang tengah terduduk lemas disamping wastafel" jawab wanita pirang, yang mengenakan midi dres berwarna biru muda.
"Apa kau yakin, wanita yang kau maksud itu persis seperti yang aku kata katakan tadi"
"Ya, tidak mungkin aku salah melihat. Dan wajahnya itu sangat mirip dengan model papan atas asal kanada itu. Siapa namanya? Kalau tidak salah mirip Amanda Jenner. Andai saja ia benar benar Amanda Jenner dan kau Axe Romano. Aku sangat beruntung jika itu benar, namun sayangnya itu tidak mungkin. Kalian hanya orang yang mirip dengan mereka" kat wanita itu panjang lebar.
Sedangkan Axe meminta izin petugas keamanan untuk menyusul Amanda. Permintaan Axe disetujui dengan syarat, petugas keamanan harus ikut memastikan juga.
"Man, Manda.... Lu denger gue" kata Axe yang menepuk nepuk pipi Amanda.
Suara Axe terdengar sangat pelan, bahkan hanya segelintir yang ia dengar, sisanya terbawa angin.
"Man.... Manda" Axe kembali penepuk pipi Amanda, untuk menyadarkan Amanda yang kini sudah pingsan.
"Pak tolong bantu saya, bawa teman saya ke lantai dua puluh sembilan, Kamar tiga ratus enam puluh sembilan" kata Axe pada penjaga keamanan.
Sedangkan Axe bergegas menemui Max dan Samuel yang sudah menunggu dari tadi.
"Kenapa Lama sekali? Dimana Amanda?" tanya Max.
"Maaf pak sudah membuat anda menunggu, Amanda pingsan, dan sedang dibawa kekamarnya" jawab Axe yang berusaha untuk tenang.
"Sam panggilkan dokter, aku tidak mau dia tidak bisa ikut Fashion show besok. Dia satu satunya peragawati yang kita bawa, tidak mungkin jika kita mencari gantinya dalam waktu yang sangat singkat"
"Baik tuan" jawab Samuel, dan mencari dokter terbaik dinegeri ini.
"Kau makanlah, setelah ini aku akan memberi beberapa arahan dan informasi agar besok berjalan dengan lancar" kata Max, yang jelas itu sebuah perintah.
Axe hanya bisa menurut akan perintah Max, kalau boleh jujur ia khawatir akan keadaan Amanda. Dan ingin menlihatnya, namun apalah daya, Max bukan tipe orang yang suka dibantah.
...----------------...
Amanda menatap kearah sekitar, ia melihat kamar hotel yang sebelumnya ia tempati. Entah sejak kapan ia disini.
Amanda menatap kearah pintu yang dibuka, terlihat Samuel datang bersama seorang wanita yang mengenakan jas putih khas dokter.
Dokter itu membantu Amanda yang hendak duduk, sedangkan Samuel menunggu disofa.
"Tidak perlu memeriksaku, aku baik baik saja, hanya masuk angin biasa" tolak Amanda saat melihat dokter dihadapannya mengeluarkan alat alat pemeriksaan dari kotak berwarna putih.
"Presdir yang menginginkannya, kau tidak bisa menolak. Lagi pula besok kau harus ikut Fashion Show, kau harus benar benar sehat besok" kata Samuel, walaupun itu benar, tapi tujuan utamanya mengatakan itu karena ia juga sangat khawatir akan keadaan Amanda.
Setelah serangkaian pemeriksaan, Dokter Diana menanyakan keluhan Amanda dan mencatatnya.
"Apa kau sering pusing dan mual setiap hari? Atau hanya pada saat tertentu"
"Seingatku aku mersakan pusing tadi sewaktu dipesawat, dan mual saat mencium bau spageti yang sangat menyengat"
"Menyengat? Aku tidak merasakan demikian, bau spageti itu seperti spageti biasanya, tidak menyengat sama sekali" Balas Samuel, karena tadi ia berada dimeja yang sama.
"Tidak tuan, itu memang biasa terjadi pada wanita yang tengah hamil muda" Balas dokter Diana tersenyum.
"Hamil" ulang Samuel, mencoba memastikan pendengarannya tidak salah.
