One Night in Paris

One Night in Paris
Bab 10 - Kacau



Andreas yang masih mengenakan piama pendek berwarna biru, membuka pintu lebar lebar.


Terlihat seorang wanita mengenakan Midi Dres berwarna kuning, dihadapannya.


"Kau... Mau apa kau kembali lagi? Belum puas kau diusir? Atau mau diusir lagi?"


"Kau jahat Andreas, kau benar benar tak punya hati" kata Belle, memukul mukul dada Bidang Andreas.


"Sudah... Kau mengganggu pagi ku" kata Andrease mencengkram kuat kuat tangan Belle sesaat, dan menghempaskannya dengan kasar.


"Lebih baik kau pergi, sebelum aku menyeretmu seperti binatang"


"Aku tidak akan pergi sebelum kau bertanggung jawab, kau harus menikahiku, karena aku tengah hamil anakmu"


'Plakkk' satu tamparan keras mendarat dipipi Belle. Sehingga pipi mulus Belle bersemu merah.


"Menikahimu? Apa kau gila? Aku hanya cinta pada Amanda, dan hanya Amanda yang akan kunikahi." kata Andreas mencengkram dagu Belle.


"Kau dengar itu? Jadi lebih kau pergi sebelum aku benar benar marah" kata Andreas lagi setelah melepaskan cengkramannya.


"Kau yang gila! Kau yang menghamiliku, tapi kau tidak mau bertanggung jawab! Apa kau tidak memikirkan nasip anakmu"


"Salah siapa kau hamil? Lagi pula aku sudah membayar uang sewa tubuhmu"


"Kau... " Belle tak bisa melanjutkan kata katanya, ucapan Andreas bukan hanya pedas, tapi juga menusuk hatinya.


"Cepat kau pergi dari hadapanku, sebelum aku benar benar membuktiakan perkataanku" Kata Andreas, dan Belle hanya bisa meninggalkan kediaman Bieber setelah menghapus kasar air mata yang membasahi wajahnya. Karena ia tau, Andreas akan benar benar membuktikan perkataannya jika ia tak segera pergi.


Sarah, yang sudah selesai membereskan kamar tuannya hendak beranjak pergi.Tapi langkahnya terhenti kala menatap figura disamping tempat tidur.


Kalau diperhatikan, kamar ini banyak terdapat foto Amanda. Tapi entah kenapa tuannya sangat hobi berselingkuh, bahkan menghamili anak orang. Entahlah, tak ada yang mengerti dengan jalan pikiran Andreas.


"Sarah" teriak Andreas dari lantai bawah, yang membuat Sarah kepala ART dirumah ini segera meletakkan figura yang sempat ia pegang dan buru buru menghampiri tuannya.


Jikalau dihitung hitung, sarah adalah ART paling hebat. Ya, bagai mana tidak? ART lain hanya bertahan paling lama 7 bulan, karena selalu tertekan.


"Ada apa tuan" tanya sarah setelah bertemu dengan majikannya.


"Ada apa? Apa kau tidak lihat? Meja makan kosong? Apa kau belum masak? Apa saja pekerjaanmu? Aku tidak membayarmu untuk bermalas malasan!"


"Maaf tuan, saya sudah masak, saya akan menghidangkannya tuan" kata sarah, buru buru kedapur.


"Ini tuan" kata Sara setelah menghidangkan Beberapa menu makanan diatas meja.


"Apa ini? Apa kau pikir aku kambing dari padang rumput" kata Andreas setelah menggebrak meja, karena semua menu makanan yang terhidang diatas meja berbahan dasar sayur hijau.


"Maaf tuan, tapi saya hanya melaksanankan perintah tuan Austin"


"Daddyku diluar negeri, lagi pula dia tidak akan tahu kan"


"Tapi tuan, catatan terakhir pemirksaan tuan, tuan kurang akan sayur, buah buhan, dan vitamin"


"Kalau begitu bereskan ini semua, dan tak perlu memasak lagi untukku. Mulai sekarang aku makan diluar" kata Andreas, sebelum menaiki anak tangga.


