
Amanda melangkahkan kakinya dikarpet merah yang ditaburi kelopak mawar. dipinggir karpet terdapat lilin lilin yang meneranginya. Dan entah dari mana asalnya, terdengar suara biola yang digesek, membuat suasana terkesan lebih romantis. Tapi entah kenapa pak Sky menyiapkan semua ini? Bukankah makan malam ini hanya sebagai permintaan maaf karena pak Sky sudah menumpahkan ice cream dibaju Amanda? Lalu kenapa harus ada semua ini?
Amanda melangkahkan kakinya bergantian, entah kenapa semakin lama semakin terasa berat. Bahkan debaran jantung ini semakin tak menentu.
"Pak Sky" kata Amanda yang melihat pria berambut pirang itu tengah duduk menunggu kehadirannya.
"Emm... Silahkan duduk" kata Sky setelah menarik kursi untuk Amanda.
Sky mengangkat tangannya menjentikkan jari sebagai kode. Tak lama setelah itu, beberapa orang pelayan datang membawa hidangan yang mungkin hanya akan dilihat direstoran bintang lima atau khusus orang menengah keatas.
Amanda menatap satu persatu hidangan, semua makanan ini tampak menggiurkan. Tapi ia tak bisa menahan diri untuk bertanya lebih lama lagi.
"Eee... silahkan dicoba. Emm maksut saya anda bisa menikmatinya. Emm..." Sky bingung sendiri dengan apa yang ia katakan. Seingatnya ia sudah menghafalkan setiap dialog dari Jack yang seharusnya ia ucapkan, tapi entah kenapa setelah bertemu langsung seolah otak Sky tiba tiba kosong dan lidahnya kaku.
"Maaf pak Sky, sebelumnya saya ingin bertanya. Sebenarnya untuk apa semua ini. Saya rasa semua ini terlalu berlebihan untuk mengganti kaos saya terkena noda ice cream tadi siang" tanya Amanda, jujur ia sendiri takut akan semua kebaikan Sky. Ia takut jika nantinya ia menaruh harapan yang lebih tinggi, namun Sky melakukan semua ini hanya karena semata mata kasihan padanya.
Sky menarik napas dalam sebelum mengutarakan tujuannya, jujur ini tidak semudah yang ia bayangkan, dan mungkin dialog yang susah payah Jack buat tidak akan berguna.
"Miss, jujur saya ingin mengatakannya setelah acara makan malam usai. Tapi sepertinya saya akan mengatakannya sekarang" kata Sky setelah meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring. Sky kembali menarik napasnya dalam. Dan Amanda menunggu pengakuan dari sosok tampan dihadapannya dengan jantung yang terus berdebar, dan berusaha memekakan telinganya.
"Miss sebenarnya saya...."
...----------------...
Paris, 12.15 PM
Amanda kini tengah duduk dikursi penumpang, seperti perjanjian kemarin hari ini ada janji makan siang dengan pak Sky disalah satu restorant ternama di Prancis.
Diluar jendela nampak bangunan bangunan yang berdiri kukuh dan menjulang tinggi nan megah. Tapi pikirannya melayang jauh.
"Miss sebenarnya... saya..... menaruh hati pada anda"
"Emm... Saya tau ini terlalu cepat. tapi perasaan saya tidak mungkin salah. Saya... Selalu memikirkan anda, ingin didekat anda, dan... Saya ingin anda menjadi milik saya"
"Eee... tidak masalah jika anda tidak ingin menjawab sekarang, anda bisa memikirkannya, saya akan menunggu."
"Besok kita ada janji makan siang di Restorant XXXXX anda bisa mengatakannya esok"
Kata kata itu, kata kata yang membuat Amanda tak bisa tidur nyenyak tadi malam. Bahkan karena kata kata itu, ia harus mengulang beberapa dialog, karena tidak fokus.
Amanda menatap keluar jendela, taksi yang ia tumpangi melaju semakin dekat dengan tempat yang dituju. Tapi ia sendiri belum memiliki jawaban yang Sky tunggu. Jujur ia sendiri bingung akan perasaannya, cinta atau kagum. Dua kata itu yang selalu ia pertimbangkan.