"Iya, Kehamilan nyonya Amanda sudah memasuki tujuh minggu"
Jedarrr, bagai tersambar petir, Amanda memegang kepalanya yang terasa berdenyut, berusaha meyakinkan jika pemeriksaan dokter Diana salah.
"Saya akan memberikan vitamin untuk menguatkan kandungan, jangan lupa diminum tiga kali sehari" kata dokter Diana lagi menoleh kearah Amanda.
Setelah mengantarkan Dokter Diana sampai kedepan pintu, Samuel berbalik menemui Amanda.
Samuel duduk ditepi ranjang dekat Amanda, agar lebih nyaman dalam berkomunikasi.
"Katakan Man, siapa laki laki itu" Tanya Samuel menatap lekat lekat wajah Amanda yang terlihat pucat.
Amanda tak menjawab pertanyaan Samuel, hanya diam dan membisu dengan air mata yang nembasahi pipi.
"Man, Manda jawab jujur, gw tau lu bukan wanita murahan, tolong tatap Gue Man" kata Samuel menggoyangkan tubuh Amanda yang masih terduduk diranjang.
Amanda menatap manik biru Samuel, ada rasa gelisah dimata itu.
"Katakan siapa pelakunya" kata Samuel.
"Jawab gue, gue bakalan bantu cari pria itu"
Amanda yang mendengar ucapan Samuel langsung memeluk tubuh kekar dihadapannya.
"Menangislah Man, jika itu membuatmu lega. Aku berjanji akan membantumu, mencari pria itu" kata Samuel menenagkan Amanda. Padahal kalau boleh jujur, mengatakan hal barusan sama saja dengan mengiris hatinya sendiri. Sama seperti Axe yang diam diam menaruh hati pada Amanda, namun perbedaan keduanya terletak pada alasan. Jika Axe belum siap dan takut untuk ditolak. Maka Samuel, sedang menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.
Namun sepertinya, untuk selamaanya ia harus memendam rasa cintanya pada Amanda. Karena kenyataannya, wanita yang dicintainya tengah mengandung janin pria lain.
"Please Man, katakan siapa pria itu" tanya Samuel sekali lagi, dengan menenagkan Amanda.
Amanda melepaskan pelukannya dan menggelengkan kepalanya.
"Maksudmu.... Kau...."
Amanda menganggukkan kepalanya "Aku tidak tau.... Siapa orangnya" jawab Amanda dengan lemah.
"Aku berjanji akan mencari pria itu sampai dapat, dan memaksanya untuk bertanggung jawab" kata Samuel yang berusaha memberontak pada hatinya sendiri.
Amanda menggeleng samar, "Aku yakin pria itu bukan pria baik baik, aku tidak mau anakku dibesarkan pria seperti itu"
"Jika itu keputusanmu baiklah, Aku akan mendukung semua keputusanmu"
"Apa Andreas sudah mengetahuinya" tanya Samuel hati hati, tak ingin membuat Amanda tersinggung.
"Tidak, laki laki itu telah mengkhianatiku, dan dimalam itu aku hendak mempergokinya. Namun sayangnya aku salah kamar dan...."
Samuel mengelus pucuk kepala Amanda, tanpa dilanjutkan ia sudah bisa menebak kejadian selanjutnya.
"Lalu apa rencanamu berikutnya"
"Sementara aku akan merahasiakan kehamilanku, dari semua orang, termasuk orang tuaku sendiri" kata Amanda menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Apa kau yakin orang tuamu akan menerima ini"
"Entahlah aku tidak tau pasti, tapi yang jelas aku akan tetap membesarkan anak ini sekalipun orang tuaku menentangnya"
"Seperti yangku katakan tadi, apapun keinginanmu aku akan mendukungnya"
Samuel memeluk Amanda, berusaha memberikan kekuatan pada wanita itu. "Sungguh menyedihkan sekali nasibmu Manda. Sudah dikhianati, diperk0sa, dan hamil tanpa sosok suami yang mendampingimu. Aku tidak bisa membayangkan jika kau dan calon anakmu ditolak keluargamu. Kau tau manda, aku sangat mencintaimu, sangat.... Lebih dari cintaku pada diriku sendiri. Salahkah aku jika aku senang kau memutuskan untuk menjauh dari mantan kekasihmu dan tak mencari kebradaan pria yang telah menghamilimu?" ucap samuel dalam hati, dipelukan Amanda