Sarah yang sudah terbiasa hanya bisa mengelus dadanya, berkerja disini memang tak mudah, tapi dengan gaji yang terbilang lumayan ia harus bertahan.


Lalu lintas masih padat, beruntung Sofie tak terlambat. Sofie menatap arloji ditangannya, jarum arloji menunjuk Pukul sembilan tepat.


"Nyonya Sofie Jenner" panggil seorang perawat. Sofie yang mendengarnya buru buru melangkahkan kakinya, "Saya Suster" kata Sofie setelah berada dihadapan suster itu.


"Dokter Anna sudah menunggu anda didalam"


"Duduklah" kata dokter Anna, setelah Sofie menunjukkan keberadaannya.


"Berdasarkan hasil lab minggu lalu, Berat badan janin lebih kecil dari kebanyakan janin lainnya. Bahkan pertambahan berat badannya bisa dibilang cukup sedikit" kata dokter Anna.


"Apa itu menjadi masalah"


"Ya, bahkan jika terus terusan seperti ini, janin akan gagal berkembang. Dan resiko yang lebih buruk lagi, anda akan kehilangan janin didalam kandungan anda"


"Lalu apa yang harus saya lakukan"


"Mudah saja, anda hanya perlu mengurangi stres, mengontrol emosi, jangan berpikir yang berat berat, dan konsumsi makanan minuman yang bernutrisi, seperti susu" kata dokter Anna yang dijawab anggukan oleh Sofie.


"Minum vitamin ini tiga kali sehari. Dan kalau bisa mintalah pasanganmu untuk selalu berada disisimu" kata dokter Anna yang sepertinya belum tahu, kalau penyanyi tanah air didepannya belum memiliki suami.


Sofie melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Saat ini pikirannya benar benar kacau, ditambah dengan informasi mengenai janinnya. Ia yang tidak fokus, tak sengaja menabrak seorang wanita yang mengenakan midi dres berwarna kuning.


"Maaf maaf, saya sedang terburu buru" kata wanita itu yang sudah berlinang air mata. Padahal yang menabrak adalah Sofie, kenapa dia yang meminta maaf.


Sofie menggelengkan kepalanya dan hendak melangkahkan kakinya kembali. Langkah Sofie terurungkan kala melihat sebuah Handphone jatuh didekatnya.


"Ini bukan milikku, apa ini milik wanita itu" karena merasa ini kesalahannya, ia mencari wanita barusan, untuk mengembalikan Handponenya yang jatuh.


"Tidak, jangan pindahkan ibuku, Ibuku masih hidup" kata seorang wanita menahan para perawat mendorong brankar seorang wanita paruh baya ke ruang mayat.


"Maaf nona, tapi pasien sudah tak bernyawa"


kata seorang perawat.


"Tidak, ibuku masih hidup. kumohon lakukan apapun agar ibuku mau membuka matanya. Aku telah mengecewakannya" kata wanita itu menangis sejadi jadinya.


"Maaf nona, ibu anda sudah tidak bernyawa. Dan kami diperintahkan untuk membawa mayat pasien keruang mayat. Jadi tolong jangan halangi kami. Kalau tidak kami terpaksa memanggil petugas keamanan" kata perawat lain membujuk.


"Tidak, jangan bawa ibuku. Ibuku masih hidup" kata wanita itu karena dua perawat tadi membawa mayat wanita paruh baya tadi keruang mayat, sedangkan dirinya dihadang oleh petugas keamanan.


"Lepaskan dia pak" kata Sofie mendekat.


"Apa kau mengenalnya" tanya petugas keamanan.


"Ya saya mengenalnya, tolong lepaskan dia"


"Siapa kau" kata wanita itu setelah petugas keamanan barusan pergi.


"Aku Sofie Jenner"


"Sofie Jenner" bukan tak mendengar perkataan Sofie atau ingin minta diulang. Tapi wanita ini ingin memastikan, seperti pernah mendengar nama ini.


"Ayo, lebih baik kita bicara disana" kata Sofie, menunjuk kursi tunggu besi didepan sebuah ruangan.