
Ceklek
Terdengar suara pintu terbuka, dan Amana yang tadinya sedang memeluk kedua lututnya kini menoleh kesumber suara.
"Good Night honey" sapa Andreas dengan membawakan sebuah nampan.
"Kau"
"Aku membawakan makan malam untukmu" Andreas meletakkan nampan itu meja disamping ranjang, lalu duduk disebelah Amanda.
"Mau aku suapi" tanya Andreas mengarahkan sebuah sendok kemulut Amanda. Bukannya membuka mulutnya, Amanda justru menipis piring dan sendok ditangan Andreas, hingga ranjang beserta kaos putih Andreas terkena noda.
"Amanda.. Kau..."
"Apa? Kau tidak terima?"
"Apa maumu Amanda" tanya Andreas setelah melempar piring itu keembok.
"Kau masih bertanya? Mauku hanya satu, lepaskan aku Andreas! Esok aku akan menikah"
"Justru aku membawamu kesini untuk menggagalkan pernikahan itu"
Plakkk
Andreas memegangi pipinya yang bersemu merah ankembali menatap Amanda dengan tajam.
Setelah apa yang kau lakukan, kau masih punya muka untuk mengatakan itu? Cih, memalukan! Aku mahkan muak melihatmu"
"Terserah apa yang kau kataksn Amanda, tapi esok bukanlah hari prnikahanmu dengan pria itu, melainkan denganku"
"Apa kau pikir aku sudi menikah dengan laki laki sepertimu?"
"Aku tidak menanyakan jawabanmu honey. Tapi yang jelas, mau tidak mau, suka tidak suka, kau akan tetap menjadi milikku, dan hanya aku yang boleh memilikimu.
"Aku jahat karena mencintaimu Amanda, anadai kau tidak memutuskan hubungan kita dan menjalin kasih dengan pria lain, maka hal ini tidak akan terjadi. Semestinya kita akan menikah dengan suasana bahagia dan meriah"
"Apa aku tidak salah dengar? Kau menyalahkanku? Jelas jelas kau yang mengkhianatiku dengan banyak wanita? Dan apa maksudmu mengejarku kembali? Tidak bisakah kau melihatku bahagia"
"Aku ingin kau bahagia Amanda, bahagia disisiku. Dan soal wanita wanita itu, aku suah membayar mereka, jadi tidak perlu ada yang perlu dicemaskan. Lagi pula aku hanya mencintaimu, aku hanya menjadikan mereka simpanan. Ya, setidaknya sampai aku bisa menidurimu"
"Apa? Bahagia disisimu? Justru aku akan menderita, dan aku tidak akan membiarkan anak anakku mempunyai seorang daddy sepertimu. Dan satu, aku tidak sudi kau tiduri" gertak Amanda menunjuk kearah Andreas.
Andreas menurunkan jari Amanda yang menunjuk kearahnya. "Baiklah, kita lihat saja. Apa kau mampu menahan diri, dari pesonaku?"
"Cih, kau sangat sombong sekali"
"Tentu saja, siapa yang sanggup menolak pesonaku? Bahkan adikmu sendiri tidak bisa"
"Apa maksudmu? Jangan katakan kalau...
...----------------...
"Ada apa denganmu?" tanya Belle saat melihat Sofie kembali dengan air mata yang membanjiri pipinya. Bahkan matanya sampai sembab dan merah.
Sofie tak menjawab, dan hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Katakan saja, aku siap menjadi pendengar yang baik untukmu"
"Tidak, aku lelah. Aku ingin istirahat dikamar" jawab Sofie sebelum beranjak dari haapan Belle.
"Ada apa dengan dia? Apa dia sedang ada masalah? Sayangnya aku tidak bisa memaksanya untuk menceritakan permasalahannya" gumam Belle dan lebih memilih melanjutkan menonton drakor berjudul Love You R kesukaannya. Karena percuma saja ia menannyakannya kembali. Mungkin anak itu butuh istihat dan tak ingin diganggu.
Sementara dikamar, Sofie meletakkan tasnya diatas meja rias dan menatap wajahnya dipantulan cermin. Kenapa begitu banyak masalah yang menimpanya. Apakah dirinya tidak layak untuk bahagia? Apakah tuhan masih ingin menguji kesabaannya? Tapi rasanya ia sudah tidak kuat menjalani semua ini sendirian, tanpa ada sosok yang bisa ia bagi kesedihannya.