Sebagai orang yang pernah dikhianati ia juga takut kejadian sebelumnya terulang lagi. Bukan tidak mungkin jika ia Pak Sky seorang pengusaha kaya raya yang perusahaannya sudah berdiri dengan kukuh diberbagai belahan dunia bisa berpaling darinya.
Dan tiba tiba saja suara dering Handphone membuyarkan lamunannya. "Daddy" kata Amanda sebelum mengangkat panggilan suara dari Daddynya.
"What, Realy?"
entah apa yang dikatakan orang disebrang panggilan, tapi yang jelas ekspresi wajah Amanda tampak sangat panik.
"Okay, aku akan segera kembali" kata Amanda sebelum memutus panggilan suara.
"Maaf pak, tolong putar balik" kata Amanda yang masih terlihat panik.
...Ditempat lain...
Sky menatap arlojinya, seharusnya Amanda sudah datang. Tapi entah kenapa wanita cantik dengan manik hazelnya, belum menampakkan diri.
"Mungkin sebentar lagi" kata Sky seraya mengetuk ngetuk meja dengan jarinya untuk sekadar menghilangkan kejenuhannya.
...Ditempat lain...
Sesampainya di Aperteman amanda langsung menyambar koper dan memasukkan semua barang barangnya. Saat ini ia benar benar terburu buru, bahkan ia hanya bisa mengirimkan permohonan izin cutinya lewat e-mail. Tanpa menunggu respon dari pihak perusahaan, ia menarik koper besarnya menuju lift.
Dibawah sudah ada Taksi yang menunggunya, bahkan ia juga sudah memesan tiket penerbangan ke Ottawa, Kanada lewat sebuah aplikasi.
Supir membantu amanda memasukkan dua kopernya kedalam taksi, sebelum melaju ke bandara. "Maafkan saya Pak Sky, saya janji akan segera memberikan jawaban setelah semuanya baik baik saja" kata Amanda setelah taksi melaju meninggalkan area Aperteman.
...RESTORAN XXXXX...
Dilantai dua tampak seorang pria yang masih setia menunggu disalah satu kursi. Disini tampak sepi, tak ada pengunjung lain selain dirinya. Tidak, bukan karena tidak laku, tapi karena Sky telah membuking seluruh lantai dua di restorant ternama ini. Ia tak ingin momen yang tak akan pernah terlupakan ini terganggu oleh berbagai insiden yang tak diinginkan.
Sky kembali menatap Arlojinya, sudah satu jam ia menunggu, tapi yang ditunggu tak kunjung datang juga. Bahkan ia tak bisa menyembunyikan keresahan dihatinya.
"Apa terjadi sesuatu dengannya? Atau... Dia belum memiliki jawaban, atau jangan jangan dia tak enak hati untuk menolakku dan memutuskan untuk tidak menemuiku" Sky terus berperang dengan kemungkinan kemungkinan yang ada dikepalanya. Jujur menunggu tanpa adanya kepastian, sangat melelahkan.
"Maaf tuan, kapan kita bisa memulai musiknya" tanya salah seorang musisi yang sengaja ia sewa untuk mengiringi makan siang romantisnya.
"Emm... Maaf, mungkin sebentar lagi"
Sky meraih Handphonenya dari saku celana, ia mencari cari nomor Amanda dikontak. "Astaga aku lupa, aku bahkan tidak memiliki kontaknya"
"Jack" kata Sky setelah panggilan suara muncul dilayar Handphonenya.
"Hallo Jack, tolong betikan aku kontak Amanda. Entah kenapa dia tak kunjung datang. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya" kata Sky mendahului Jack.
"Maaf tuan, dari informasi yang saya dapatkan dari pihak HRD. Miss Amanda telah mengajukan permohonan izin cuti beberapa saat yang lalu"
"Apa" kata Sky bukan bermaksut ingin mendengar ulang apa yang Jack katakan barusan, tapi ia begitu terkejut. Mengapa juga Amanda tiba tiba kembali ke Kanada? Apakah sebegitunya ia ingin menjauh dari Sky? Apa Amanda begitu muak akan semua perhatian Sky, sehingga memutuskan untuk menjauh sementara waktu?